
Terkadang kita diuji bukan untuk menunjukkan kelemahan kita, tetapi untuk menemukan kekuatan kita. Kamu, sama seperti orang-orang di seluruh alam semesta, layak mendapatkan cinta dan kasih sayang.Menyesali nasib tidak akan mengubah keadaan. Terus berkarya dan bekerjalah yang membuat kita berharga.
***
"Tante yakin kamu sudah tahu apa yang ingin dikatakan. Namun, sebenarnya bukan hanya tentang Jefri saja yang mau Tante bicarakan."
Manda mengambil air minum dan meneguknya hingga tinggal setengah gelas. Walau Manda merasa dirinya ada kesalahan, apa pantas Jefri memperlakukan dirinya begini.
Seharusnya jika Jefri marah dan tidak terima, tinggalkan dirinya bukan diduakan begini. Wanita mana yang tidak sakit hati jika tahu suaminya selingkuh.
"Aku tahu, Tante. Aku juga nggak percaya saat tahu ternyata Om Jefri adalah suami Tante. Sebenarnya, sejak aku berdekatan dengan Yudha, aku telah berniat ingin meninggalkan semuanya. Tante, boleh percaya atau tidak. Aku berkata begini bukan untuk membela diri!"
"Sekarang Tante ingin kamu jujur. Apakah kamu tahu jika Jefri telah berkeluarga? Dan bagaimana perasaan kamu jika berada di posisi Yudha?"
Lani hanya diam tidak tahu menjawab apa. Jangankan ketahuan selingkuh, Ayahnya memarahi ibunya saja, Lani sudah sakit hati. Semua memang salahnya. Namun, seperti kata ibunya dia telah terlanjur basah. Untuk mundurpun percuma. Orang-orang tetap akan menghinanya dan memandang jijik dengannya.
"Aku pasti membenci ayah dan kekasihnya. Tidak akan pernah memaafkan, Tante."
"Berarti kamu pasti mengerti jika Tante meminta kamu menjauh dari kami?" tanya Lani.
Lani memandangi Mami Manda dengan perasaan sedih. Dia baru saja merasakan perhatian dari seorang ibu yang sesungguhnya. Tidak seperti ibunya yang hanya memberikan perhatian jika dia memberikan uang.
Yang paling menyakitkan, dia harus menjauhi Yudha. Apakah dia bisa? Apakah dia sanggup? Sehari menghindari Yudha saja dirinya sudah sangat rindu.
__ADS_1
"Tante, aku telah ada niat menjauhi Om Jefri. Tetapi untuk saat ini aku belum bisa karena ada sesuatu yang mengikat aku dan Om Jefri."
"Apa yang membuat kamu terikat dengan Jefri? Apakah kamu memiliki anak darinya?"
Lani kaget mendengar pertanyaan Mami Manda. Tidak pernah dia berpikir memiliki anak dari Jefri karena mereka belum terikat pernikahan. Lani tidak ingin anaknya lahir di luar pernikahan. Itulah tanpa Jefri tahu, Lani menggunakan alat kontrasepsi untuk mencegah kehamilan.
"Atau kamu dan Jefri telah menikah?" tanya Manda. Wanita itu menarik napas dalam setelah memberikan pertanyaan. Sebenarnya hatinya belum siap jika mendengar Lani menjawab mereka telah menikah.
"Aku dan Om Jefri belum terikat pernikahan. Mungkin Om Jefri masih menghormati Tante dan pernikahannya."
"Jika dia menghormati pernikahan tidak mungkin dia selingkuh. Ketika seseorang sering berbohong padamu dan berselingkuh, maka mempertahankannya bukanlah sebuah perjuangan. Itu adalah alasan untuk putus. Dan satu hal yang paling menyesakkan jiwa adalah harus berpura-pura ikut bahagia ketika melihat orang yang dicintai mencintai orang lain," ucap Manda pelan.
Lani tidak bisa lagi menahan air matanya. Merasakan apa yang Mami Manda rasakan saat ini. Pasti sangat sesak berhadapan dengan wanita selingkuhan suaminya. Jika aku yang menjadi Mami pasti tidak akan sanggup setegar ini, pikir Lani.
