
Jefri tidak terima dirinya dibentak-bentak oleh Yudha seperti ini. Senyuman di wajahnya seketika hilang, Jefri pun ikut mengganti posisi berdirinya jadi lebih tegap.
"Ya terus hubungannya sama Papi apa, kalau Lani sakit? Memangnya dia sakit karena Papi yang bikin? Enggak 'kan?" Jefri tak mau kalah, dia balas membentak Yudha dengan nada kencang.
"Ya Papi harus tanggung jawab dong! Papi harus ada di samping Lani saat dia sakit. Jangan main enaknya saja. Pas Lani masih sehat, Papi mengaku-ngakui dia sebagai kekasih Papi. Terus sekarang Papi membuang Lani begitu saja waktu Papi tahu dia sakit? Papi tega tahu nggak!"
Ruang kerja Jefri malam ini berubah jadi panas karena hawa kemarahan yang terpancar dari Yudha dan Jefri. Emosi mereka bercampur, menyatu menjadi satu. Jefri yang tadinya memakai kemeja pendek pun, jadi merasa gerah. Padahal berlengan pendek dan AC di ruang kerjanya juga menyala.
Jika tadi yang lebih emosi itu Yudha, berbeda dengan sekarang. Jefri juga ikut emosi tingkat tinggi karena putranya kembali membahas-bahas mengenai Lani.
"Untuk apa Papi tanggung jawab? Sudah Papi katakan kalau itu bukan kesalahan Papi! Bukan Papi yang menyebabkan Lani jadi sakit."
Yudha membalikkan badannya, dia meremas rambutnya dan berteriak kencang di sana. Semua itu Yudha lakukan guna melampiaskan rasa marahnya karena Yudha masih menahan dirinya supaya tidak melayangkan tinjunya ke wajah Jefri.
"Papi itu kemarin pacarnya Lani, jadi Papi harus ada di saat Lani sakit. Dia baru saja selesai dioperasi, Pi. Jadi Papi harus ada di samping Lani kapanpun dan di manapun. Jangan hanya di saat Papi sedang membutuhkan teman ranjang saja!" teriak Yudha kepada Jefri. "Masa kayak gitu juga harus diajarin sih, Pi?" lanjutnya.
Jefri menggebrak meja kerjanya sambil membelakangi Yudha. Matanya menatap nyalang ke arah kursi kerjanya. Lelaki paruh baya itu kembali membalikkan tubuhnya ke arah Yudha.
__ADS_1
"Buat apa Papi menemani dia? Papi tidak mau memiliki kekasih sakit-sakitan kayak dia, yang Papi cari itu perempuan muda yang cantik dan seksi serta sehat. Perempuan yang bisa menjadi memanjakan Papi, melayani hasrat kelelakiannya Papi dan perempuan yang bisa memuaskan mata Papi dengan kecantikan wajah dan kemolekan tubuhnya," kata Jefri tanpa beban. "Bukan perempuan sakit-sakitan kayak Lani seperti itu! Dia hanya bisa bikin Papi susah nantinya. Harusnya Papi yang dilayani, dimanja-manja. Bukan Papi yang harus melayani dan menyiapkan segala kebutuhan dia!" Jefri mengatakan semua yang ada di dalam benaknya.
Yudha hampir tidak percaya kalau barusan dia mendengar itu dari mulut lelaki yang dia panggil papi. Laki-laki yang selama ini Yudha banggakan dari kecil dan Yudha jadikan panutan, ternyata tidak sebaik itu dalam melihat perempuan. Jefri sangat merendahkan dan menatap remeh perempuan, seolah-olah perempuan tidak bisa apa-apa tanpa dirinya.
Yudha salah menduga. Dia kira, papinya adalah laki-laki yang bisa diandalkan dan bisa menjadi payung bagi semua yang bergantung kepadanya. Sayangnya, semua itu salah kaprah. Jefri bukan laki-laki seperti itu.
