TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 54. Permintaan Lani.


__ADS_3

"Ingatlah bahwa sebuah musibah yang membawamu semakin dekat kepada Allah itu lebih baik daripada nikmat yang membuatmu semakin menjauh dari Allah. " – Dr. Bilal Philips


***


"Maaf, Kak Yudha, Kak Aira. Aku bawa Kak Lani buat istirahat dulu," ucap Dira. Gadis itu mengajak Lani buat istirahat. Namun, Kakaknya Lani menolak. Dia masih mau mengobrol dengan Yudha.


"Aku masih mau di sini. Masih banyak yang ingin aku katakan pada Yudha. Aku ingin mengatakan semuanya."


Lani kembali memegang kepalanya. Sakit itu menyerang lagi. Lani memegang kepalanya. Menarik rambutnya.


"Ahh, sakit!" rintih Lani. Wanita itu turun dari sofa dan bersujud di lantai sambil menarik rambutnya.


Aira tidak tega melihatnya. Dia berdiri begitu juga Yudha. Pria itu menarik tubuh Lani ke dalam pelukannya.


"Lani, sadarlah. Jangan menarik rambutmu!" ucap Yudha sambil berusaha melepaskan tangan Lani dari rambutnya.


Aira berlutut di samping Yudha, membantu kekasihnya melepaskan tangan Lani yang begitu kuat menarik rambutnya hingga beberapa helai rambut tercabut.


"Aira, siapkan mobil. Kita bawa Lani ke rumah sakit!" perintah Yudha. Gadis itu langsung menuju mobil dan menghidupkan mesinnya.


Yudha menggendong Lani dan membawa masuk ke dalam mobil. Dira duduk di depan bersama Aira yang menyetir mobilnya.


Saat diperjalanan, Lani sedikit tenang. Dia baru menyadari ada dalam pelukan Yudha. Lani langsung menangis.


"Dosaku pasti terlalu besar sehingga Tuhan menguji aku dengan sakit seperti ini," ucap Lani.

__ADS_1


"Sabar dan ikhlas menghadapi semuanya. Pasti kamu akan lebih tenang. Tuhan itu tidak akan menguji umat-Nya di luar batas kemampuan. Jika Tuhan menguji kamu dengan sakit seperti ini yakinlah itu karena Tuhan menganggap kamu mampu menghadapinya."


"Ini pasti teguran atas dosa-dosaku selama ini. Yudha, Maafkan semua salahku. Aku menyesal karena pernah menyakiti hatimu. Andai aku bisa memutar waktu, tidak akan aku lakukan itu. Aku sudah berusaha mengingat, kapan aku bertemu Papi kamu? Kenapa aku bisa menyakiti kamu dengan berselingkuh sama Papimu? Kenapa aku ini. Kenapa aku begitu bodohnya melakukan itu?"


Lani ingin memukul kepalanya.Namun, tangannya di tahan Yudha.


"Tidak ada gunanya kamu menyesali takdir. Semua telah terjadi. Jika kamu ingin berubah menjadi manusia yang lebih baik, bertobat dan berobatlah. Mungkin aja penyakit yang diberikan Tuhan ini sebagai pembersihan dari dosamu!"


"Bertobat dan berobat?" tanya Lani.


"Bertobatlah dengan menjadi pribadi yang lebih baik. Berobat agar kamu di beri umur panjang agar bisa mengubah dirimu. Jangan hanya pasrah dan menyerah! Tuhan sedang melatih kesabaranmu. Tetaplah bersyukur atas segala cobaan yang menimpamu. Jika kamu sedang diuji, itu berarti kamu sedang disempurnakan. Sabar bukan berarti bersikap pasif dan menunggu datangnya sebuah keajaiban. Akan tetapi, sabar adalah melakukan segala kemungkinan untuk mengubah situasi yang sedang menimpamu. Kemudian, serahkan sisanya pada Tuhan."


Yudha menghentikan ucapannya. Mobil telah memasuki pelataran parkir rumah sakit. Lani baru menyadari jika mereka saat ini berada di rumah sakit."


"Kenapa kita ke rumah sakit? Aku tidak mau berobat. Percuma saja. Nanti aku juga akan mati!" ucap Yudha.


"Aku ...." Lani menghentikan ucapannya karena dipotong Yudha.


"Sangat menyakitkan bagiku saat melihatmu sakit. Aku sangat menyesal atas penyakitmu. Aku berharap aku dapat melakukan sesuatu yang ajaib untuk menghilangkan semua rasa sakit yang kamu alami saat ini. Aku mohon padamu berobatkah jangan hanya pasrah menerima."


Aira menelan ludahnya. Tenggorokannya terasa tercekat mendengar apa yang diucapkan oleh Yudha pada Lani. Gadis itu memegang dadanya yang sesak.


Aku tidak boleh cemburu. Bukankah aku yang meminta Yudha untuk menemui Lani. Aku yang ingin Yudha datang untuk membujuk dan memberi semangat pada Lani.


"Aku tidak mau menghabiskan uang buat berobat. Lebih baik uang itu untuk Dira nantinya. Aku tidak tahu berapa lama lagi umurku. Aku takut saat meninggalkan dunia, aku tidak meninggalkan apa-apa buat Dira!"

__ADS_1


"Aku yang akan membayar semua pengobatanmu."


"Nggak usah Yudha, aku tidak mau berhutang budi pada siapa pun," ujar Lani. Wanita itu memijat dahi dan menarik rambutnya.


"Apa kamu sayang Dira?" tanya Yudha


"Tentu aja, Yudha. Bagiku Dira segalanya."


"Jika kamu sayang dan ingin lebih lama hidup dengannya, Jangan menyerah. Berobat agar lebih lama lagi bisa bersama dengan adikmu. Jangan pikirkan biayanya."


Yudha terus saja membujuk Lani agar bersedia berobat. Hingga akhirnya Lani menyetujui semua.


"Baiklah, Yudha. Aku akan berobat tapi dengan satu syarat."


"Apa syaratnya? Jika mampu aku akan kabulkan!"


"Temani aku selama pengobatan," ucap Lani.


Dada Aira makin sesak mendengar permintaan Lani. Di pandangnya Yudha dari spion. Ternyata pria itu juga sedang memandanginya. Aira tersenyum dan menganggukkan kepalanya memberikan isyarat pada Yudha untuk menerima tawaran Lani.


"Sebagai sahabat aku pasti akan menemani kamu," ucap Yudha.


Lani tersenyum..Yudha meminta Dira untuk membantu Lani berjalan menuju ruang IGD. Sementara itu Yudha menunggu Aira keluar dari mobil.


Baru saja Aira keluar dari mobil, Yudha langsung memeluk gadis itu tidak peduli orang yang ramai.

__ADS_1


"Aku beruntung memiliki kamu. Mungkin tak ada sebuah kata yang mampu mengungkapkan, betapa bahagianya aku saat ini, menjadi kekasihmu. Terima kasih telah menghapus kata mimpi buruk dari kamus hidupku. Kamu telah membuat hidupku menjadi mimpi yang menjadi kenyataan. Aku sayang kamu," ucap Yudha mengecup rambut Aira.


...****************...


__ADS_2