TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 58. Orang Tua Aira


__ADS_3

Aira mengajak Yudha masuk ke rumahnya setelah bibi membukakan pintu. Yudha mengikuti langkah Aira menuju satu ruangan. Tampak sepasang suami istri yang sedang menonton sambil berpelukan.


Aira langsung saja memeluk tubuh ibunya dari belakang. Tentu saja membuat wanita itu kaget.


"Aira ... kamu buat Mama kaget saja," ucap Mama Susanti.


"Baru sampai?" tanya Papa. Seperti biasanya dengan suara datar.


"Iya, Pa. Pa, Ma, kenalkan ini Yudha. Yang aku ceritakan kemarin."


Yudha maju dan menyalami kedua orang tua Aira sambil menyebut namanya. Kedua orang tua Aira mempersilakan Yudha buat duduk.


"Ma, apa mama ingat dengan Om Jefri?" tanya Aira saat mereka telah duduk santai.


"Tentu saja. Kamu tahu dari siapa mengenai Om Jefri?" tanya Mama Susanti.


"Om Jefri itu Papinya Yudha," ucap Aira lagi.


"Papi Yudha? Apa kamu anaknya Mbak Manda?" tanya Mama.


"Iya, tante."


Mama Susanti langsung berdiri dan memeluk Yudha. Air matanya jatuh membasahi pipi. Mama Susanti tidak menyangka akan dapat bertemu dengan Yudha lagi.


"Tante ingat, terakhir ketemu kamu saat usia dua tahun," ucap Mama Susanti. Wanita itu masih saja memeluk Yudha.


"Apa kabar Mami kamu? Nanti bawa Papi dan Mami ke sini. Papi kamu sejak tante pindah tidak ada komunikasi lagi."


"Kapan-kapan aku akan bawa Mami ke sini. Kalau Papi, mungkin Aira saja yang minta dia datang."


"Kenapa bukan kamu aja?" tanya Mama Susanti heran.


"Mami dan Papi telah pisah. Jadi aku jarang bertemu Papi. Jika tidak ada keperluan, nggak akan ketemu."


"Mami dan Papi telah berpisah?" tanya Mama Susanti dengan wajah kaget.

__ADS_1


Setahu Susanti, Manda dan Jefri pasangan yang serasi. Walau keluarga Manda banyak yang menentang hubungan mereka tapi Manda tetap meyakinkan jika Jefri mencintai dirinya bukan hartanya.


Manda berasal dari keluarga mampu. Sedangkan Jefri hanya dari keluarga sederhana. Sejak mereka menikah, Manda banyak membantu keuangan keluarga Jefri termasuk Susanti.


Namun, komunikasi terputus sejak mereka pindah keluar kota semua. Apa lagi Jefri tidak pernah mau lagi ikut perkumpulan keluarga karena kesibukannya.


Keluarga menganggap Jefri sengaja menjauh, karena telah kaya. Jadi sombong. Padahal Jefri sibuk dengan perkembangan bisnisnya yang sekarang telah banyak cabang.


"Telah hampir enam bulan Papi dan Mami berpisah."


"Apa Tante boleh tahu penyebab perpisahan Papi dan Mami?" tanya Manda dengan suara pelan takut Yudha keberatan.


"Papi Udah nggak cinta Mami dan mencari wanita lain," ucap Yudha.


Mama Susanti melepaskan pelukannya di tubuh Yudha. Dia tidak menduga jika Jefri, abangnya akan mencari wanita lain. Setahu Susanti mereka berdua saling mencintai dan sangat bucin.


"Kenapa Bang Jefri bisa mencari wanita lain? Padahal dia sangat mencintai Mbak Manda," ucap Mama Susanti pelan, seolah takut ada yang mendengarnya.


Masih terbayang diingatan Susanti bagaimana kedua orang itu saling mencintai. Kemana pun pergi selalu berdua dan seolah tidak terpisahkan.


"Maaf Tante. Aku tidak tahu. Tadi Papi dan Aira bertukar nomor ponsel dan alamat. Mungkin Aira tahu."


Aira yang peka, tahu jika Yudha pasti tidak suka Mama-nya bertanya tentang Jefri mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin, gara-gara Mama Susanti yang bertanya tentang Jefri membuat Yudha tidak mau main ke rumah ini lagi.


"Ma, Yudha capek. Dia mau istirahat. Mau pulang dulu. Besok-besok Yudha pasti akan mampir lebih lama lagi. Benar'kan, Yudha?" tanya Aira.


Merasa dapat kesempatan buat pergi dari rumah Aira, Yudha tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.


"Maaf, Tante. Lain kali aku akan mampir lagi dan bisa bicara lebih banyak dan lebih lama lagi. Hari ini aku capek. Pengin pulang dan baringan."


"Maaf, Yudha. Tante lancang tanya-tanya tentang personal keluarga kamu."


"Nggak apa, Tante. Bukankah Tante juga saudara Papi. Lain kali kita bisa bicara lebih banyak lagi."


"Iya. Sampaikan salam Tante buat Mami. Tante pengin banget bertemu. Apa Tante besok boleh ke rumah."

__ADS_1


"Tentu saja boleh, Tante. Mami pasti akan senang. Aku pamit dulu. Nanti akan aku sampaikan pada Mami."


Yudha berdiri dan bersalaman pada kedua orangtua Aira sebelum pamit. Aira mengantar hingga Yudha masuk ke mobil.


"Hati-hati bawa kendaraannya. Setelah sampai rumah, segera kabari aku."


"Iya, Ra. Kamu masuklah. Biar aku pergi setelah kamu masuk."


"Kamu aja yang jalan duluan. Aku masuk setelah kamu pergi."


"Baiklah, Selamat malam. Sampai bertemu."


"Aku sayang kamu. Aku harap apa yang terjadi di hari ini tidak merubah perasaan kamu untukku."


"Aku juga sayang, Kamu. Jangan terlalu jauh berpikir. Sampaikan maaf pada kedua orang tuamu karena tidak bisa mengobrol lebih lama."


"Tidak apa."


Yudha melambaikan tangannya sebelum menjalankan mobil. Setelah mobil Yudha menghilang dari pandangannya barulah Aira masuk ke rumah.


Aira melihat Papa dan Mamanya masih duduk santai sambil menonton televisi. Aira memilih duduk di antara keduanya.


"Ma, kalau Yudha datang ke sini lagi, aku harap jangan bertanya tentang Om Jefri lagi."


"Kenapa? Apa karena karena Om Jefri selingkuh dan meninggalkan Mami-nya membuat Yudha begitu membenci Om Jefri?"


"Bukan hanya karena perselingkuhan Om Jefri dan perpisahan Maminya saja."


"Jadi karena apa?" tanya Mama Susanti makin penasaran.


"Karena selingkuhan Om Jefri adalah kekasihnya Yudha. Jadi rasa sakit hatinya pada Om Jefri sangat besar," ucap Aira.


Mama Susanti dan Papa Refdi begitu kaget mendengar ucapan Aira. Tidak percaya dengan apa yang baru saja Aira katakan. Bagaimana bisa Jefri berselingkuh dengan kekasih anaknya?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2