
Yudha merasa lega saat mobil yang dikendarai Jefri berbelok ke sebuah restoran. Soalnya Yudha takut kehabisan bahan bakar dan kalau dia mampir ke pom bensin dulu malah takutnya dia kehilangan jejak Jefri.
Dengan kedua matanya sendiri, Yudha melihat Jefri dan Lani keluar dari mobil. Bahkan Yudha melihat Jefri merangkul bahu Lani begitu mesra layaknya seorang kekasih. Refleks Yudha memukul setirnya sendiri melihat pemandangan di depan sana. Kemarahan sudah menguasainya.
"Tega-teganya mereka berbuat itu kepada Mami dan aku," ucap Yudha marah.
Yudha masih menunggu di sana, dia sebenarnya ingin melabrak Jefri dan Lani tapi Yudha masih berusaha menahannya. Dia tidak ingin mempermalukan dirinya sendiri di tempat umum.
Rasa sakit karena diputuskan oleh Lani kemarin itu tidak terlalu sakit setelah Yudha melihat bahwa selingkuhan papinya adalah Lani, mantan kekasihnya.
Selama ini Yudha memang telah mengetahui jika Papi-nya memiliki selingkuhan, tapi tidak pernah menyangka wanita itu adalah Lani.
Yang paling menyakitkan hatinya. Lani wanita yang dianggapnya baik ternyata lebih busuk dan menjijikkan dari Papi. Padahal Yudha yakin jika Lani tahu jika selingkuhannya adalah suami Mami.
Di dalam restoran, Lani dan Jefri sedang memilih pesanan mereka. Kebetulan, saat ini mereka sedang mampir di restoran yang menyediakan makanan secara prasmanan. Sehingga siapa saja yang datang, boleh mengambil sendiri sesuka hatinya.
Lani mengambilkan nasi beserta lauk-pauk untuk Jefri dan juga dirinya. Setelah mendapatkan porsi makanan mereka, sekarang mereka memilih tempat duduk yang posisinya lumayan jauh dari pintu masuk.
Lani sengaja mengajak Jefri ke pojok agar mereka tidak menjadi pusat perhatian. Walaupun Lani juga yakin kalau tidak semua yang ada di sana akan tahu bahwa dia ternyata simpanannya Jefri, tapi Lani hanya ingin meminimalisir pandangan orang lain kepadanya.
Dua gelas es lemon pun sudah ikut terhidang di depan mereka. Lani maupun Jefri mulai menikmati makanan mereka. Kebetulan, mereka sudah beberapa kali makan di sana karena makanannya enak-enak semua. Walau tidak sering, hanya beberapa kali saja. Selain karena makanannya enak, di sana juga jauh dari area kampus tempat Lani kuliah.
"Rencana kita hari ini jadi, Om?" tanya Lani kepada Jefri. Mereka memang memiliki janji untuk pergi jalan-jalan berdua hari ini.
"Jadi dong, 'kan Om sudah dandan ganteng begini," sahut Jefri seraya terkekeh. Lani pun ikut tersenyum melihatnya.
Sebenarnya, di dalam hati Lani itu ada perasaan tidak enak kepada Mami Manda dan Yudha. Apa yang dia lakukan sekarang itu hanya sebagai topeng saja karena Jefri tidak mau dia tinggalkan.
__ADS_1
Hati dan pikirannya memang sering tidak sama dengan apa yang Lani lakukan. Namun, Lani berpikir bukankah dia telah putus dengan Yudha dan Mami Manda telah pisah dari Om Jefri, sekarang dia lebih bebas dengan pria dihadapkannya.
Lani kembali melanjutkan makannya, tapi tiba-tiba dia dikagetkan oleh seseorang yang berdiri di samping meja mereka. Orang itu adalah Yudha, Lani kaget bukan main di sana. Bukan hanya Lani yang kaget, tapi Jefri juga kaget.
"Kamu ngapain di sini, Yud?" tanya Jefri kepada Yudha. Lelaki paruh baya itu segera berdiri setelah dia menelan kasar-kasar makanannya.
Tatapan Yudha kepada Jefri sudah tidak ramah lagi. Yudha seolah lupa bahwa laki-laki yang berdiri di depannya itu adalah papinya.
Tatapan Yudha kini beralih ke arah Lani. Yudha memang memutuskan untuk masuk ke area restoran karena dia tidak bisa lagi menunda-nunda untuk melabrak Jefri dan Lani yang ketahuan memiliki hubungan.
"Harusnya aku yang tanya ke Papi, ngapain Papi di sini sama cewek ini?" tanya Yudha marah, jari telunjuknya sambil menunjuk-nunjuk ke arah Lani. Tidak ada lagi belas kasihan di hatinya untuk Lani.
Jefri tergagap, begitu pula Lani. Dia ikut berdiri dan mendekat ke arah Yudha tapi Yudha memilih mundur. Yudha merasa jijik kepada Lani yang sudah menjadi simpanan papinya.
"Aku bisa jelaskan semuanya ke kamu, Yud. Ini tidak seperti yang kamu lihat." Lani berusaha menjelaskan semuanya kepada Yudha tapi sepertinya tidak didengar oleh Yudha.
"Aku nanya ke laki-laki ini, bukan ke kamu!" sentak Yudha sambil menatap nyalang ke arah Lani, hal itu membuat Lani kaget dan terdiam.
"Bagus deh kalau kamu tahu tentang hubungan Papi dan kekasih Papi ini. Sekarang kamu sudah kenal siapa calon istri Papi," kata Jefri seolah tak punya malu.
