
Dira dan Lani yang mendengarnya menjadi sangat kaget. Lani memegang kepalanya yang terasa sangat sakit karena tadi memaksa ingatannya pada Mami Manda.
Dira yang melihat itu langsung membawa Lani masuk. Tidak ingin penyakitnya kambuh. Percuma saja operasi yang dia lakukan jika Lani kembali sakit.
Dira meminta Lani berbaring dan memberi obat agar Lani sedikit tenang. Kakak perempuannya itu belum dibolehkan berpikir yang berat.
"Dira, aku masih harus bicara dengan tante Manda. Apa maksudnya jika Ibu juga telah merebut suaminya? Apakah ibu dulu pernah merebut suaminya tante Manda?" Banyak pertanyaan dilontarkan Lani.
"Jangan Kakak pikirkan itu. Semua yang menyangkut Tante Manda biar Ibu yang urus. Kita sebagai anak jangan ikut campur."
Lani terdiam sambil berpikir, kenapa dia merebut suami Tante Manda, padahal dia mencintai Yudha putra mereka. Lani menarik nafasnya. Membayangkan dirinya dulu berpacaran dengan pria yang lebih cocok di panggil ayah.
Di teras rumahnya Lani, Mami Manda dan Yudha segera berjalan meninggalkan Ibu Yana yang masih terpaku memikirkan apa yang terjadi.
Namun, baru beberapa langkah Mami Manda berjalan, suara panggilan Ibu Yana menghentikan langkah mereka.
"Manda, aku mengaku jika aku salah karena telah merebut suami kamu. Namun, Lani tidak ada kaitannya dengan ini. Aku tidak pernah tahu jika Jefri itu suami kamu. Lani juga telah lama ingin meninggalkan Jefri, tapi aku dan Doni yang tidak setuju. Jangan samakan aku dan Lani. Dia melakukan semua hanya untuk membahagiakan keluarga. Walau Jefri ingin menikahinya, Lani tidak pernah mau. Karena dia bukan ingin merebut Jefri dari keluarganya. Dia hanya inginkan sebagian kecil uang Jefri buat memenuhi kebutuhan bukan untuk memilikinya!" ucap Yana terbata.
Manda dan Yudha menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuh kembali menghadap Yana. Manda memandangi wajah Yana dengan saksama.
"Apa kamu inginkan dengan penjelasan semua ini?" tanya Manda lagi.
"Aku hanya ingin kamu tidak terlalu menghakimi Lani. Diakui jalan yang dia ambil salah. Dia telah menerima karmanya. Aku harap kamu dapat memaafkan Lani. Dari awal dia telah menderita. Dia terpaksa melakukan semua ini."
Manda tersenyum dengan sinis. Baginya Lani juga sama saja dengan Yana yang menyukai suaminya. Buktinya saat Lani telah mengetahui jika Jefri adalah suaminya, wanita itu tetap menjalin hubungan dengan Jefri.
__ADS_1
Cukup sudah selama ini dirinya diam atas perlakuan orang-orang pada dirinya. Doni yang memilih pergi dengan Yana dan sejak saat itu tidak ingin tahu keadaan anaknya.
Jefri yang hanya menginginkan hartanya, terbukti sejak bercerai tidak ingin tahu kabar dia dan Yudha.
"Satu lagi, Manda. Kamu tidak bisa membantah jika darah yang mengalir di tubuh Yudha sama dengan darah yang mengalir pada tubuh Lani dan Dira. Mereka bersaudara. Jadi suka tidak suka, mereka tidak bisa dipisahkan. Aku, Lani dan Doni telah menerima karma kami. Aku mohon maafkan Lani."
Dira yang baru datang menghampiri mereka menjadi kaget mendengar apa yang ibunya katakan. Tidak percaya jika Yudha adalah saudara mereka. Jadi suami yang di rebut itu adalah ayah Doni.
"Apa aku tidak salah mendengar ini? Aku dan Lani bersaudara dengan Yudha?" tanya Dira dengan wajah kaget.
Yana mendekati Dira dan mengajak putrinya itu masuk. Dia tidak mau kehadiran Dira makin membuat Manda sakit hati mendengar ucapan putrinya itu.
Awalnya Dira tidak mau, dia juga ingin medengar semuanya. Namun, Ibu Yana berjanji akan menjelaskan semuanya.
"Aku juga tidak membantah jika Yudha, Lani dan Dira memiliki darah yang sama. Namun, bukan berarti aku memaafkan dan memaklumi semua yang Lani lakukan. Sakit hati karena pengkhianatan itu masih aku rasakan. Dua kali aku dikhianati oleh keturunan yang sama. Jangan hanya meminta aku memahami posisi Lani saja. Namun, coba kamu juga menempatkan dirimu menjadi aku. Apakah kamu bisa menerima semua ini dengan lapang dada?" tanya Manda dengan penuh penekanan.
Yana memandangi Yudha. Melihat interaksi antara Yudha dan Lani, keduanya saling menyayangi. Mungkin Yudha bisa memahami keadaan Lani.
"Yudha, ibu mohon maafkan Lani. Terima, tidak terima, dia adikmu. Saudaramu. Dia masih ingin dukungan darimu."
"Maaf, Bu. Aku belum bisa menerima semua ini. Aku masih belum percaya dengan apa yang terjadi. Beri aku waktu. Biar waktu yang akan menjawab semuanya. Aku tidak akan memungkiri jika aku dan Lani sedarah," ucap Yudha.
Manda mengajak Yudha meninggalkan tempat itu dan kembali ke rumahnya.
***
__ADS_1
Setelah kepergian Yudha dan Ibunya, Yana langsung masuk dan mengganti pakaiannya. Setelah rapi, Yana masuk ke kamar putrinya. Wanita itu merasa kasihan melihat anaknya yang terbading lemah. Semua karma buruk jatuh menimpa Lani.
"Ibu pamit sebentar, kamu jaga kakakmu."
"Ibu mau kemana?" tanya Dira melihat ibunya yang telah rapi. Tidak biasanya ibu berdandan di jam sjal
"Ibu masih ada urusan. Jaga Lani."
"Tanpa Ibu pinta, aku pasti akan menjaganya."
Yana mengecup dahi Lani sebelum meninggalkan kamar. Tujuannya hanya satu saat ini. Dengan taksi Yana menuju sebuah perusahaan.
Sampai di tujuan, Yana keluar dari taksi dan langsung masuk ke gedung kantor itu. Meminta izin terlebih dahulu sebelum menuju satu ruangan.
Tanpa mengetuk pintu, Yana mendorongnya. Kaget melihat pemandangan di depannya. Jefri sedang berciuman dengan seorang wanita muda.
Jefri melepaskan pagutan di bibir wanita itu. Meminta wanita yang berciuman dengannya keluar. Yana memandangi Jefri dengan wajah tidak bersahabat.
"Apa gerangan yang membuat kamu datang ke sini?" tanya Jefri dengan suara angkuh.
"Aku datang hanya ingin bertanya denganmu. Apakah kamu mengenal siapa ayah kandung Yudha?"
"Aku tidak tahu dan tidak ingin tahu!"
"Kamu pasti tidak akan percaya dengan kenyataan sebenarnya. Jika ternyata Yudha dan Lani memiliki darah yang sama, mereka saudara satu ayah!" ucap Yana.
__ADS_1
Bagai mendengar suara petir di siang bolong, Jefri begitu kaget mengetahui kenyataan ini.
...****************...