
Jefri memukul setir mobil. Dia nggak akan mendapatkan separuh harta, hanya sebagian kecil. Padahal dia ingin menikahi Lani dengan pesta besar-besaran untuk memperlihatkan pada Manda, jika dia bisa mencari wanita muda yang jauh lebih segalanya dari wanita itu.
Sampai di apartemen Lani yang Jefri belikan untuk keluarga simpanannya itu, dia melihat Yana yang sedang bermain dengan ponselnya.
"Mana Lani? Apa dia keluar rumah tanpa seizin dariku?" tanya Jefri tanpa basa-basi.
"Mana mungkin Lani keluar rumah, sedangkan pintu kamarnya aku kunci dari luar. Lagi pula aku selalu mengawasinya dari tempat aku duduk ini sambil aku membaca novel online," jawab Yana.
Ibunya Lani itu memang penggemar novel online. Waktu senggangnya dihabiskan untuk membaca. Salah satu penulis favorit Ibu Yana adalah Mama Reni di aplikasi Noveltoon. Saat ini Yana sedang membaca novel terbaru karya mama Reni yang berjudul DENDAM ISTRI TERBUANG.
Jefri membuka kunci kamar Lani. Tampak wanita yang dicintainya itu sedang duduk menghadap jendela, memandangi jalanan. Tiga hari dikurung di dalam kamar pastilah membuat wanita itu jenuh dan rindu suasana di luar sana.
Jefri memeluk tubuh Lani dari belakang. Tiga hari tidak bertemu, tubuh wanita itu tampak sedikit kurus. Jefri berpikir pastilah semua ini karena dia mengurung Lani. Jefri merasa sangat bersalah atas semua itu.
Pria yang pantas menjadi ayah Lani itu, menggendong tubuhnya dan meletakkan di atas pangkuannya. Jefri mengecup leher Lani. Biasanya wanita itu akan mudah tergoda jika lehernya dikecup.
Namun, reaksi Lani sangat tidak diharapkan. Wanita itu mendorong wajah Jefri dari lehernya dan berusaha turun dari pangkuan pria itu. Jefri memeluk pinggang Lani erat agar dia tidak bisa melepaskan diri.
"Lepaskan, Om. Aku mau turun!" seru Lani.
"Aku kangen. Aku ingin memeluk kamu lebih lama lagi. Maafkan atas sikap kasarku kemarin. Apa masih terasa sakit?" tanya Jefri.
__ADS_1
Jefri mengamati wajah Lani dari dekat. Ingin tahu apakah ada bekas tamparannya. Lani membuang wajahnya. Dia telah bosan dengan pria dihadapkannya saat ini. Lani ingin mengakhiri semuanya.
"Kamu masih marah?" tanya Jefri lagi.
Lani tersenyum sumbang mendengar pertanyaan yang diajukan Jefri. Apakah pria yang ada dihadapkannya saat ini tidak memiliki perasaan? Kenapa bertanya begitu?
"Apa aku berhak marah? Bukankah aku ini budakmu. Pemuas napsumu. Jadi Om berhak atas diriku. Apa pun yang Om lakukan padaku, itu semua harus aku terima dengan ikhlas. Sekalipun Om akan membunuhku!"
Lani bicara dengan penuh penekanan. Dia ingin mengingatkan Jefri atas apa yang pernah dia katakan. Pria itu selalu mengucapkan kata itu jika Lani tidak mau melayani napsu gilanya.
Pernah satu minggu pria itu mengajak Lani liburan. Lani yang berasal dari keluarga tidak mampu tentu saja senang. Dia belum pernah liburan ke luar kota apa lagi ke luar negeri. Namun, apa yang dilakukan Jefri. Pria itu mengurung Lani di kamar hotel dan melayani dirinya kapan dia inginkan. Lani tidak tahu, apakah Jefri meminum obat sehingga dia bisa dan ingin melakukan itu selama seminggu.
Salah satu cara yang dilakukan Lani dengan biaya yang diberikan Jefri adalah dengan cara NMES.
NMES atau Neuromuscular Electrical Stimulation adalah cara medis untuk membantu merapatkan inti tubuh yang kendur, termasuk setelah melahirkan atau seringnya berhubungan.
Prosedur NMES dapat membantu memperkuat otot-otot inti tubuh dengan cara menghantarkan arus listrik melalui bagian dasar panggul menggunakan probe.
Adanya stimulasi listrik dapat membuat otot di bagian dasar panggul mengalami kontraksi dan menjadi rileks. Perawatan dengan alat NMES lebih baik dilakukan di dokter atau bisa dilakukan sendiri dengan arahan dokter. (sumber : google).
Mendengar ucapan dari Lani membuat Jefri makin merasa bersalah. Dia tidak mau kehilangan wanita dalam pelukannya ini.
__ADS_1
"Kita ke mal. Aku akan beli ponsel baru untukmu. Aku harap kamu jangan melakukan hal seperti kemarin lagi. Aku akan melakukan hal yang lebih buruk jika kamu terbukti berhubungan dengan pria lain," ancam Jefri.
"Aku nggak mau ponsel baru. Biar aja begini. Tanpa ponsel."
"Terus bagaimana aku mau menghubungi kamu?" tanya Jefri. Pria itu tahu, pastilah Lani saat ini masih marah dan merajuk atas sikap kasarnya kemarin.
"Om bisa hubungi Ibu jika ingin menanyakan tentang aku. Lagi pula, aku nggak mau menambah banyak uang yang kupakai dari Om. Bukankah aku telah berjanji akan menggantikan semua uang yang Om berikan. Aku akan mencicilnya," ucap Lani pelan.
Walau Lani bicara pelan, tapi masih dapat di dengar dengan jelas di telinga Jefri membuat pria itu kembali emosi. Jefri mendorong tubuh Lani hingga jatuh ke lantai. Kemudian menendangnya hingga tersungkur.
"Apa kau pikir bisa mencicil uang yang aku berikan selama ini? Seumur hidupmu tidak akan dapat melunasinya. Hanya tubuhmu ini yang bisa membayarnya. Itu juga hanya aku yang mau. Jika kau menjual dengan pria lain, paling dia hanya mau membayar 300 ribu sekali berhubungan," ucap Jefri.
Jefri menarik napas dalam menahan emosi. Dia tidak ingin melukai Lani lagi. Terkadang pria itu tidak habis pikir, kenapa dirinya? Sejak berhubungan dengan Lani, dia menjadi emosi. Posesif. Setiap memikirkan wanita itu dekat dengan pria lain, pasti dia akan marah.
"Sekarang ganti bajumu, kita ke mal! Aku tunggu lima belas menit lagi. Jika kau tidak keluar juga, kau akan tahu akibatnya. Aku bisa penjarakan orang tuamu dengan tuduhan pinjaman yang tidak pernah dibayar. Semua bukti uang yang aku transfer untuk kedua orang tuamu dan juga adikmu, masih aku simpan. Jika untukmu, anggap saja sebagai bayaran atas tubuhmu. Namun, untuk ayah dan ibumu itu bisa di anggap hutang!"
Jefri mengatakan dengan emosi. Dia tidak akan pernah melepaskan Lani. Dia telah rela kehilangan segalanya demi wanita itu. Mana mungkin dia akan merelakan Lani pergi.
Harta dan keluarga telah dia lepaskan hanya untuk dapat hidup bersama dengan Lani. Jefri terkadang tidak mengerti mengapa dia bisa jatuh cinta begitu dalam pada wanita yang lebih pantas menjadi anaknya itu.
...****************...
__ADS_1