
Yudha masih saja memeluk Aira, "Atau aku katakan saja siapa kamu dengan Lani?" tanya Yudha.
"Jangan, Yudha. Setelah dia operasi dan keadaannya makin membaik baru kita jujur. Cuma aku minta, kamu tetap jaga jarak. Aku juga manusia biasa. Aku juga ada rasa cemburu," ucap Aira dengan cemberut.
"Iya, Sayang. Maafkan aku. Nanti aku juga akan mencari Papi. Biar dia juga tahu keadaan Lani. Papi juga harus bertanggung jawab. Bukankah Papi telah bersama Lani selama hampir 3 tahun."
Yudha kembali mengecup pucuk kepala Aira. Gadis yang telah mencuri hatinya. Dia mengajak Aira masuk dengan menggenggam tangan wanita itu.
Dira dan Lani, duduk di bangku ruang tunggu dokter Dokter spesialis neurologi.
Dokter spesialis neurologi adalah sebutan untuk dokter ahli yang bertugas untuk mendiagnosis dan mengobati penyakit yang berkaitan dengan sistem saraf, termasuk otak, otot, saraf tepi, dan saraf tulang belakang.
Sementara itu, jika kondisi medis terkait neuro-onkologi seperti karena kanker otak atau gangguan pada saraf tulang belakang, maka Bedah Saraf Onkologi-lah yang dapat menangani. Spesialis Bedah Saraf Onkologi dapat melakukan tindakan operasi pengangkatan bedah, terapi radiasi, hingga kemoterapi.
Yudha, Lani dan Dira masuk ke ruang dokter setelah nama mereka di panggil. Saat Yudha mengajak Aira masuk, gadis itu menolaknya. Aira tidak mau nanti dokter kaget melihat kita masuk bersama.
.Aira duduk seorang diri di kursi tunggu buat pasien dan keluarga, pikiranya masih saja ke sikap Lani yang manja dengan Yudha.
Satu jam lebih mereka di dalam ruangan membuat Aira bosan. Wanita itu memilih duduk di taman. Membuka jaringan sosialnya. Tanpa sengaja dia menemukan media sosial milik Lani. Di sana terdapat foto wanita itu dengan Yuda.
"Mereka pasangan yang serasi. Apakah aku harus melepaskan Yudha untuk Lani? Tapi aku juga mencintai Yudha," gumam Aira pada diri sendiri.
"Aku juga mencintai kamu, Sayang. Aku ini bukan mainan atau barang yang bisa di lempar sana sini. Aku juga memiliki perasaan," bisik Yudha di telinga Aira.
Ternyata Yudha mengikuti langkah Aira saat wanita itu beranjak menuju taman. Kebetulan Yudha baru ke luar dari ruangan.
"Yudha ...."
"Maaf, Sayang. Aku membuat kamu lama dan bosan menunggu. Aku tadi bicara mengenai operasi Lani."
"Kapan bisa dilaksanakan operasinya?" tanya Aira.
"Satu bulan lagi ada jadwal yang kosong. Sementara itu dia harus minum obat dan satu kali kemo sebelum di operasi."
__ADS_1
Biasanya Kemoterapi di lakukan dalam “siklus”, yang berarti periode pengobatan dan kemudian periode istirahat. Misalnya, siklus 4 minggu mungkin 1 minggu pengobatan dan kemudian 3 minggu istirahat. Sisanya memungkinkan tubuh Anda untuk membuat sel-sel baru yang sehat.
Kemoterapi untuk meringankan gejala dilakukan sebelum operasi, agar saat operasi tumor menjadi lebih kecil dan lebih mudah diambil. Manfaat kedua kemoterapi adalah untuk mengendalikan penyebaran tumor.
"Semoga usaha kita tidak sia-sia. Operasi berjalan lancar dan Lani bisa sembuh sedia kala," ucap Aira tulus.
"Semoga. Kita antar Lani, setelah itu aku antar kamu pulang."
Yudha mengulurkan tangannya untuk membantu Aira berdiri. Dari kejauhan tanpa mereka sadar, Lani dan Dira melihat interaksi keduanya. Mereka berdua beradik saling pandang.
Aira melepaskan genggaman tangan Yudha saat akan sampai di parkiran. Dia takut nanti Lani dan Dira melihatnya.
"Biar aku yang bawa mobil. Kamu di belakang bareng Lani," pinta Yudha.
Aira langsung berjalan menuju pintu belakang dan duduk di samping Lani. Tersenyum dengan wanita itu.
"Bagaimana Lani? Apakah sudah siap buat di operasi? Kamu harus semangat ya. Yakinkan diri jika kamu pasti sembuh."
Mobil berjalan perlahan menuju rumah Lani. Yudha hanya mengantar hingga ke halaman rumah.
"Dira, ingat dua hari lagi kamu harus bawa Lani ke rumah sakit untuk menjalankan kemo."
"Baik, Kak. Terima kasih banyak atas semua bantuannya," ujar Dira.
"Apa kamu tidak bisa ikut, Yudha?" tanya Lani.
"Aku akan langsung menuju rumah sakit. Nanti kita bertemu di sana."
"Baiklah," ucap Lani pelan.
"Aku pamit dulu, Lani. Semoga semua pengobatan yang dilakukan berbuah hasil yang baik," ucap Aira.
Yudha meminta gadis itu pindah duduk di depan. Kembali Dira dan Lani memandanginya hingga mobil menjauh dan tidak tampak dipenglihatan.
__ADS_1
Setelah pamitan, Yudha menjalankan mobil perlahan. Dengan tangan kirinya Yudha menggenggam tangan Aira.
"Sebelum aku mengantar kamu pulang, temani aku menemui Papi. Aku ingin tahu apa reaksi Papi jika tahu Lani sedang sakit begini."
"Apa kehadiran aku tidak mengganggu?"
"Kenapa mengganggu? Kamu kekasihku!"
"Kamu dan Papi pasti ingin bicara pribadi berdua. Aku ini baru sebatas kekasih bukan istrimu. Aku takut Papi tidak nyaman bicara jika ada aku."
"Nggak ada bedanya. Suatu hari nanti kamu juga akan menjadi istriku."
Yudha mengecup tangan Aira. Setelah itu kembali menyetir dan konsentrasi menuju kantor Papi. Dia baru dapat berita di mana saat ini Papi-nya berada.
Sampai di gedung kantor yang sederhana. Yudha memarkirkan mobilnya. Perusahaan itu hanya kecil. Cabang dari perusahaan yang saat ini dipegang Mami Manda.
Setelah menemui resepsionis, Yudha masuk ke ruang yang di tunjuk karyawan tadi. Dia mengetuk pintu. Di belakang Yudha ada Aira yang mengikuti.
Setelah terdengar sahutan dari dalam, Yudha membuka pintu. Papi tampak kaget melihat siapa yang datang.
"Selamat sore, Pi. Apa kabar?" tanya Yudha.
"Selamat sore. Duduklah! Ada berita apa yang membuat kamu sampai ke sini?" tanya Papi.
"Aku ingin bicara mengenai Lani. Apa Papi ada waktu?"
"Lani ...?" tanya Papi kaget.
"Ya, Lani!"
Dahi Papi berkerut mendengar nama Lani di sebut. Apa yang akan Yudha bicarakan mengenai Lani?
...****************...
__ADS_1