TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 79. Tersadar dari Pingsan.


__ADS_3

Yudha dan Aira duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur. Tampak mereka berdua tertidur sambil duduk. Dua jam sudah pasca operasi, tapi Jefri belum juga sadar.


Hingga pagi hari, tampak Jefri membuka matanya. Melihat Yudha dan Aira yang tertidur duduk. Aira yang tidur dengan kepala berada di bahu Yudha.


Jefri merasakan nyeri di kaki bekas amputasi. Dia bergerak membuat ranjang berderit. Yudha yang mendengarnya langsung terbangun, begitu juga Aira. Yudha bangun dan menghampiri Papinya itu.


"Papi, mau apa?" tanya Yudha. Pria itu telah membuang ego dan rasa sakit hatinya. Dia hanya kasihan melihat keadaan Papi Jefri. Teringat saat dia sakit, Jefri jualah yang merawat.


"Kenapa kaki Papi terasa sangat perih?" tanya Papi dengan suara terbata.


Aira dan Yudha saling berpandangan. Apa yang akan mereka katakan? Apakah Jefri siap mendengar kenyataan jika kakinya telah di amputasi?


Yudha menarik napas berat. Dia tetap harus jujur. Berbohong juga tidak berguna karena Jefri pasti akan mengetahui juga.


"Papi mengalami kecelakaan. Kaki Papi mengalami tulang yang hancur. Jika tidak di operasi takut akan membuat kesehatan tubuh yang lain ikut terganggu. Dokter harus mengamputasi kaki kiri, Papi!" ucap Yudha dengan lirih.


Jefri dapat mendengar dengan jelas semua yang anak tirinya itu katakan. Rasanya Jefri tidak percaya dengan apa yang didengarnya. Pria itu mencoba mengingat apa yang terjadi.


Jefri ingat, setelah dari kantor dia langsung menuju klub buat menghibur diri. Rasa kesepian yang dia rasakan, membuat Jefri melarikan diri ke tempat hiburan.


Dia bukannya tidak mau berubah, tapi bagi Jefri tidak akan ada wanita yang mau menikah jika tahu dirinya tidak bisa memberikan keturunan. Lebih baik dia melampiaskan keinganannya dengan berhubungan badan dengan wanita penghibur. Itu juga bukan tiap malam dia lakukan. Hanya jika pengin saja.


Menghabiskan waktu di klub malam dengan wanita penghibur dan minuman keras menjadi salah satu kebiasaan Jefri jika sedang suntuk.


Seperti yang dia lakukan tadi malam. Wanita itu mengajaknya minum hingga mabuk. Entah berapa uang yang dia habiskan tadi malam. Uang cash yang dia bawa ludes ditambah pembayaran dengan kartu kredit.

__ADS_1


Masih teringat Jefri dia pulang dari klub dalam keadaan mabuk. Setelah itu Jefri menjalankan mobilnya mau menuju pulang. Di perjalanan dia melihat mobil yang berlawanan, untuk menghindari tabrakan Jefri membanting setir hingga menabrak pembatas jalan.


"Apa yang harus Papi lakukan? Bagaimana bisa Papi menjalankan perusahaan dengan kaki buntung? Apakah ini karma yang harus Papi terima? Apa salah Papi?" Pertanyaan demi pertanyaan Jefri ajukan pada dirinya sendiri.


Tidak bisa Jefri bayangkan dia yang akan berjalan dengan penyangga, memimpin suatu perusahaan. Tidak mungkin itu dia lakukan.


Air mata tampak mulai turun membasahi pipinya. Baru kali ini Jefri merasa hidupnya tidak berguna. Kenapa harus mengalami cacat? Kenapa kakinya mesti di amputasi?


"Papi, semua yang terjadi telah menjadi takdir. Siap tidak siap, Papi harus bisa menerima semuanya. Ini mungkin ujian bagi Papi, bisa juga peringatan!" ujar Yudha.


Aira juga mendekati Om Jefri. Menggenggam tangan saudara dari ibunya itu. Aira tidak tahu harus menghibur bagaimana. Pasti bagi siapa yang mengalami ini, akan merasa sangat terpukul. Papa dan Mama Aira telah kembali ke rumah. Akan datang kembali pagi ini membawa pakaian ganti buat Aira dan juga makanan buat mereka makan siang.


