
Satu minggu telah berlalu dari waktu Yudha melamar Aira di sebuah restoran. Saat ini dia ingin melamar secara resmi.
Keluarga Aira sedang disibukkan oleh acara yang akan berlangsung hari ini. Dari dua hari lalu, kedua orang tua Aira sudah repot karena menyiapkan acara pertunangan Aira dan Yudha. Begitu pula dengan Aira sendiri, dia juga sibuk menyiapkan diri serta kebutuhannya sendiri bersama Yudha. Aira bahkan membeli pakaian pasangan yang akan dia pakai untuk acara pertunangannya hari ini bersama Yudha. Semuanya dia lakukan bersama calon suaminya.
Aira tersipu malu hanya karena mengingat bahwa dirinya akan menjadi istrinya Yudha. Dengan adanya acara hari ini, sudah jelas kalau mereka akan lanjut ke jenjang berikutnya. Keseriusan Yudha membuat Aira jadi semakin tidak canggung lagi untuk mengatakan kepada orang-orang bahwa Yudha adalah calon suaminya. Terlebih lagi, Yudha juga mendukung hal itu.
Suara orang di depan rumah yang memanggil-manggil nama Susanti membuat Susanti bergegas ke depan, ternyata itu adalah pihak tetangga yang mengantarkan makanan pesanan. Benar sekali, pihak keluarga memilih katering untuk menjamu calon besan.
Rumah Refdi benar-benar sedang ramai oleh orang-orang. Ada yang masih memasang dekorasi, dan yang lain sebagainya lagi. Begitu pula Aira yang ada di dalam kamarnya. Gadis itu diminta istirahat oleh Susanti agar tidak tegang saat prosesi lamaran berlangsung nanti.
Tak lama, tukang rias juga datang. Itu artinya, Aira akan dirias sebentar lagi. Di saat yang bersamaan, orang-orang yang memasang dekorasi untuk acara pertunangan pun telah selesai. Hingga akhirnya, kini hanya menunggu Aira selesai dirias dan pihak keluarga lanjut bersiap-siap.
Jefri melihat semua yang terjadi di rumah Refdi hari ini. Dia tahu, kalau yang akan datang buat melamar Aira itu adalah Yudha, putranya sendiri.
Namun di sini, Jefri merasa sedih, karena seharusnya dia yang menemani anaknya itu melamar gadis pujaan jika masih bersama Manda.
Padahal dulu Jefri juga pernah membayangkan kalau nantinya Yudha melamar seorang gadis, Jefri akan menemani putranya dengan pakaian yang bisa membuatnya tampil lebih gagah lagi. Namun apa kenyataannya, sekarang dirinya cacat dan tidak bisa lagi bersikap gagah seperti dulu.
Di lain tempat, tepatnya di rumah Yudha. Mami Manda sudah bersiap-siap. Perempuan paruh baya itu pun tidak mau kalah cantik, dia juga menyewa penata rias untuk mempercantik penampilannya.
Tak lupa dengan Yudha, dia berulang kali menata rambutnya pakai gel rambut agar terlihat tampan dan rapi tapi tidak berlebihan. Yudha ingin terlihat berbeda hari ini di depan semua orang, terutama di depan Aira.
"Yudha! Kamu sudah selesai?" tanya Mami Manda dari luar kamar.
__ADS_1
Yudha seketika menoleh ke arah pintu kamarnya, tak lama pintu itu terbuka. Dapat Yudha lihat, perempuan paruh baya yang sangat dia cintai itu perlahan menghampirinya dengan sebuah senyuman cantik di wajah tuanya.
"Anak Mami ganteng banget," puji Mami Manda kepada Yudha.
Yudha tersenyum, "Mami juga cantik banget," balasnya membuat Mami Manda ikut tersipu malu dipuji cantik oleh putranya sendiri.
Biasanya Mami Manda akan mengacak-acak rambut Yudha guna mengekspresikan rasa sayangnya, tapi kali ini tidak bisa karena Yudha sudah mengenakan gel rambut dan menata rambutnya dengan sedemikian apik. Mami Manda hanya menepuk bahu Yudha dan mengajaknya keluar.
"Kita akan berangkat sekarang. Jangan sampai keluarga Aira menunggu terlalu lama," kata Mami Manda yang juga diangguki oleh Yudha. Manda bahagia karena anaknya akan menikah dengan gadis sebaik Aira.
