
"Kamu sudah tenang 'kan?" tanya Yudha kepada Aira saat dia melihat kekasihnya sudah bisa tersenyum. Meski tipis, tapi Yudha bisa melihatnya.
Aira menganggukkan kepalanya, "Iya, aku sudah tenang. Sudah bisa tidur nyenyak lagi malam ini," jawabnya sambil mengelap wajahnya, padahal sudah tidak ada air mata di sana.
Yudha pun lega, dia juga ikut tenang. Untungnya Aira bukan tipe perempuan yang cemburu buta dan tidak mau mendengar penjelasannya, jadi Yudha tidak terlalu kesulitan untuk menjelaskan semuanya kepada Aira.
"Bagaimana kalau besok, kita pergi jalan?" tanya Yudha memberi usul, dia ingin menebus kesalahannya yang sudah membuat Aira menangis malam ini dengan jalan-jalan ke luar.
Aira sedikit menimbang-nimbang ajakan Yudha. Gadis itu terdiam sebentar sebelum akhirnya Aira mengiyakan ajakan Yudha. Dia mengangguk dan kembali membuat Yudha senang.
"Karena kamu sudah tenang dan kita besok ada rencana jalan, jadi lebih baik sekarang kamu tidur dan istirahat. Aku juga mau pulang, ini sudah malam soalnya. Nggak enak sama keluarga kamu dan tetangga." Yudha berdiri dari ranjang, dia pamit kepada Aira untuk pulang.
Aira pun ikut berdiri, dia mengizinkan Yudha buat pulang setelah barusan Yudha memberinya satu kecupan di kening Aira. Kecupan itu seketika membuat Aira tersenyum lebar.
"Gitu dong, senyum. Jadi aku nggak kepikiran terus." Yudha mengacak-acak rambut Aira dan lagi-lagi membuat gadis itu tersenyum malu-malu.
"Ya sudah, sana cepetan pulang." Aira mengusir Yudha dari kamarnya.
Yudha pun berpamitan dengan ibunya Aira, dan gadis itu pun mengantar Yudha sampai depan rumah. Karena saat Aira akan mengantar Yudha sampai ke mobil, Yudha melarangnya.
"Kamu hati-hati di jalan ya, naik mobilnya jangan ngebut-ngebut. Aku nggak mau kalau sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan," pesan Aira kepada Yudha.
"Iya, aku pasti akan selalu ingat apa kata kamu kok. 'Kan aku masih ingin ketemu kamu, jadi aku pasti akan menjaga diri aku juga," balasnya.
Yudha sudah benar-benar berpamitan di depan rumah orang tuanya Aira. Lelaki itu juga bahkan melambaikan tangan ke arah Aira saat dia baru saja akan masuk ke dalam mobil. Lambaian tangan itu pun dibalas oleh Aira.
Mobil yang dikendarai Yudha pun sudah melesat meninggalkan area kediaman orang tua Aira. Gadis itu juga sudah kembali ke kamarnya.
Sementara di mobil Yudha, lelaki itu kembali dibuat emosi kepada papinya. Dia teringat keadaan Lani. Seharusnya Papi ikut bertanggung jawab. Lani begini juga pasti karena memikirkan hubungannya dulu dengan Papi. Saat ini juga, Yudha akan bicara dengan papinya.
__ADS_1
Perasaan marah dan kesal sudah menggebu-gebu di dalam dada Yudha. Ingin sekali rasanya Yudha menghajar papinya itu.
Bahkan kedua tangan Yudha sampai memegang erat setir mobilnya guna melampiaskan kemarahannya.
Kondisi jalanan sedikit padat, dan itu membuat Yudha semakin marah karena kecepatan laju mobilnya pun harus dia perlambat.
Yudha sampai harus menahan kekesalannya karena saking padatnya kendaraan. Untuk menyelip sana selip sini pun, tidak memungkinkan buat Yudha lakukan. Tidak ada jalan lain selain bersabar.
"Pokoknya, aku harus bilang ke Papi," katanya lagi. Sebenarnya Yudha sedikit kesal karena masih harus mengakui Jefri sebagai papinya. Namun, Yudha juga tidak bisa mengelak kalau sejak kecil dia dibesarkan dengan kasih sayang oleh Jefri. Yudha tidak bisa memutuskan hubungan dengan Jefri, sebagai anak dan ayah. Walau hanya ayah sambung.
Berulang kali Yudha membunyikan klakson mobilnya, berharap yang ada di depan sana akan segera maju. Yudha sudah tidak peduli lagi dengan suara klaksonnya yang mengganggu, yang dia pikirkan sekarang itu kalau dia harus bicara dengan Jefri secepatnya.
Tiba-tiba jalanan jadi macet itu membuat Yudha semakin ingin mengumpat.
