
Susanti mengambil air minum yang tadi dibawakan sekretaris Jefri. Meneguknya hingga separuhnya habis. Wanita mengurut dadanya.
"Hanya karena satu kesalahan Abang melupakan begitu banyaknya kebaikan Mbak Manda. Apa Abang lupa jika dulu hanya seorang supir?" tanya Manda.
Aira terkejut mendengar ucapan ibunya. Dia tidak menduga jika Om Jefri dulunya hanya bekerja sebagai supir melihat penampilan saat ini.
"Bang, jika memang tidak cinta, lepaskan baik-baik seperti saat menikah dulu. Lihat Abang sekarang. Jika bukan karena Mbak Manda, apa Abang bisa seperti saat ini? Berkedudukan bagus dan dihormati orang. Apa Abang lupa bagaimana dulu orang tua kekasih Abang menghina? Beruntung Mbak Manda masih memberikan sebagian hartanya walau Abang telah menyakiti hatinya."
"Susanti, ini semua juga berkat kerja keras Abang mengembangkan perusahaan Manda. Abang pantas mendapatkan sebagian harta ini!"
Susanti tampak menarik napasnya kembali. Dia tidak tahu harus bicara apa lagi dengan saudaranya ini. Terlalu egois.
"Bang, dengar baik-baik. Semua harta ini awalnya dari Mbak Manda. Jika Abang tidak menikah dengan Mbak Manda, apa yang bisa dikembangkan. Abang hanya supir. Semua juga berawal dari Mbak Manda."
"Sudahlah, Santi. Semua sudah terjadi. Abang juga telah pisah. Kamu datang bukan hanya untuk membahas Manda'kan?" tanya Jefri lagi.
__ADS_1
"Aku datang memang karena kangen Abang. Dan juga untuk membahas masalah yang terjadi antara Abang dan Mbak Manda. Kenapa aku ikut campur? Karena aku terlibat di dalam masalah ini. Aku yang awalnya menyarankan Mbak Manda buat bohong."
"Seharusnya Manda tetap jujur. Keputusan ada ditangannya walau kamu yang menyarankan. Jika ada niat baik, pasti dia akan jujur."
"Percuma bicara dengan orang egois. Dia akan merasa paling benar. Dan yang membuat aku makin kaget, ternyata selingkuhan Abang, kekasih Yudha. Jika memang bukan karena nafsu Abang berselingkuh, pasti akan mencari wanita seusia Abang buat untuk berumah tangga," ucap Susanti.
Semua hening. Tidak ada yang bersuara. Jefri tampaknya sudah sulit untuk berkata apa menjawab semua ucapan Susanti.
"Awalnya Abang tidak tahu jika Lani itu kekasih Yudha."
"Kapan Abang tahu jika wanita itu kekasih Yudha?" tanya Susanti mencoba menyelidiki.
"Apakah Lani mencintai Abang?"
"Abang nggak tahu!"
__ADS_1
"Mana ada orang yang mencintai mendua. Seperti Abang. Aku baru sadar di sini yang banyak berkorban adalah Mbak Manda. Selama ini Abang bukan mencintai dirinya, mungkin hanya simpati dan memanfaatkan cintanya untuk kebutuhan abang. Maaf ... mungkin biar Abang bisa hidup senang dan terpandang. Jika Abang mencintai Mbak Manda pasti akan menerima kelebihan dan kekurangannya. Walau kecewa tidak akan mendua. Intinya selama ini Bang Jefri tidak pernah mencintai Mbak Manda. Hanya memanfaatkan cintanya!"
Jefri tampak sedikit kurang senang dengan ucapan Susanti. Wanita itu tahu, kalimat yang dia ucapkan memang sedikit kejam. Namun, itu harus dia lakukan untuk menyadarkan Jefri, siapa dirinya sebelum mengenal Manda.
"Aku rasa cukup percakapan tentang Manda. Sekarang kita bicara mengenai Lani saja."
Jefri memandangi wajah Susanti dengan penuh tanda tanya. Ada apa dengan Lani? Kenapa harus bicara mengenai wanita itu?
"Lani saat ini sedang terbaring sakit. Apakah Bang Jefri tidak ada niat membantunya? Selama dua tahun bersama berbagi peluh, apakah tidak ada sedikitpun rasa kasihan melihat keadaannya saat ini?" tanya Susanti.
"Kami tidak ada hubungan lagi."
Susanti tampak menggeleng-gelengkan kepalanya tanda tidak setuju dengan ucapan abangnya itu. Kenapa dia bisa berpikir se egois itu?
"Apakah Abang sudah melupakan jika dia pernah memberikan Abang kesenangan, yang membuat Abang sampai lupa anak dan istri?"
__ADS_1
Jefri memandangi Aira. Merasa diperhatikan Aira membuang mukanya. Jefri bertanya dalam hati, apakah Aira tahu semuanya? Apakah Yudha mengatakan segalanya?
...****************...