
Hari ini Rangga pulang lebih awal, sesudah duhur Rangga sudah berada di rumah. Di rumah hanya ada Mamanya karna Dania dan Bella pergi.
Rangga langsung masuk kedalam rumah tanpa disambut oleh Istrinnya. Ia berganti baju dan mencuci mukanya.
Di ruang tamu Mama berbicara serius kepada Rangga. Mama ingin Rangga dan Dania tinggal berdua dalam satu rumah tanpa ada campur tangan orang tua. Karna menurut Mama mereka masih terlalu canggung saat bertemu bahkan bertatap muka.
Awalnya Rangga menolak tawaran Mama, bukan karna uangnya yang tidak cukup membeli rumah atau menyewa rumah, tetapi karna Rangga takut mamanya kenapa-napa saat berada dirumah ini sendirian. Tetapi Mama meyakinkan Rangga, karna sudah ada Bella yang tinggal bersamanya.
Akhirnya Rangga mempertimbangkan kembali permintaan dari mamanya.
Dania dan Bella sudah berada di depan rumah, Dania yang melihat sudah ada mobil suaminnya didepan rumah, Ia langsung masuk dan mengucapkan salam.
Tok...tok...tok
"Assalammualikum." Ucap Dania dan Bella
Dania dan Bella langsung bergabung ke ruang tamu. "Ada apa nih, serius amat." Ucap Bella dengan keponya.
"Kepo benget si nih bocah." Jawab Rangga dengan nada meledek Bella
"Rangga." Dania
"Marain tu mbak, mas Rangganya!" Jawab Bella dengan senang karana Dania membelanya.
__ADS_1
"Hihh, dasar bocah (Ucap Rangga sambil menjambak Rambut Bella). Ayo ke kamar!" Ajak Rangga kepada Dania sambil menggenggam tangan kanannya Dania.
Dania menoleh ke tangannya yang dipegang oleh Rangga lalu menoleh ke muka Rangga.
Rangga yang juga menoleh ke arah Wajah Dania. Jantung Dania berdetak kencang saat bertatapan dengan Rangga.
"Cie-cie-cie." Ucap Bella
Rangga dan Dania langsung mengalihkan pandangannya masing-masing.
"A-ayo." Jawab Dania dengan gugup.
Mama dan Bella tersenyum melihat Rangga dan Dania.
Dania langsung mandi, ganti baju dan juga sholat duhur. Sedangkan Rangga Ia menunggu Dania di kamar sambil mengerjakan tugas kantornya.
Setelah 30 menit akhirnya Dania sudah selesain. Rangga Ingin membicarakan tentang persoalan yang tadi Mama bicarain.
Sedangkan Dania yang masih melipat mukenannya memikirkan kejadian tadi pagi. Ia ingin membicarakan tentang Widya kepada Rangga tetapi Ia takut Rangga marah kepadanya.
"Dania." Ucap Rangga sambil menghampiri Dania
"Iya ada apa, mau aku bikinin minum?"
__ADS_1
"Nggak Aku cuma mau bicara sama kamu. Tadi Mama menyuruh kita buat cari rumah, buat kita tinggal berdua. Apakah kamu setuju dengan tawaran mama?"
"Aku terserah kamu aja. Tapi jika boleh aku minta, Aku mau rumah yang sederhana aja nggak usah besar apalagi mewah. Kan kita tingga berdua dong."
"Iya, Tapi kamu mau nggak suatu saat kita tinggal bersama anak kita."
"Haaa....Iya Aku mau, tapi nanti ya nggak sekarang." Jawab Dania dengan tersenyum manis.
"Iya-iya." Ucap Rangga sambil tersenyum
Mereka di dalam kamar bercerita banyak tentang hidup mereka dulu. Dari mereka kecil sampai kehidupan mereka sekarang. Sampai Rangga mengatakan. "Aku bangga memiliki Istri sebaik kamu."
Dania tersenyum mendengarkan pernyataan dari Rangga. "Aku juga.''
"Aku juga apa?"
"A-aku ju-juga sayang sama kamu."
"Aku kan nggak bilang sayang sama kamu, tapi Aku kan bilang bangga milikin kamu." Jawab Rangga meledek Dania
Pipi Dania memerah karna malu. "Ya udah ah terserah kamu aja." Ucap Dania dengan nada manja.
"Yah...yah itu pipinya kenapa? kok merah. hhahah:)" Rangga semakin meledek Dania
__ADS_1
Mama dan Bella yang sengaja menguping obrolan Rangga dan Dania dari luar pintu kamar. Mereka merasa senang dan tersenyum bahagia karna Rangga dan Dania sudah semakin dekat dan akrab. Mama berharap agar Rangga dan Dania akan semakin dekat kedepannya.