Mobil kembali melaju, untung saja macetnya tidak lama. Sekarang jalanan sudah normal seperti biasa. Tinggal satu kilometer lagi, mobil yang dikendarai Yudha akan sampai ke rumah Jefri, papinya.
Setibanya di rumah itu, Yudha langsung melompat dari mobilnya dan menggedornya berulang kali. Sampai-sampai asisten rumah tangga langsung membukakan pintu untuk Yudha.
"Ada di atas, Den," jawab perempuan paruh baya tadi sambil menunjuk arah lantai dua.
Dia asisten rumah tangga yang pernah bekerja di rumahnya dulu. Sepasang suami istri yang di bawa Jefri untuk membantunya.
Yudha berlari ke lantai dua. Dia mencari papinya, tapi di kamar tidak ada. Akhirnya Yudha mencari Jefri di ruang kerjanya. Kebetulan, pintu ruang kerja itu tidak dikunci dan Yudha langsung masuk ke dalam ruang kerja Jefri.
Emosi Yudha memuncak ketika lelaki itu menemukan papinya sedang bersantai di atas kursi kerjanya sambil memejamkan mata dan mendengarkan instrumen musik klasik yang diputar sedemikian kencang.
Yudha melihat kedua tangan papinya bergerak-gerak layaknya dirigen yang sedang sedang memimpin orkestra di atas sebuah panggung megah.
"Papi benar-benar keterlaluan," gumam Yudha sambil berjalan ke arah turntable. Yudha juga melepaskan piringan hitamnya sehingga instrumen musik klasik itu akhirnya berhenti. Yudha melakukan ini karena dia sudah kesal pada Jefri.
__ADS_1
Kedua kelopak mata Jefri terbuka seiring berhentinya musik yang dia dengar. Tadinya Jefri kesal, dan berpikir siapa yang sudah berani mengganggu waktu istirahatnya. Namun ketika Jefri melihat itu adalah Yudha, Jefri jadi tersenyum tapi ada kesinisan di senyuman Jefri.
"Eh, ada anaknya Papi yang ganteng." Jefri menyambut Yudha, lelaki itu juga berdiri dari duduknya dan berjalan ke bagian depan meja kerjanya. Kedua tangan Jefri kini dia masukkan ke dalam saku celana panjangnya.
"Ada gerangan apa, kamu menemui Papi? Uang jajan kamu habis?" tanya Jefri.
Yudha mendekati papinya, kemarahannya sudah menggebu-gebu di dalam dada. Kalau Yudha tidak ingat bahwa yang ada di depan wajahnya sekarang itu adalah papinya, pasti Yudha sudah memukul wajah Jefri.
"Bisa-bisanya Papi santai di sini sambil dengerin instrumen musik sementara kekasih Papi sedang terkapar di rumah sakit," marah Yudha kepada Jefri. Kedua tangannya sudah terkepal kuat-kuat, Yudha berusaha menahan emosinya supaya tidak kelewatan.
Jefri menggaruk tengkuknya sebentar, "Siapa kekasihnya Papi? Papi nggak punya pacar," sahutnya dengan nada bodohnya.
Kemarahan Yudha semakin saja memuncak mendengar pertanyaan papinya. Dadanya bergemuruh dan Yudha yakin kalau wajahnya sekarang sudah memerah.
"Papi harus tanggung jawab sama Lani. Papi jangan seperti laki-laki pengecut yang bisanya cuma lari tanpa bertanggung jawab." Yudha sengaja langsung mengatakan nama Lani, supaya Jefri bisa paham.
Jefri menatap Yudha lama, dia terkekeh sekarang. Yudha semaki kesal, dia berharap kalau papinya tidak lebih menyebalkan dari ini.
"Oh Lani? Dia sudah jadi mantannya Papi, kami sudah tidak berhubungan lagi. Jadi untuk apa Papi tanggung jawab? Memangnya dia nggak punya keluarga?" Jefri malah terkekeh, seolah dia sedang menertawakan nasib Lani sekarang.
Jefri ingat dulu dia sering marah dengan Lani, sebenarnya karena telah tahu wanita itu berhubungan dengan Yudha. Dia tidak bisa melarang Yudha langsung, makanya Lani yang sering di minta buat jauhin Yudha. Namun, wanita itu masih saja tetap berhubungan dengan putranya.
"Lani sakit, Pi! Papi kalau mau jadi laki-laki itu yang gentle dong! Papi harus menjaga Lani!" sentak Yudha, dia sudah tidak bisa membendung rasa kesalnya lagi untuk Jefri yang menurutnya sangat menyebalkan.
Jika saja bukan karena hubungan Lani dengan Papinya, mungkin saat ini dia sedang berbahagia dengan Lani.
Jika ditanya, mana yang lebih dicintai Yudha, Lani apa Aira. Pasti jawabannya Lani. Wanita itu cinta pertamanya.
...****************...
__ADS_1