
Jefri tampak masih tertidur karena pengaruh obat yang diberikan Dokter. Di kamar ruang rawat inap itu hanya tinggal Jefri . Aira pergi menemani Yudha pulang ke rumah pria itu, untuk mengganti pakaiannya. Mama Susanti keluar buat mencari makanan setelah melihat Jefri tertidur.
Manda yang baru menginjakan kakinya di rumah sakit itu, langsung menuju ruang perawatan Jefri. Dia sudah tidak sabar melihat keadaannya Jefri.
Sampai di kamar Jefri, dia melihat pria yang dulu sangat dia cintai itu sedang terlelap. Tidak ada satu orang pun yang menemani.
Manda menghampiri tempat tidur Jefri, dan duduk di kursi yang ada di samping ranjang rumah sakit itu. Manda membuka selimut yang menutupi kaki pria itu. Tampak kaki yang bekas di amputasi itu terbalut perban.
Jefri yang merasakan sentuhan, membuka matanya perlahan. Dia melihat Manda yang tampak menangis di samping tempat tidurnya.
"Manda ...," sapa Jefri dengan suara pelan.
Manda langsung mendekati dan memeluk Jefri. Walau pria itu telah menyakiti hatinya dan meninggalkan dia, tapi Manda tidak akan lupa jika Jefri pernah memberikan hari-hari manis.
"Kamu yang sabar, Bang. Semua yang terjadi pasti ada hikmahnya." Jika sebelum berpisah, Manda selalu memanggil suaminya Papi, setelah bercerai rasa canggung memanggil dan menyebut Jefri Papi lagi.
Jefri membalas pelukan Manda dengan satu tangan yang bebas dari infus. Ternyata benar kata Susanti, Manda pasti datang dan memberikan semangat bukan meledeknya.
Setelah beberapa saat, Manda melepaskan pelukan dan kembali duduk di kursi samping ranjang.
"Bang, kamu harus kuat dan ikhlas dalam menerima semua ini. Tidak ada satupun orang yang menghendaki dirinya tertimpa musibah dan penyakit, namun semua datang tanpa pandang bulu. Aku turut sedih mendengar kamu tertimpa penyakit. Aku hanya bisa berdoa, mudah-mudahan segera cepat sembuh. Tidak ada penyakit yang tidak bisa diobati. Kamu pasti bisa melewati ini semua, Bang. Jangan biarkan penyakit ini terus berada di tubuhmu dan menjadi penghalang impian-impianmu selama ini. Aku akan mendukungmu selalu," ucap Manda memberikan semangat untuk Jefri.
"Dalam hidup ini, sakit dan sehat adalah situasi yang selalu datang silih berganti. Namun, nikmat sehat seringkali selalu lebih banyak dibanding sakit. Kuberdoa, semoga penyakitmu segera diangkat oleh Tuhan dan engkau selalu tabah dalam menjalani takdir dari Tuhan ini," ucap Manda selanjutnya.
__ADS_1
"Apakah aku akan bisa sembuh seperti sedia kala? Itu tidak mungkin Manda. Kakiku telah cacat. Aku akan menjadi orang pesakitan yang tidak akan bisa melakukan apa pun!"
"Itu bukan penghalang, Bang. Masih banyak orang yang memiliki banyak kekurangan dari ini tapi tetap bisa beraktifitas. Yang penting semangat. Semua cobaan yang Tuhan berikan, pasti ada hikmahnya."
Saat Jefri dan Manda sedang mengobrol, Susanti datang dengan membawa makanan. Melihat Manda, wanita itu sangat bahagia. Dia mendekati Manda dan memeluk mantan kakak iparnya itu.
"Apa kabar, Mbak? Senang banget bisa bertemu lagi."
"Mbak juga senang bisa bertemu kamu lagi."
Jefri hanya memandangi dua wanita itu yang tampak bahagia karena bisa bertemu lagi. Dalam hatinya Jefri berkata, jika saja dia dan Manda masih berstatus suami istri pastilah akan lebih menyenangkan.Yudha dan Aira, masuk ke ruang inap. Melihat Mama dan Mami Yudha yang mengobrol dengan akrab di samping ranjang Jefri.
