Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
Chapter 77


__ADS_3

Rangga kembali menutup pintu kamar, kemudian melihat Dania yang berjalan ke arahnya.


"Kamu mau kemana?" tanya Rangga


"Aku mau ambil air putih, sekalia cari kamu." Dania tersenyum lebar kepada Rangga.


"Ya udah, aku ke atas dulu ya."


Setelah mengambil minum, Dania kembali ke kamar dengan membawa gelas yang berisi air putih untuk Rangga.


Saat Dania membuka pintu, Ia melihat Rangga yang tengah berdiri di jendela kamar.


Dania meletakkan minumanya di atas meja, kemudian menghampiri Rangga.


Rangga yang tak sadar Dania sudah berada disampingnya, Ia terkejud saat Dania memanggilnya.


"Kamu kenapa sih? kok ngelamun gitu? ada masalah, cerita dong sama aku." ucap Dania


"Nggak kok, aku cuma ngantuk tapi nggak bisa tidur doang. Ya udah deh, sekarang kamu tidur lagi sana!" jawab Rangga, dengan tidak jujur.


Dania berjalan menuju ranjang, kemudian duduk di sudutnya.


"Kamu pernah bilang, kalo ada masalah kita selesain sebelum tidur. Dan aku rasa kamu sekarang ada masalah, ya walaupun aku nantinya nggak bisa bantu, tapi aku bisa jadi teman curhat kamu. Setidaknya kan bisa ngurangin masalah kamu."


Rangga menarik nafas panjang, kemudian duduk di sebelah kiri Dania.


"Aku cuma kepikiran sama mama aja, tadi aku masuk ke kamar mama. Dan nggak sengaja aku ngeliat buku dan di dalam buku itu ada selembar kertas." Rangga terdiam sejenak, untuk mengambil nafas. "Kamu tau isinya apa? isinya itu, mama sepertinya peduli dan perhatian banget sama aku. Tapi apa? selama mama masih hidup aku sering bohong dan bahkan nggak dengerin omongan mama."


Dania memegang pundak Rangga.


"Kamu tau, penyesalan itu di akhir. Karna, Tuhan mau kita sering bersyukur, atas kesalahan apa yang kita lakukan dan untuk kedepanya kita harus memperbaiki semua kesalahan itu." ucap Dania


Mata Rangga berkaca-kaca saat menatap Dania.


"Memang benar kata mama, mama sama papa nggak salah mempertemukan aku sama kamu."


Dania tersenyum, kemudian mengusap air mata Rangga yang belum terjatuh mengenai pipi.


Tangan Dania berhenti dipipi Rangga.


"Inget, jangan pernah ngulangi kesalahan yang sama. Atas apa yang telah kamu lakukan." sambung Dania


Rangga dan Dania sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang, mata mereka saling bertujuan.


"Kita ikut progam hamil yuk." ucap Rangga, yang membuyarkan tatapan Dania.


"Ha? kamu bilang apa?" Dania sebenarnya dengar apa yang dikatakan Rangga, tetapi Ia belum yakin itu terucap di mulutnya.

__ADS_1


"Iya, kamu mau kan ituk progam hamil. Aku rasa sekarang aku udah siap untuk menjadi seorang Ayah." jelas Rangga kembali


Dania mengangguk, kemudian tersenyum kepada Rangga, Rangga juga membalasnya dengan senyuman.


...****************...


Dania terbangun karna seseorang yang membangunkannya, Dania memegang tangan seseorang yang mengusap rambutnya.


Perlahan Dania membuka matanya, mungkin pagi ini adalah awal yang indah menurut Dania, karna disambut senyuman dari Rangga.


"Bangun ya, kita sholat bareng." ucap Rangga, yang masih mengusap rambut Dania.


Dania menggosok matanya perlahan dengan tangannya, kemudian berdiri dan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan berwudhu.


Rangga membantu Dania memasangkan mukenanya dikepala.


Rangga menatap Dania, begitu juga dengan Dania.


Dug!


'Mungkin gue udah cinta dan sayang sama lo, dari dulu. Jantung gue saat dekat lo berdebar sangat kencang.'


Hello?


Dania melambaikan tanganya ke hadapan wajah Rangga.


"Kamu kenapa sih?" tanya Dania heran


"Mata kamu?" ucap Rangga, yang belum selesai.


"Kenapa mata aku, ada be-


"Mata kamu indah." sambung Rangga dengan cepat, kemudian memalingkan padanganya kearah lain.


Dania tersenyum malu saat Rangga mengatakan itu.


...****************...


Selesai sholat, Dania membuatkan minuman kopi hangat yang tak terlalu manis untuk Rangga.


Dania meletakkan secangkir kopi di atas nakas samping ranjang.


Kemudian menyusul Rangga di balkon kamar.


"Kamu masih kepikiran soal tadi malam?" tanya Dania yang sudah berdiri disamping Rangga.


Rangga menoleh kearah Dania, kemudian kembali menatap langit.

__ADS_1


"Nggak kok, aku cuma mau menikmati udara pagi aja." jawab Rangga sambil menghirup udara.


Dania mengangguk.


"Nanti kamu mau berangkat jam berapa ke kantornya?"


"Hemm, jam sembilanan aja deh."


"Ya udah nanti kamu mau sarapan pake apa, biar aku buatin?" tanya Dania


"Nggak usah, nanti kita cari bubur aja diluar."


Pukul 05:30 Dania membangunkan Bella, yang masih tidur di kamarnya.


Tok....tokk....tokk


Berkali-kali Dania mengetu tetapi tak ada jawaban dari Bella.


"Bella, bangun udah siang?"


Rangga datang dan menghampiri Dania. Ia membantu Dania membangunkan Bella, kali ini ada respon dari dalam kamar.


"Iya, bentar." ucap Bella dengan lemas.


"Kamu jam segini baru bangun, ngapain aja tadi malam?" nada Rangga meninggi


"Udah Rangga, kasian Bella baru bangun." sambung Dania


"Iya mas, aku bangu langsung dimarahi. Aku tadi malam kecapean dan kurang tidur gara-gara nonton drakor."


"Ada aja alasanya, ya udah mandi sana, mas sama Dania mau keluar cari bubur ayam, kamu mau?"


Bella mengangguk, sambil menguap.


Rangga dan Dania berjalan kaki menuju pangkalan tukang bubur ayam, karna jaraknya yang tak terlalu jauh dari rumah.


10 mereka berjalan akhirnya mereka sampai ditujuan. Dania menoleh sekeliling meja, semua meja dan kursi sudah di tempati.


"Yah udah penuh, kita makan di rumah aja gimana?" ucap Dania menoleh kearah Rangga.


"Iya mas, mbak, maaf lagi penuh. Gimana mau dibungkus atau mau nunggu aja?" tanya penjual bubur.


"Makan sini aja bang, nanti kita bawa mangkuknya ke sana boleh?" ucap Rangga sambil menunjuk ke arah bangku di tengah taman.


"Boleh, mas. Tunggu sebentar ya."


Setelah 2 mangkung bubur ayam sudah berada ditangan Rangga, mereka berdua berjalan menuju kursi di tengah taman.

__ADS_1


Taman ini cukup sepi, karna sebenarnya ini bukan taman melainkan lahan kosong.


__ADS_2