TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 30. Tak Bisa Lepas


__ADS_3

Setibanya di apartemen, Lani segera membersihkan kamarnya di apartemen. Mulai dari mengganti seprai dan selimut, membersihkan debu dan menambah pengharum ruangan supaya lebih wangi.


Kebetulan, tadi setelah dari kantin itu Lani pergi ke perpustakaan untuk mencari buku-buku yang dia perlukan. Lani ditemani Yudha ke perpustakaan sampai dia mendapatkan semua bukunya dan tak terasa ternyata Lani berada di perpustakaan selama dua jam hanya untuk mencari buku saja.


Kini, selesai membersihkan apartemen, Lani segera membasuh badannya dengan air hangat. Dia mandi selama setengah jam dan kini gadis itu mengenakan parfum serta memakai krim wajah.


Lani melihat jam di dinding, ternyata sekarang sudah pukul setengah tujuh. Lani melihat buku-buku di atas meja belajarnya. Gadis itu melihat ke arah pintu apartemennya seolah memastikan tidak ada yang datang.


"Mending aku ngerjain tugas dulu sebentar," gumamnya sembari duduk di kursi dan mulai membuka bukunya.


Belum sampai sepuluh menit Lani mengerjakan tugas-tugasnya dan bahkan Lani belum sempat menyelesaikan satu soal, tetapi dia sudah mendengar ada yang memencet pin di pintunya. Tak lama, pintu apartemennya terbuka. Lani sudah tahu, siapa yang datang ke apartemennya sekarang.


Jefri berjalan ke arah Lani yang masih duduk. Lelaki itu memeluk leher Lani dari belakang seraya membungkuk menyetarakan dengan posisi Lani.


"Rajin banget sih," gumam Jefri seraya mengecup leher jenjang Lani yang putih bersih.


"Om, geli," ucap Lani menahan rasa geli yang Jefri berikan.


"Sengaja, biar kamu senang." Jefri masih belum berhenti menciumi leher Lani sampai ke punggungnya.


Saat ini, Lani sedang mengenakan setelan piyama satin yang atasnya berbentuk tanktop dengan brokat tipis di bagian dadanya dan celana yang hanya menutup bo*kong*nya saja. Terlebih lagi, piyama seksi itu berwarna krem, sangat menyatu dengan kulit Lani yang putih.


Melihat Lani memakai pakaian seperti itu, tentu saja Jefri jadi tergoda dan ingin melahap gadis itu secepatnya. Namun dia tidak akan terburu-buru.


Lani menutup bukunya, dia berdiri dan membalikkan badan jadi berhadapan dengan Jefri. Lain tersenyum begitu cantik kepada lelaki yang sering datang ke apartemennya yang juga dibelikan oleh Jefri itu.

__ADS_1


Satu kecupan singkat Jefri berikan di bibir Lani. Gadis itu pun memeluk tubuh Jefri, menyandarkan kepalanya ke dada bidang lelaki yang menjadi sumber uangnya itu.


Lani ingin melakukan yang terbaik, tidak akan membuat Jefri marah lagi agar dia bisa menyusun rencana untuk melepaskan diri dari Jefri.


"Om mandi dulu ya? Biar aku siapkan air hangat untuk mandi." Lani menatap Jefri lembut membuat lelaki itu luluh dan menganggukkan kepala.


"Kita mandi bareng saja bagaimana?" tawar Jefri saat Lani melepaskan pelukannya dan berjalan ke arah kamar mandi untuk menyiapkan air hangat di bathtub.


Lani menggelengkan kepalanya, "Aku sudah mandi tadi, Om saja yang mandi sendiri," balasnya.


Jefri gemas pada pa*tat Lani yang terlihat menggoda saat gadis itu membungkuk buat mengecek suhu air di bathtub, sehingga Jefri pun memukulnya pelan dan membuat Lani mengaduh pelan.


"Selamat mandi, Om." Lani meninggalkan Jefri sendiri setelah gadis itu membantu Jefri membuka jas, dasi, kemeja, sabuk dan celana panjang yang dikenakan Jefri lalu dia bawa ke kamar supaya tidak basah. Tak lupa, Lani juga menyiapkan handuk untuk Jefri di kamar mandi.


Gadis itu memilih memesan makanan untuk mereka berdua. Kebetulan dia juga lapar dan pasti Jefri pun belum makan. Keluarga yang lain sedang ke kampung. Sebelum pergi, ibu Yana berpesan untuk melayani Jefri baik-baik. , jika tidak ingin ayahnya masuk penjara.


Tiga puluh menit berlalu, Jefri selesai mandi. Lani mengajak Jefri makan terlebih dulu sebelum mereka berlanjut ke permainan selanjutnya yang sering mereka mainkan.


