TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU

TEMAN RANJANG SAHABAT IBUKU
Bab 52. Ke Jakarta


__ADS_3

Yudha mengendarai mobil dengan perlahan. Setelah Aira membujuknya, pria itu memutuskan untuk menemui Lani. Dia akan memebujuk wanita itu untuk bersedia berobat. Jika Lani rutin berobat dan kemo umurnya akan bisa diperpanjang hingga 5 tahun.


Sejauh ini, kemungkinan terbaik dari pasien kanker otak stadium 4 apabila menjalani pengobatan sesuai rekomendasi dokter berkisar antara 15-16 bulan. Meski begitu, ada pula beberapa pasien yang dapat bertahan hingga 5 tahun atau lebih walau lebih jarang terjadi. Para penderita kanker otak stadium 4 dapat bertahan hidup berdasarkan usia paling umum adalah : Usia 20–44 tahun: 22 persen. Usia 45–54 tahun: 9 persen dan Usia 55–64 tahun: 6 persen.


Umur Lani yang masih muda, memungkinkan dia untuk bertahan hidup lebih lama. Lagi pula kita tidak bisa menerka berapa panjangnya umur seseorang.


"Sayang, kamu janji akan menemani aku menemui Lani?" tanya Yudha lagi.


"Iya, Yudha. Aku akan menemani kamu terus."


Yudha menggenggam tangan Aira dan mengecupnya. Sebesar apa pun rasa cinta Yudha pada Lani, pria itu tidak pernah ingin merajut kembali tali cinta mereka karena luka yang Lani berikan terlalu dalam.


Perjalanan dari Yogyakarta ke Jakarta yang di tempuh dalam waktu lebih kurang 8 jam, dilalui Yudha dengan selamat.


Saat ini dia telah berada di halaman rumahnya. Aira di bawa ke kediamannya dulu. Besok setelah mengunjungi Lani, barulah Aira di antar ke rumah orang tuanya.


Yudha masuk dengan berjalan perlahan. Dia meminta bibi untuk diam dan tidak mengatakan jika dirinya yang datang.


"Siapa tamu yang datang itu, Bi?" tanya Mami. Mata Mami masih terus memandang ke televisi.


Mendengar suara bel yang berdering tadi, Mami meminta bibi membukakan pintu. Bibi tampak ragu buat menjawab siapa yang datang karena Yudha yang melarang.


Yudha yang berjalan di belakang bibi, berlari dan langsung memeluk Mami dari belakang. Mencium kedua pipi wanita yang telah melahirkan dirinya itu.


"Yudha, Mami kira siapa yang datang? Kenapa tidak memberi kabar mau pulang?" tanya Mami.

__ADS_1


"Kalau aku beritahu, tidak menjadi kejutan buat Mami."


"Tapi jika kamu mengatakan akan pulang hari ini, Mami pasti akan masak lauk kesukaan kamu!"


"Melihat Mami sehat saja aku sudah sangat bahagia. Nggak perlu ada lauk kesukaan," ucap Yudha mengecup pipi Mami kembali.


"Mami, coba lihat kebelakang! Siapa yang datang?"


Mami Manda memutar kepalanya, memandang kebelakang. Melihat Aira, wanita itu tersenyum dan langsung berdiri menyambut kedatangan gadis pujaan hati Yudha. Aira memeluk tubuh Mami dan mengecup kedua pipi wanita itu.


"Selamat malam, Tante. Apa kabarnya?" tanya Aira.


"Tante sehat. Aduh, kenapa nggak beri kabar mau datang. Biar Tante bisa masak. Apa kamu dan Yudha telah makan? Tante masak sebentar buat makan, ya?"


"Betul, Mi. Kami saat ini hanya butuh istirahat. 8 jam lebih perjalanan yang ditempuh, cukup membuat pinggang sakit."


"Kalau begitu, kamu istirahat aja langsung. Sini Tante tunjukkan kamar kamu," ucap Mami menggandeng tangan Aira.


Mami menunjukkan kamar yang akan ditempati Aira. Setelah itu Mami kembali menonton. Gadis itu membersihkan tubuhnya sebelum membaringkan badannya.


***


Di tempat lain tampak Dira sedang membujuk Lani buat makan agar bisa minum obat. Dari pagi hanya beberapa sendok nasi yang masuk ke tubuh wanita itu.


"Kakak tidak lapar, Dek. Nanti kalau dipaksakan kakak bisa muntah."

__ADS_1


"Kak, apa kak Lani tidak ingin sembuh?"


"Apa ada kemungkinan sembuh? Setahu Kak Lani, setiap orang yang mengidap penyakit kanker otak stadium akhir akan berkahir di pemakaman!'


"Kak Lani tidak boleh berkata begitu. Umur kita ditentukan Tuhan. Bukan penyakit yang menyebabkan kita meninggal tapi takdir. Orang sehat juga bisa meninggal. Mungkin saja aku yang lebih duluan meninggal dari Kak Lani."


Lani memandangi wajah adiknya dan menangkupnya dengan kedua tangan. Tampak bulir air mata jatuh membasahi pipinya.


"Jangan berkata begitu, Dek. Kamu harus panjang umur biar bisa jagain Ibu. Kasihan Ibu tinggal sendiri."


"Bukan hanya aku yang harus panjang umur, tapi Kak Lani juga. Jangan pasrah dengan takdir. Kak Lani harus berusaha juga."


"Entahlah, Dek. Kak Lani tidak ada semangat buat meneruskan pengobatan. Buang uang saja. Bukankah lebih baik uang buat pengobatan Kakak, disimpan saja. Bisa buat kamu. Nanti setelah Kakak tidak ada, kamu bisa gunakan untuk kebutuhan hidup."


Air mata Dira juga ikut mengalir membasahi pipinya. Ternyata Lani tidak mau berobat karena memikirkan biaya. Dia tahu semua membutuhkan uang yang tidak sedikit.


Dalam keterbatasan ingatannya, Kak Lani masih saja memikirkan dirinya dan Ibu. Dia takut menghabiskan uang simpanan. Dira bangga sekali memiliki kakak yang sangat menyayangi keluarga hingga rela melakukan apa saja agar keluarganya bahagia.


"Uang masih dspat di cari. Yang terpenting saat ini Kak Lani sembuh, jika kakak mencintai aku, dengarkan aku. Dan berobatlah!"


Lani memeluk tubuh adiknya itu. Dia tidak bisa lagi membendung air matanya.


"Kita satu darah, hanya dilahirkan berbeda hari, bulan, atau bahkan tahun. Tapi, aku percaya jika ikatan keluarga mampu memberi semangat untuk saling berbagi dan mengasihi satu sama lain. Jangan kau buang masa indah kita bersama, karena tak ada hal yang mampu membeli ataupun menggantikan masa itu. Aku mohon, Kak. Berobatlah. Agar kita masih bisa terus bersama," ucap Dira.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2