
Makan malam tiba, Rangga, Dania dan Bella sudah berada di meja makan. Rangga menyuruh Kiki untuk ikut gabung makan bersama.
Awalnya Kiki menolak, karna Ia merasa tidak pantas duduk sejajar dengan majikannya. Tapi Rangga tak memperdulikan hal itu.
"Gimana kamu nyaman kerja disini?" Tanya Rangga
"Ouh, nyaman banget. Mbak Dania itu orangnya baik, jadinya tuh saya tambah betah di sini!" Ucap Kiki dengan logak jawa.
"Baguslah!" Rangga melanjutkan makannya.
Dania hanya tersenyum, sedangkan Bella mengerutkan keningnya.
Sebelum pergi ke kamar Dania meminta Kiki untuk memanaskan lagi sisa sayur tadi, agar besok pagi masih bisa di makan.
Kini tinggal Bella dan Kiki yang berada di dapur, Bella yang sedang membuat minum selalu melirikkan matanya kearah Kiki.
"Ada apa ya mbak?" Tanya Kiki yang merasa dirinya diperhatikan oleh Bella.
"Nggak papa kok. Hati-hati ya!" Ucap Bella
"Hati-hati kenapa ya mbak?" Kiki merasa bingung.
"Ya lo harus hati-hati, karna rumah ini itu ada...ada," Bella melangkahkan kakinya ke belakang, mata Kiki nyaris membulat karna penasaran atas apa yang Bella ucapkan. "Ada penunggunya lo!"
"Masa to mbak?" Kiki masih tak percaya yang di katakan Bella itu benar.
Bella membalikkan badannya.
"Bella." Dania kembali lagi ke dapur untuk mengambil air putih. "Nggak usah dengerin Bella ya Ki!"
"Iya Mbak, lagian kalo rumah ini ada penunggunya pasti Mbak Bella yang lari duluan!" Ledek Kiki, sambil menahan tawanya.
Bella mulai merasa kesal, ini namanya senjata makan tuan!
"Apaan sih lo." Bella memanyunkan bibirnya, kemudian pergi ke kamarnya.
"Udah di panasin?" Tanya Dania, sembari mengambil gelas.
"Udah Mbak."
Dania mengangguk.
Di dalam Rangga sudah membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Dania meletakkan gelasnya di atas meja, kemudian membuka lemari.
"Kamu besok mau pake baju apa?" Tanya Dania.
"Aku besok nggak ke kantor." Rangga beranjak dari ranjangnya dan berjalan menghampiri Dania.
"Ha? Kamu nggak enak badan? kamu sakit?" Dania panik
__ADS_1
Rangga mengangguk.
"Kamu sakit apa? mananya yang sakit? kenapa kamu dari tadi nggak bilang sih."
Wajah Rangga mendekati wajah Dania.
"Kamu khawatir ya?" Rangga tersenyum, melihat wajah Dania yang panik.
Dania membulatkan matanya, Ia tahu sekarang bahwa Rangga sedang berbohong.
Dania mendorong pundak Rangga, hingga Rangga sedikit terdorong ke belakang. Dengan kesal Dania berjalan dan menaiki ranjang.
"Kok kamu marah sih?" Rangga mendekati Dania.
"Tauk ah." Dania masih kesal dengan Rangga.
"Aku minta maaf, aku nggak bermaksud bikin kamu khawatir."
Rangga memegang tangan Dania, berharap Dania menatapnya.
"Aku mau Es Krim." Dania melirikkan matanya.
"Es Krim? Ini udah malam, mana ada penjual Es Krim, kalo pergi ke Indomart jauh."
Dania hanya menoleh kearah Rangga, tanpa berbicara.
"Iya-iya, aku cariin." Rangga berdiri, Dania tersenyum tipis melihat punggung Rangga.
"Nggak, nggak jadi maksud kamu?" Rangga menoleh ke belakang.
Dania menggelengkan kepalanya, tersenyum kepada Rangga.
"Ouh, kamu ngerjain aku!" Rangga kembali keatas ranjang, mendekati Dania. Kemudian mencubil perutnya, Dania merasa geli. Ia sampai membaringkan tubuhnya, tubuh Rangga menimpa Dania. Mata mereka mengarah pada satu tujuan.
Dania tersenyum tipis, begitu juga dengan Rangga.
...****************...
Bella membuka pintu kamarnya, karna mendengar canda tawa dari kamar Rangga. Bella kaget saat dirinya membuka pintu, di depannya sudah ada Kiki yang sedang membawa kain lap.
"Ih, lo itu ngagetin aja sih."
"Mbak Bella yang ngagetin aku to."
"Udah-udah, kamu juga dengar berisik-berisik nggak dari kamar Mas Rangga dan Mbak Dania?" Tanya Bella
"Iya makanya saya kesini, ada apa ya? kayaknya lagi seneng banget gitu." Ucap Kiki, jarinya telunjuknya menutup mulutnya.
"Kita intip yuk." Ajak Bella, Kiki pun setuju. Mereka berdua berjalan mengendap-endap hingga sampai di depan kamar Rangga dan Dania.
__ADS_1
Dasar kepo!
Bella dan Kiki menempelkan telinganya di pintu kamar, agar lebih jelas mendengar suarannya.
"Lagi ngapain ya itu?" Tanya Kiki
"Huts!" Bella menyuruh Kiki untuk diam, agar tidak ketahuan.
Kiki mengangguk.
Brug!
Kiki tak sengaja menyenggol vas bunga di belakangnya, untung saja tidak sampai pecah.
Mata Bella nyaris membulat, pasti dia akan ketahuan oleh Rangga.
"Kiki!"
"Maaf nggak sengaja."
Dania dan Rangga yang mendengar suara kegaduan di depan kamarnya, langsung beranjak dari ranjang dan keluar untuk melihat kegaduan apa yang terjadi di depan kamarnya.
"Apaan sih itu?" Tanya Dania
"Nggak tau!"
Rangga membuka pintu kamarnya, melihat Bella dan Kiki yang sedang merapikan vas bunga yang tadi sempat di jatuhkan oleh Kiki.
Bella meringis, melihat Rangga sudah berada di depan pintu.
"Ngapain kalian disini?" Tanya Rangga
"Kita...Kita dari-" Bella kelihatan sangat gugup, untuk mencari alasan agar tak kena marah Rangga.
Bella menyenggol tangan Kiki, berharap Ia membantu bicara.
Kiki menarik nafas panjang.
"Kita habis dari balkon ya, ngobrol berdua. Curhat-curhat."
Rangga menatap Bella dan Kiki sinis.
"Kalian bohong ya, pasti kalian nguping pembicaraan kita ya!" Ucap Rangga
"Nggak kok ya." Bella menatap Kiki.
"Iya nggak kok mas Rangga." Jawan Kiki
"Udah-udah, kalian turun. Masuk ke kamar masing-masing! Tidur udah malam!"
__ADS_1
Bella dan Kiki mengangguk, lalu turun dengan kepala menunduk mereka berjalan.
Dania menyuruh Rangga untuk masuk kembali ke kamar.