"Mama, Tante, selamat siang," sapa Aira dan mencium kedua tangan wanita paruh baya itu. Begitu juga Yudha, melakukan hal yang sama.
Jika hanya karena Aira ada hubungan kekerabatan dengan Jefri, dia tidak boleh menganggap Aira sama dengan Jefri. Selama ini yang dia lihat, gadis itu sangat baik dan bisa membuat Yudha nyaman.
"Kamu dan Aira kelihatannya sudah sangat dekat. Mau menunggu apa lagi. Lamar di depan Mama-nya. Jangan di tunda lagi jika telah merasa nyaman," ucap Mami, membuat wajah Aira merah karena malu.
"Mama, masa melamarnya di rumah sakit. Nggak romantis banget. Apa lagi saat ini Papi sedang sakit. Nggak enak lah melamar Aira!" ucap Yudha dengan penuh penekanan.
Dalam hatinya Yudha juga berpikir ingin melamar Aira. Bukankah sesuatu yang baik itu tidak perlu di tunda.
Aira dan Yudha mendekati ranjang Jefri. Gadis itu menyuapi Jefri dengan telaten. Yudha hanya memperhatikan gadisnya. Jefri berdoa agar ponakannya Aira berjodoh dengan Yudha karena pria itu tahu jika Yudha anaknya sangat baik dan tidak pernah melakukan hal yang aneh.
__ADS_1
Dokter masuk dan memeriksa keadaan Jefri. Dokter mengatakan jika Jefri akan dirawat di rumah sakit setelah operasi selama 5-14 hari. Tujuan dari tahap ini adalah untuk menyembuhkan luka yang disebabkan oleh operasi. Dokter akan merawat luka, sehingga tidak muncul memar dan bengkak serta mengurangi kemungkinan resiko infeksi.
Ketika Jefri bertanya berapa lama proses sembuh dari sakit dan nyerinya sehabis operasi, dokter mengatakan tergantung cara pasien merawat luka bekas amputasi.
Meskipun pasien amputasi telah meninggalkan rumah sakit, luka bekas luka membutuhkan waktu 3-4 minggu untuk menutup dan bahkan luka dalam membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sembuh. Untuk menyembuhkan daerah bekas amputasi, pasien dapat melakukan terapi kompres, yaitu penggunaan krim perawatan kulit dan latihan untuk membuat tubuh dapat menopang berat prostesis yang akan dipasang nantinya. Penting untuk dicatat bahwa kesehatan daerah tubuh bekas amputasi juga perlu diperhatikan karena akan menahan tekanan dan menanggungnya stress dari daerah bekas amputasi.
***
Di rumah kontrakannya, kesehatan Lani makin membaik. Wajahnya terlihat makin berseri. Walau untuk bertahan hidup masih harus banyak menjalani terapi kesehatan.
Yudha masih memberikan bantuan untuk pengobatan Lani. Pria itu akan bicara dengan Maminya nanti. Namun, Yudha hanya mengirim uang ke Dira dan belum bertemu Lani lagi.
"Dira, apakah Yudha begitu kecewa dengan ibu dan Kakak. Walau dia telah tahu jika kita bersaudara dia tetap tidak peduli bahkan sepertinya makin membenci kakak," ucap Lani.
Lani telah mengetahui hubungannya dengan Yudha. Awalnya Lani begitu sulit menerima tapi setelah itu ada rasa bersyukur dihatinya. Karena walau mereka tidak lagi sebagai sepasang kekasih tetapi masih bisa berhubungan sebagai saudara.
"Aku ingin menemui tante Manda. Ingin bicara dari hati."
"Aku rasa jangan, Kak. Siapa tahu Tante Manda masih marah dan belum bisa menerima semua ini."
"Tak apa, Dek. Itu memang salah kakak. Dihina dan di maki tante Manda pun akan Kakak terima karena semua itu memang salahnya kak Lani."
Dalam hatinya Lani, akan tetap menemui Manda dan kembali meminta maaf atas salah dirinya dan terutama ibunya.
__ADS_1
...****************...