"Om, aku harap bisa ikhlas dan bersabar menerima semua ini. Takdir buruk itu mungkin tak ada, karena selalu ada hal yang bisa dipetik dari semua kejadian, terburuk sekalipun. Sakit adalah keadaan yang beberapa di antaranya adalah takdir, dan sebagian besar adalah pilihan kita. Takdir yang dituliskan Tuhan merupakan hal terbaik dalam hidup kita, walau terkadang yang terbaik itu tak selalu indah. Tugas kita hanya menjalani takdir Allah dengan ikhlas. Jangan tanya kenapa karena Allah tahu yang terbaik untuk kita," ucap Aira.


Takdir memang sudah digariskan, tetapi bukan berarti tidak bisa diubah. Jika menginginkan takdir yang baik, maka jalan satu-satunya adalah memohon kepada Sang Pencipta.


Lantaran Dia-lah yang mampu mengubah setiap takdir seseorang. Allah akan memberikan takdir yang baik selama manusia bersungguh-sungguh dalam bertakwa.


Dokter datang untuk periksa keadaan Jefri dan memberikan obat penenang sehingga Jefri kembali tertidur.


Sekitar jam 10, Papa dan Mama Aira datang dengan membawa makanan. Susanti meminta Aira dan Yudha makan. Dia tahu keduanya pasti belum menyantap apa pun. Wanita itu gantian duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur.


"Makanlah, Yud. Kamu pasti lapar," ucap Aira. Dia membuka bekal yang di bawa Mama Susanti dan menyalin ke piring.


"Aku tidak lapar, Ra!" ucap Yudha.

__ADS_1


"Kamu tetap harus makan. Aku suapin, ya? Makan dikit aja. Nanti kamu yang sakit jika tidak makan."


Aira menyuapi Yudha makan. Dia juga ikut makan. Yudha tersenyum dengan gadis itu. Yudha merasa sudah sangat cocok dengannya. Di dalam hatinya Yudha ingin melamar gadis itu secepatnya. Usia mereka juga tidak muda lagi. 23 tahun sudah waktu yang tepat buat berumah tangga. Tahun ini keduanya juga telah tamat dan wisuda. Saat ini keduanya sudah mau KKN dan menyusun skripsi. Jika KKN nanti mereka telah menikah, itu akan lebih baik. Mereka akan mengusahakan dapat di desa yang sama.


"Kenapa senyum-senyum?" tanya Aira. Dia melihat pria itu tersenyum sambil menatap wajahnya.


"Kamu cantik dan baik. Aku takut kamu di rebut orang. Aku hanya ingin kamu jadi milikku."


"Gombal!"


"Siapa yang ngomong gombal. Aku serius, Aira. Aku ingin memiliki kamu seutuhnya dan selamanya."


Jefri kembali membuka matanya dan melihat Susanti. Papa Aira harus bekerja. Sehingga hanya bisa mengantar Mamanya saja. Jefri langsung menangis melihat adiknya itu. Susanti memeluk tubuh abangnya.


"Santi, apa guna aku hidup lagi. Aku pasti hanya akan merepotkan orang-orang. Lagi pula siapa yang mau menjaga dan merawatku? Aku tidak punya siapa-siapa lagi."


"Jangan berkata begitu, Bang. Abang masih punya aku, dan juga ada Yudha. Dia yang dari awal menjaga Abang."


"Pasti semua orang akan mengejek dan menghinaku. Apa artinya aku hidup lagi. Apakah ini karma karena aku meninggalkan Manda? Pasti dia akan menertawakan keadaan aku ini?" tanya Jefri.


"Abang, aku telah mengatakan berulang kali. Mbak Manda itu wanita yang baik. Aku yakin dia tidak seperti yang Abang katakan. Buktinya dia membatalkan semua jadwal meeting hari ini dan terbang ke sini. Seharusnya hari ini adalah rapat dengan pengusaha lain."


Jefri hanya terdiam mendengar ucapan Susanti. Apakah semua itu benar? Apakah Manda tidak dendam karena telah dia selingkuhi?


...****************...

__ADS_1


__ADS_2