
Aira begitu bahagianya. Dia akhirnya bisa menjadi kekasih pria yang dicintai. Yang lebih membuat dia senang, cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Berbeda dengan Aira, Yudha masuk ke apartemen dengan perasaan tidak menentu. Entah mengapa dari tadi dia selalu teringat Lani. Saat menyatakan cinta dengan Aira saja, sebenarnya pikiran Yudha masih tertuju dengan Lani.
Lani adalah cinta pertamanya. Bagaimana mungkin dia bisa cepat melupakan wanita itu? Apakah Yudha salah jika menerima Aira padahal hati dan pikirannya masih pada Lani? Yudha hanya tidak ingin larut dalam kesedihan yang berkepanjangan.
Lagi pula Yudha merasa nyaman bersama Aira. Wanita itu bisa membuat dirinya tenang dan gembira. Melupakan Lani saat bersamanya.
Apa kabar kamu, Lani? Apakah saat ini kamu telah bahagia dengan Papi? Sakit rasanya mengetahui kamu adalah simpanan Papi. Jika saja kamu melakukan dengan pria lain, mungkin tidak sesakit ini.
Entah mengapa Yudha tidak dapat memejamkan matanya. Dia teringat Lani. Pikirannya hanya tertuju pada wanita itu.
Ditempat lain, di sebuah rumah sakit.
Ibu Yana tidak mendengar dengan jelas apa yang diucapkan Dokter. Pikirannya hanya tertuju pada Lani. Apakah yang akan terjadi dengan anaknya itu? Dia tidak tega melihat putrinya harus menderita karena mengidap penyakit mematikan itu.
Setelah bicara cukup lama dengan dokter, Ibu kembali ke ruang di mana Lani berbaring. Ibu telah mendaftar pada administrasi, memilih ruangan tempat Lani di rawat.
Lani membuka matanya perlahan dan melihat Ibu dan Dira dengan wajah pucatnya. Lani berusaha tersenyum pada kedua orang yang sangat dia cintai itu.
"Kenapa wajah Ibu dan Dira terlihat sangat sedih? Aku nggak kenapa-napa. Kepalaku juga tidak pusing lagi."
Ibu berusaha tersenyum walau dengan terpaksa. Dia tidak ingin Lani ikut sedih melihatnya.
"Ibu tidak sedih, hanya kuatir melihat kamu pingsan. Kamu membuat ibu jantungan saja," ucap Ibu masih berpura-pura.
Saat ini Lani telah berada di kamar rawat inap. Wanita itu menatap kesekeliling. Hanya dinding putih yang terlihat.
__ADS_1
"Bu, aku pulang saja. Kenapa harus di rawat. Cuma sakit kepala biasa aja."
"Sebaiknya kamu menginap beberapa hari di sini untuk memudahkan melakukan tes kesehatan."
"Aku sakit apa, Bu? Kenapa aku harus menjalani perawatan dan serangkaian tes?" tanya Lani.
"Tentu saja Kakak harus menjalani rangkaian pemeriksaan kesehatan agar tahu di tubuh Kak Lani saat ini ada suatu penyakit apa tidak!" ucap Dira.
"Kak Lani rasa cuma sakit kepala, Dek.".
Dira menarik napasnya, menahan sesak di dada. Tidak ingin Lani melihat dia menangis. Tadi ibu telah mengatakan semuanya.
Yang menjadi pikiran Ibu Yana dan Dira saat ini adalah uang buat biaya pengobatan Lani. Jika saat ini masih mampu Dira tangani dengan uang tabungannya tapi untuk selanjutnya Dira tidak tahu mau minta bantuan siapa.
Apakah Dira harus menemui Jefri? Namun, itu tidak mungkin karena terakhir yang Dira dengar pria itu juga sedang mengalami krisis. Semua rekan kerja membatalkan kerja samanya. Mereka lebih memilih bekerja sama dengan perusahaan yang di pimpin Manda atau pun Yudha.
***
Lani juga ternyata sedang memikirkan Yudha. . Dia membuka galeri ponselnya dan melihat foto kebersamaan dengan Yudha.
Dira yang menjaga Lani, melihat itu. Dira jadi berpikir untuk mencari Yudha. Dia harus bicara dengan pria itu. Ibu yang berdiri di samping Dira juga melihat semuanya.