"Sekarang Lani sakit, berarti dia tidak bisa menyenangkan Papi dong? Lalu untuk apa Papi memacari dia?" Jefri mengedikkan bahunya seraya mengangkat kedua tangannya ke depan dadanya. Jefri bersikap seolah-olah kalau dia tidak pernah berhubungan dengan Lani.
Suara gemelutuk dari giginya Yudha terdengar. Lelaki itu masih menahan segala amarahnya. Kalau saja membunuh tidak dosa, akan Yudha tusuk kerongkongan papinya dengan pipa sekarang juga sampai tembus ke ususnya.
"Papi masa mau enaknya saja? Papi sudah sering meminta Lani untuk memuaskan hasratnya Papi di ranjang, terus sekarang Papi lupa kalau Papi pernah dibikin Lani melayang?"
Kaki Yudha menendang tong sampah yang tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Hingga seluruh sampah kertas yang ada di dalamnya jadi berhamburan keluar semua.
"Papi tega ngomong begitu sama perempuan yang pernah jadi pacar Papi! Memang dasarnya Papi itu laki-laki tidak bertanggung jawab! Aku nyesel karena dulu pernah mengidolakan Papi sebagai laki-laki dan menganggap Papi itu segalanya. Aku nyesel karena waktu kecil, aku pernah berpikir untuk mengikut jejak Papi!" Yudha mencak-mencak di sana. Dia emosi tak keruan karena perkataan papinya sendiri.
Jefri mendekati putranya, dia menatap Yudha lama dan dalam. Yudha jadi bingung. Apa yang akan dilakukan oleh papinya kepadanya.
__ADS_1
"Kamu juga sama dengan Papi. Kamu meninggalkan Lani saat ini," ucap Papi dengan entengnya.
Yudha tidak terima dirinya disamakan oleh papinya. Dia mengelak dalam hati. Yudha juga berjanji kalau dia tidak akan pernah menjadi seperti papinya suatu hari nanti.
"Atau jangan-jangan, kamu marah seperti ini kepada Papi, karena kamu masih menyimpan rasa untuk Lani? Kamu masih mencintainya? Kamu ingin menjadi kekasihnya lagi tapi Lani tidak mau karena dia tahu bahwa kamu belum bisa mendapatkan uang sendiri?" Jefri memicingkan matanya, dia mengira kemarahan Yudha kali ini memang karena Yudha masih mengharapkan Lani menjadi kekasihnya.
Yudha tersenyum sinis menertawakan papinya yang menurut Yudha itu lucu. Jefri pun tidak mengerti arti tawa Yudha kali ini. Dia masih menunggu apa yang akan Yudha katakan setelahnya.
"Papi itu lucu, bagaimana mungkin aku masih menyukai dan mengharapkan perempuan yang pernah menjadi simpanan dan teman ranjangnya Papi?" kekeh Yudha.
"Bilang saja kalau kamu masih menyukai Lani." Jefri pun tidak mau kalah, dia masih dengan asumsinya yang mengira bahwa Yudha masih mengharapkan Lani.
Kemarahan Yudha yang awalnya tadi sudah mereda, kini jadi semakin menjadi-jadi karena papinya yang mengira dia masih memiliki rasa untuk Lani. Padahal kenyataannya, di hati Yudha sekarang itu hanya ada Aira, bukan Lani.
"Kamu bisa kembali dengan Lani, sekarang dia sudah tidak menjadi pacarnya Papi. Kalian bisa menjalin hubungan lagi," kata Jefri.
Satu pukulan dari tangan Yudha, melayang ke wajah Jefri. Yudha marah besar karena ini. Apabila tadi dia masih bisa menahan, tapi tidak dengan kali ini. Yudha benar-benar sudah tidak bisa menahan kemarahannya lagi kepada papinya.
__ADS_1
Yudha melampiaskan kekesalan itu agar papinya tahu bahwa Yudha sudah tidak ingin kembali lagi bersama Lani. Kemarahan Yudha sedikit mereda setelah dia meninju wajah ayahnya.
...****************...