Kedua tangan Yudha terkepal kuat-kuat, kemarahannya sudah menguasainya. Ingin rasanya Yudha memukul wajah papinya itu di sini.
"Papi memang nggak punya malu! Tega-teganya Papi mengkhianati Mami dengan wanita seperti ini. Memangnya Mami salah apa sama Papi, sampai Papi tega selingkuh dari Mami begini!. Aku telah tahu jika Papi selingkuh, tapi aku tidak mengira Papi selingkuh dengan wanita yang pantas menjadi anak Papi!" sentak Yudha hingga suaranya menggelegar.
"Mami kamu nggak salah apa-apa. Memang Papi saja yang tidak bisa menahan diri dari pesona Lani yang cantik dan seksi ini." Tanpa malu, Jefri mengakuinya di depan putranya sendiri. "Lagi pula, asal kamu tahu saja. Papi lebih dulu kenal dan menjalin hubungan sama Lani, jadi kamu jangan pernah mencoba merebut Lani dari Papi."
Yudha tertawa sinis, "Oh, ternyata Papi sudah tahu kalau kemarin aku pacaran sama Lani? Nyesel aku karena sudah pernah punya hubungan sama barangnya Papi!" Yudha menatap rendah ke arah Lani, membuat perempuan itu begitu sakit hati.
__ADS_1
"Kamu juga Lan, nggak tahu diri kamu. Mamiku sudah baik banget sama kamu, tapi kamu malah milih jadi tempat pembuangan nafsunya Papi aku! Aku mengerti sekarang kenapa kamu memutuskan hubungan denganku. Tanpa kamu mintapun jika aku tahu kamulah selingkuhan Papi, aku juga akan mundur."
Yudha menarik napasnya. Tidak tahu harus berkata apa. Hatinya terlanjur sakit. Kata-kata yang telah dia rangkai, hilang begitu saja.
"Ternyata selama ini kau lah tempat Papi ku melampiaskan napsunya. Di kampus kau seperti wanita baik-baik ternyata pekerjaanmu hanyalah mencuri uang orang dengan menjajakan tubuhmu."
"Tutup mulut kamu ya! Lani itu bukan hanya sekadar tempat persinggahan belaka. Papi jatuh hati sama dia. Kami saling mencintai dan perasaan kami itu adalah perasaan yang wajar bagi orang-orang dewasa!" Jefri tentu saja membela Lani.
Lani sudah menangis di sana, dia merasa harga dirinya benar-benar terinjak-injak. Meski Lani juga menyadari bahwa apa yang dikatakan oleh Yudha itu tidak sepenuhnya salah.
"Kalian berdua sama saja! Nggak punya malu! Harusnya kalian itu sadar, kalau kalian itu lebih baik jadi anak sama bapak!" Yudha tidak henti-hentinya mencaci maki Jefri dan Lani, sampai mengundang perhatian dari pengunjung lainnya yang penasaran.
"Menyesal aku pernah mengenal kamu. Mulai hari ini anggap saja kita tidak pernah kenal. Sebagai sesama perempuan, harusnya kamu tahu dan mengerti perasaan Mami Mungkin kamu nggak punya perasaan." Yudha berkata dengan penuh emosi.
"Cukup Yudha! Hentikan ucapanmu!" ucap Papi. Namun, Yudha mengabaikan dan terus bicara.
"Kalau memang akal sehatmu masih berfungsi, coba bayangkan kalau kamu di posisi Mami. Jangan bangga jadi pelakor, karena suami orang memilih bukan karena cinta, hanya sebagai pelampiasan syahwat saja. Kalaupun akhirnya terus bersama, itu hanya karena keterpaksaan pria yang sulit mengendalikan hawa nafsunya. Jodoh adalah cerminan dari diri kita sendiri, jika engkau bangga merebut suami orang mungkin Tuhan berusaha menunjukkan bahwa dia sama busuknya seperti kamu. Yang tentu saja tidak layak untuk terus hidup bersama Mami. Jika dulu budak memiliki kasta terendah, tentunya saat ini perebut laki orang lebih pantas menggantikan posisi itu."
Sebuah tamparan melayang ke pipi Yudha. Jefri tidak terima jika wanita yang dicintainya mendapat penghinaan di depan umum.
Sedangkan pemilik restoran juga panik, karena takutnya nanti malah berdampak buruk pada usaha mereka.
"Kamu bilang saja, kamu cemburu melihat Lani lebih memilih Papi daripada kamu. Lagian Lani bukan gadis bodoh, kalau dia milih kamu maka dia hanya akan mendapatkan teman ranjang saja. Sementara kalau dia milih Papi, dia akan mendapatkan uang, apartemen, apa pun yang dia inginkan, dan juga teman ranjang. Papi bisa memberikan semuanya kepada Lani, bukan kayak kamu. Kamu saja uang jajan masih minta ke Papi." Jefri tanpa sadar membandingkan dirinya dan Yudha, sampai membuat Lani malu karena Jefri membawa-bawa urusan ranjang segala.
"Ternyata ini alasan kamu mutusin aku, Lan? Dan memilih menjadi wanita simpanan pria beristri. Rendah banget ya alasannya." Yudha masih terus merendahkan Lani. Mengindahkan rasa sakit dipipinya.
...****************...
__ADS_1
Selamat Pagi. Bagaimana episode kali ini. Masih kurang greget ya? Nantikan terus kelanjutan dari novel ini.