Tiba-tiba Lani berdiri dan berlutut dihadapan Mami Manda, membuat wanita itu terkejut. Lani menarik tangan Manda dan menciumnya.
Manda melepaskan genggaman tangan Lani dan menjauh dari wanita itu.
"Jangan bersujud dan meminta maaf padaku. Cobalah kau merubah dirimu tanpa harus aku yang meminta. Ingatlah Lani, karma itu akan menghampiri kamu jika kamu tidak bertaubat."
"Aku akan berusaha lepas dan pergi dari Om Jefri."
"Aku tidak meminta itu, karena aku dan Jefri juga telah berpisah. Jika kau memang ingin bersama Jefri, menikahlah. Itu jauh lebih baik dari pada kamu begini saja. Dan yang perlu kamu lakukan, putuskan Yudha. Jauhi anak Tante. Tante ikhlas dan rela jika kamu bersama Jefri, tapi Tente tidak akan pernah ikhlas jika kamu bersama Yudha."
__ADS_1
Lani berdiri dari berlututnya dan duduk di tempat semula. "Aku mencintai Yudha Tante."
"Jika kamu memang mencintainya, lepaskan dan tinggalkan Yudha. Biarkan dia bahagia dengan wanita lain. Kamu tidak pantas buat Yudha. Kamu lebih baik bersama Jefri saja."
Lani menghapus air matanya. Dia telah yakin jika Mami Manda pasti akan meminta dirinya meninggalkan Yudha. Namun, mendengarkan ucapan itu dari mulut Mami Manda, begitu menyakitkan.
Bagi Lani, Yudha adalah cinta pertamanya. Yudha yang membuat hari-harinya berubah dan menjadi hidup. Baru saja dia mulai melangkah, tapi harus dibuat mundur tanpa ada alasan.
"Dengarkan Lani, kamu tidak pernah mencintai Yudha. Kamu itu hanya menjadikan Yudha sebagai permainan. Jika kamu mencintainya, pasti akan jujur. Namun, kamu lebih memilih diam. Semua demi egomu. Kau ingin bersama Yudha, tapi kau juga tidak mau melepaskan Jefri. Itu namanya serakah. Atau aku harus memberi uang berapa agar kamu menjauhi Yudha?"
Lani merasakan dadanya sesak mendengar pertanyaan Mami Manda. Memang dia menjadi pemuas napsu seorang pria untuk mendapatkan uang dengan cara mudah. Namun, bukan berarti semuanya dapat hitung dengan uang. Dia tulus mencintai Yudha.
"Tante, aku memang orang tak punya. Aku memang menjadi pemuas napsu untuk mendapatkan uang yang banyak tapi bukan berarti cintaku juga bisa di nilai dari uang. Jika emang untuk membuktikan jika aku mencintai Yudha dengan pergi dan menjauh darinya,akan aku lakukan itu sebagai bukti aku memang sangat mencintainya."
"Baiklah! Tante menunggu saat kamu menjauh darinya. Namun, Tante minta jangan sampai dia tahu jika kamu adalah selingkuhan Papi-nya. Karena Tante yakin, dia akan menjadi sangat terluka jika tahu kenyataan orang yang dia cintai ternyata selingkuhan Papi-nya."
"Baiklah, Tante."
"Sepertinya tidak ada lagi yang harus kita bicarakan. Tante menunggu janjimu untuk meningalkan Yudha."
Setelah mengucapkan itu, Mami Manda berdiri dan meninggalkan Lani seorang diri.
Saat aku berjuang untukmu, aku menyadari bahwa aku berjuang untuk dibohongi, berjuang untuk menerima begitu saja, berjuang untuk kecewa, dan berjuang untuk terluka lagi ... Jadi sekarang aku mulai berjuang untuk melepaskannya. Dalam cinta, ada masanya untuk berharap dan ada waktu untuk berhenti. Ada saat untuk memperjuangkan, namun ada juga untuk mengikhlaskan. (sumber google)
__ADS_1
...***************...