Wanita itu menyesal karena dulu tidak melarang putrinya menjadi simpanan Jefri. Hanya demi ego dan kesenangannya, Lani. yang menjadi korban saat ini.
Tidak tahan melihat putrinya Lani, Ibu keluar dari kamar. Lebih baik dia bekerja mencari uang buat biaya pengobatan Lani. Ibu Yana membuat berbagai macam kue buat dititipkan ke warung-warung.
"Kakak kangen dengan Kak Yudha?" tanya Dira. Dia duduk di tepi ranjang sambil memandangi wajah Lani yang kian hari makin tirus karena saudaranya itu tidak ada selera makan.
__ADS_1
"Apa Kakak berhak merindukannya" tanya Lani. Tampak wajahnya sedih saat mengatakan itu semua.
"Kenapa tidak? Kak Lani dan Kak Yudha saling mencintai. Hanya waktu yang tidak berpihak pada kalian. Bertemu di waktu yang salah."
Lani kembali teringat saat bersama Yudha. Walau sekejab tapi kenangannya masih terus melekat. Mungkin sampai dia mati. Lani tidak bisa membuka hatinya buat pria lain.
"Semua salah Kakak. Yudha terlalu baik buat aku yang banyak kekurangan ini," gumam Lani. Namun, suaranya masih dapat diterima dan didengar gendang telinga Dira.
Dalam hati Dira dia bertekat akan menemui Yudha. Mengatakan semua yang terjadi pada Lani. Jika pria itu masih memiliki hati pasti dia akan mau menemui Lani.
Dokter mengatakan jika Lani dalam keadaan bahagia mungkin sel kanker akan lama merambat ke bagian otak lainnya. Jangan bebani Lani dengan pikiran.
Stres kronis diketahui memiliki sejumlah hal negatif pada tubuh. Sebuah penelitian terbaru menyebut bahwa hal ini dapat memicu berkembangnya peradangan dan penyakit kardiometabolik.
Dilansir dari Medical Daily, stres ini dapat menyebabkan munculnya kanker. Sebuah penelitian yang dilakukan sebelumnya menyebutkan bahwa pada jenis kanker tertentu, hal ini dapat mempercepat pertumbuhan dan memperburuk penyakit ini.
National Cancer Institute menyebut bahwa terdapat sejumlah penelitian yang membuktikan bahwa terdapat hubungan langsung antara kanker dan stres. Shelley Tworoger, associate professor dari the Moffitt Cancer Center in Tampa, menyebut bahwa terdapat sejumlah faktor yang menghubungkan risiko kanker dengan kondisi mental seseorang.(sumber : google)
"Tidak ada yang salah dalam cinta. Jika Yudha memang mencintai kakak tulus, harus menerima semua kelebihan dan kekurangan kak Lani."
"Kamu hanya bisa bicara, coba saja kamu jadi Yudha. Apa bisa menerima kekasih kamu ternyata menduakan dirimu dengan ayah kandungnya? Berbeda jika saat Kak Lani berhubungan dengan Yudha telah berpisah dari bapaknya. Kakak diputuskan saat sedang berdua dengan Om Jefri. Jika Kak Lani jadi Yudha, juga tidak akan bisa menerima semua itu."
Lani kembali diam dan matanya kembali menerawang entah kemana. Lani mencoba mengingat saat dia pertama menjadi simpanan Jefri. Kenapa dia sulit mengingatnya?
Berbeda dengan Lani, saat ini Dira sedang memikirkan cara bagaimana dia bisa bertemu Yudha. Pria itu harus tahu keadaan Lani saat ini.
Bagaimana tanggapan dia nantinya, kita lihat saja. Apakah akan mau menemui Lani dan memaafkan kesalahan kakaknya itu atau masih dengan keputusannya? Dira hanya ingin mengatakan kebenaran. Keputusan akhir tetap di tangan pria itu. Dia tidak akan memaksa Yudha menerima dan memaafkan kesalahan Lani, hanya ingin mengatakan jika Lani saat ini sedang sakit. Apakah ini salah satu cara Tuhan menegurnya? Kita sebagai manusia tidak ada yang tahu.
__ADS_1
...****************...