"Padahal aku sudah ingin melahapmu, Sayang." Jefri merengek, dia sedikit terpaksa menuruti kemauan Lani untuk makan terlebih dulu.


"Makan dulu, Om. Biar nanti tempurnya kuat dan nggak loyo. Lagi pula, aku juga laper, aku mau nanti kita sama-sama maksimal mainnya." Sebisa mungkin, Lani membujuk Jefri supaya mau makan.


Dia juga mengedipkan matanya genit ke arah Jefri, membuat lelaki itu gemas dan mengiyakan saja apa yang diinginkan oleh Lani. Wanita itu menarik napas dalam. Sebenarnya dia sudah muak dan bosan melayani Jefri.


Namun, dia tidak bisa mengakhiri hubungan ini secepatnya karena ancaman dari pria itu. Mungkin dengan Yudha, dia harus mengakhiri.

__ADS_1


Mereka benar-benar menghabiskan makanannya terlebih dulu. Lani kembali dilanda perasaan bimbang. Jika biasanya dia tidak memikirkan Yudha apabila sedang bersama Jefri, tapi kali ini rasanya berbeda. Ada perasaan bersalah kepada Yudha dan Mami Manda saat Lani berduaan dengan Jefri.


Selesai makan, Lani membereskan meja makan terlebih dulu. Dia meminta Jefri untuk menunggunya di ranjang. Ternyata, Jefri sedang memutar film romantis di televisi yang ada di dalam apartemen Lani.


Usai membereskan meja makan dan gosok gigi, Lani segera menghampiri Jefri di ranjang. Dia tersenyum dan segera menyandarkan tubuhnya ke dada bidang Jefri ketika lelaki itu merentangkan tangan kirinya seolah memberi kode kepada Lani supaya duduk di sana.


Mereka berdua menonton film bersama. Lani dan Jefri sama-sama tenang. Mereka tidak takut kalau tiba-tiba akan ada yang datang karena ibunya Lani sedang di luar kota.


Lani merasa tangan kiri Jefri mulai bergerak di dadanya. Lani menggigit bibir bawahnya menahan sensasi yang diberikan laki-laki yang notabenenya adalah ayah dari kekasihnya. Tak hanya itu, Jefri pun mulai melahap bibir Lani. Aroma pasta gigi yang menyegarkan menyapa Lani.


Bibir mereka saling berpagutan. Lani pun tak ingin kalah dari Jefri, dia mengimbangi permainan sugar daddy-nya. Lani sedikit menge*rang ketika tangan Jefri kembali meremas dadanya dengan pelan.


Film yang tadi diputar oleh Jefri sudah terabaikan. Kedua anak manusia yang usianya terpaut jauh itu sudah sibuk dengan dunianya. Lani pasrah ketika tangan kanan Jefri mulai bergerilya di tubuh bagian bawahnya yang membuatnya semakin mabuk kepayang.


Jefri tersenyum melihat ekspresi Lani yang selalu bisa membuat libi*donya naik. Dia sudah tidak bisa menahannya lagi. Jefri segera menarik tanktop satin Lani hingga meninggalkan bra berwarna hitam.


Lani menarik selimut guna menutupi tubuh mereka. Dia merosot hingga berbaring dan menerima perlakuan manis Jefri yang sudah menguasai tubuhnya.


Mereka sama-sama tidak berbusana sekarang dan Lani sudah bisa melihat seluruh tubuh Jefri dari atas sampai bawah yang tidak tertutup apa-apa. Begitu pula sebaliknya.


"Sayang, kamu di atas ya?" pinta Jefri yang diangguki Lani.


Gadis itu segera mengambil posisi dan bersiap. Lani lagi-lagi menggigit bibir bawahnya ketika dia berhasil menyatukan diri mereka. Begitu pula dengan Jefri yang melenguh merasakan nikmat.


Sebenarnya aku ingin mengakhiri hubunganku dengan Om Jefri, tapi apa yang aku lakukan sekarang? Aku kembali menungganginya hanya untuk uang dan keluarga. Batin Lain seraya menggerakkan tubuhnya guna menyervis sugar daddy-nya.

__ADS_1


Maafkan aku, Yudha. Aku belum bisa mengakhiri hubunganku dengan ayahmu. Aku tahu perbuatan ini salah. Jika kau mengetahuinya, pasti kau akan jijik. Aku harus berterus terang pada Yudha. Apakah dia akan meninggalkan aku atau mencaci maki aku, itu memang pantas aku terima. Mengakhiri segera hubungan ini belum bisa aku lakukan, karena Jefri tidak sebodoh yang aku pikirkan. Semua yang dia berikan untuk aku, ibu dan ayah disimpannya sebagai bukti bahkan ayahku telah menandakan tangani surat perjanjian jika semua yang dia berikan adalah termasuk hutang.


...****************...


__ADS_2