Mami Manda dan Yudha sudah keluar rumah. Mereka membawa barang-barang seperlunya untuk calon besan. Tentunya nanti akan dibantu oleh sopir buat menurunkannya.
Selama di perjalanan, Yudha terus menggenggam erat tangan Mami Manda. Perempuan paruh baya itu meyakinkan putranya kalau ini memang jalan terbaik buat Yudha.
"Iya, Mi." Hanya ini yang bisa Yudha katakan.
Tidak dapat Yudha pungkiri, kalau ini lebih mendebarkan dari acara lamaran yang dia lakukan secara mandiri saat mengajak Aira ke restoran satu minggu yang lalu.
Memang, setelah Yudha melamar Aira di restoran kala itu dan akhirnya diterima, Yudha dan Aira akhirnya sepakat untuk melangkah ke jenjang berikutnya. Aira juga mengatakan kalau perempuan itu siap menjalani kehidupan bersama Yudha selama sisa hidupnya.
Yudha tersenyum setiap kali mengingat hari itu. Kenangan manis yang Yudha rasakan bersama Aira selalu melekat di hati dan jika diingat, akan membuat Yudha selalu bahagia.
Mami Manda pun senang melihat putranya bahagia dengan pilihannya. Perempuan paruh baya itu berharap, semuanya akan berjalan dengan baik-baik saja dan tidak ada hambatan apa pun.
__ADS_1
Mobil yang dikendarai oleh sopir, akhirnya tiba di pelataran rumah Refdi. Mereka semua turun, termasuk sang sopir. Untungnya barang bawaan mereka tidak terlalu banyak, tapi cukup lengkap.
Mami Manda dan Yudha disambut oleh Refdi dan Susanti di depan rumah. Keluarga Aira juga mempersilakan keluarga Yudha masuk ke dalam rumah. Namun, saat sampai di dalam, Mami Manda dan Yudha sedikit kaget ketika mereka melihat Jefri ada di sana. Sejak pulang dari rumah sakit, Manda tidak pernah bertemu Jefri lagi.
"Kamu tinggal di sini sekarang, Mas?" tanya Manda.
"Iya. Hanya ini keluarga yang aku miliki," jawab Jefri. Manda dan Jefri mengobrol sekadarnya.
Papa-nya Aira, Refdi menghampiri Manda yang telah duduk.
"Tadi Jefri memohon kalau dia ingin turut hadir dan menyaksikan lamaran Yudha dan Aira. Jadi kami rasa, tidak apa-apa." Refdi kembali bicara karena Mami Manda dan Yudha sama-sama diam.
Mami Manda langsung mengalihkan pandangannya ke arah Susanti. Perempuan paruh baya itu memaksakan senyumnya kepada calon besannya.
"Oh begitu, ya sudah tidak apa-apa. Jefri juga Papi-nya Yudha," kata Mami Manda sambil tersenyum. "Mari kita lanjutkan." Mami Manda ingin acara lamaran ini segera dilangsungkan dengan cepat dan supaya bisa secepatnya selesai karena dia enggan berlama-lama melihat wajah Jefri.
Yudha pun segera duduk di samping maminya. Tanpa mengulur waktu lagi, Mami Manda pun segera mengucapkan niatnya yang datang ke sini untuk melamar Aira secara resmi dan akan dijadikan menantu di rumahnya nanti sebagai istrinya Yudha.
Refdi juga menerima lamaran Yudha. Menurutnya setelah banyak pertimbangan beberapa hari ke belakang, Yudha juga laki-laki baik yang bisa bertanggung jawab. Terlihat dari sikapnya selama ini.
Yudha dan Aira akhirnya bertukar cincin. Mereka resmi bertunangan di hari ini. Bahkan tanggal pernikahan juga sudah ditentukan oleh kedua belah pihak. Antara Yudha dan Aira juga bahagia, hubungan mereka memiliki ujung yang pasti. Pernikahan yang mereka idam-idamkan akan mereka rancang mulai hari ini.
"Untuk urusan persiapan pernikahan, pihak keluarga tidak perlu khawatir. Kami akan menyiapkannya dengan sebaik mungkin," kata Mami Manda dengan begitu tulus dan ramah kepada keluarga Aira.
__ADS_1
...****************...