Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
39. Pergi Ke Salon


__ADS_3

Di dalam perjalanan menuju rumah mama mertua, menempuh waktu 3-4 jam


Didalam mobil aku dan Rangga hanya diam-diam saja, hanya ada suara musik yang membuat suasana tak hening.


"Aku akan memperbaiki semuanya." ucap Rangga sambil mengecilkan volume musik.


Aku yang terkejut sekaligus tidak mengerti apa yang dimaksud Rangga. "Memperbaiki apa?"


Rangga menaikkan alis kanannya, kemudian menghela nafas. "Dasar bodoh! kamu ini pura-pura tidak tau atau gimana si?"


"Berhenti ngatain aku bodoh!" Dasar cowok brengsek! tambahku dalam hati kemudian menoleh kearahnya, dia juga sedang mengarah kearah ku.


Rangga tak menjawab ku. Kemudian tak lama Ia menghentikan mobilnya di dekat taman.


"Kenapa berhenti?" tanyaku


"Liat itu." Rangga menunjuk beberapa wanita yang sedang berjalan ditaman. "Kamu nggak mau seperti mereka?"


"Bermain, maksud kamu?" tanyaku yang masih belum mengerti.


Lagi-lagi Rangga menghela nafas kemudian menjawabku. "Kamu itu cantik, tapi gaya kamu aja yang salah."


"Ha?" lagi-lagi aku belum mengerti maksudnya.


"Polos banget si kamu."


Aku mengerutkan dahiku, kemudian menoleh kearah Rangga. Ia kembali menacapkan gas mobil dan mengendarai menjauhi taman.


Rangga berhenti di salah satu caffe.


"Ngapain kita kesini?"


"Makanlah, kamu nggak laper?"


"Kitakan bisa makan dirumah mama aja, kenapa harus ke caffe?"


"Udah turun aja!" Rangga keluar dari mobil dan masuk kedalam caffe, aku mengikutinya dari belakang.


Kita duduk didekat jendela, kebetulan caffe sudah sepi, mungkin karna sudah memasuki jam kerja. Tak lama pelayan datang menghampiri kami, menanyakan pesanan.


Sudah hampir satu jam kita berada disini, sebenarnya sarapan kita sudah habis dari tadi. Tetapi Rangga malah sibuk dengan leptopnya, entah apa yang dia kerjakan.


Setelah satu jam lebih kita berada di cafe dan Rangga sudah selesai dengan leptopnya, kita melanjutkan perjalanan.

__ADS_1


15 menit kemudian Rangga berhenti kembali didepan salon.


"Kenapa lagi?"


"Ikut aku!'


Aku mengikutinya masuk kedalam, aku duduk dikursi tunggu, sedangkan Rangga menemui seseorang Hair sylist. Entah apa yang dia lakukan disini?


Seseorang perempuan yang mengenakan kaos putih dan celana hitam jeans menghampiriku. "Mbak ayo ikut saya."


Rangga yang berada dibelakangnya dengan tangan yang selalu Ia lipat didada memberikanku kode agar aku mengikuti perintah wanita dihadapanku.


Aku mengangguk kemudian tersenyum kepadanya. Lalu mengikuti dia dari belakang.


"Silakan duduk mbak, perkenalkan nama saya Nora saya pegawai disini."


Aku duduk di kursi yang berhadapan dengan kaca. "Saya Dania."


"Iya mbak Dania, boleh saya lepas ikat rambutnya?"


"Boleh, tapi saya saja yang melepasnya."


Nora mengangguk, kemudian mengurai rambutku dan mengambil sisir di depanku, lalu mulai menyisir rambutku perlahan.


"Maaf sebelumnya, tadi suami mbak Dania menyuruh saya untuk make up mbak dan menata rambut mbak Dania.''


Dasar Rangga kenapa tak bilang dari tadi.


Aku mengangguk kemudian membalikkan badanku kearah cermin.


Hampir 3 jam aku berada dihapan cermin, sempat kulihat berapa kali Rangga mengintip ku, tapi aku tak memperdulikannya. Mungkin dia bosan menungguku, salah siapa dia mengajakku kesini.


Pukul 13:45 aku selesai, aku menatap bayanganku sendiri dicermin rambutku yang tadinya bergelombang sekarang tampak lurus, rambutku memang agak berwarna kemerahan dari kecil. Wajahku yang sudah di penuhi dengan make up tampak lebih cantik dari sembelumnya, tadinya aku memakai celana jeans dan baju berwarna merah kini memakai gaun berwarana silver yang menutupi lutut, ditambah dengan sepatu heels yang tak terlalu tinggi.


perfect.


Ucap lelaki dibelakangku, tadi saat aku sedang ber-make up diganti dengan seorang lelaki yang entah namanya siapa.


"Makasih." ucapku sambil melontarkan senyuman kepada laki-laki itu.


Aku berjalan menghampiri Rangga, yang ternyata sedang menatap leptopnya.


"Rangga."

__ADS_1


Rangga menoleh kehadapanku, matanya membulat, kemudian dahinya mengerut. Memandangiku dari rambut hingga kaki.


"Kenapa? aku nggak pantes ya pa-"


Hutss


"Kamu cantik." Dan nyaris sempurna, tambahnya dalam hati.


Aku tersenyum kepada Rangga.


Laki-laki yang tadi meriyas wajahku datang menghampiri kami.


"Terima kasih ya." ucap Rangga kepadanya.


"Sama-sama--"


"Ya sudah saya pergi dulu."


Aku dan Rangga kembali ke dalam mobil, dan melanjutkan perjalanan menuju rumah mama yang sudah tak jauh lagi. Tetapi Rangga mengajakku untuk membelikan kado buat Bella terlebih dahulu. Kita berhenti di mall yang tak jauh dari tempat yang tadi.


Didalam sana kita mencari-cari kado yang cocok untuk Bella, kita melihat dari baju, tas hingga sepatu. Tetapi kita belum ada yang cocok.


"Bella pernah bilang kepada kamu nggak kalo dia lagi pingin sesuatu?" tanyaku


Rangga sempat terdiam untuk berfikir. "Oh ya aku ingat."


Rangga menghampiri dan bertanya kepada pegawai wanita yang ada di sini. Wanita itu pergi dan kembali membawakan tas yang berwarana biru tua.


"Tas?"


Rangga mengangguk, kemudian pegawain wanita tadi kembali dengan membawa paper bag yang berisi tas.


Kemudian kita keluar dari tempat ini, Kita turun ke lantai dua, Rangga mengajakku makan di sini. Karana waktu sudah menunjukkan pukul 15:35, kita memang belum makan siang tadi.


Aku yang tak terbiasa memakai heels berjalan agak pelan karna tergelincir.


Rangga yang sudah berada di depanku, menoleh kebelakang. Kemudian berjalan menghampiriku.


Rangga memberikan telapak tangannya kehadapanku. "Kenapa?" tanyaku


"Mana tangan kamu?"


Rangga memegang telapak tangan kiriku dengan telapak tangan kanannya. "Biar aku bantu."

__ADS_1


Aku tersenyum kepadanya, Rangga yang menatapku juga ikut tersenyum.


__ADS_2