
Aku sudah siap untuk menemui Rangga malam ini, setelah Rangga mengirimkan alamatnya. Pukul 22:00 aku berangkat dari rumah.
Aku berada dititik tujuan yang Rangga beri, aku terkejut ternyata yang aku datangi adalah sebuah klub. Aku turun dari taxi yang aku tumpangi.
Aku menelfon Rangga, Rangga sudah menyuruh seseorang untuk mengantarkan aku padanya.
Setelah meletakkan poselku didalam tas, aku masuk kedalam klub. Dengan membuang jauh-jauh rasa raguku.
"Nono Dania?" tanya penjaga pintu, dengan postur tubuh yang besar dan berkulit hitam. Aku mengangguk.
"Mari ikut saya." ucapnya lalu melangkahkan kakinya masuk kedalam klub, mengantarkanku menuju tempat dimana disitu terdapat Rangga dan teman-temannya, aku juga melihat ada Aldo disitu.
"Hay, Dania." sapa Aldo dengan ramah, aku membalasnya dengan senyuman.
Rangga berdiri dari duduknya, lalu berdiri disampingku. "Bagus kamu datang tepat waktu."
"Buat apa kamu menyuruhku datang kesini?" ucapku dengan canggung.
"Kamu mau membantu aku kan?"
Banyak pertanyaan yang ingin aku tanya sama Rangga. Tetapi yang terucap hanyalah kata. "Iya."
Rangga menepuk kedua telapak tangannya, kemudian datang 4 wanita yang berpenampilan sexy, datang dihadapan aku dan Rangga.
"Maukah kamu membantuku, untuk memilih siapa yang berhak bersamaku malam ini?"
Mataku mengarah tajam kearah Rangga, menyekram air mataku agar tidak jatuh.
__ADS_1
"Maksud kamu apa?"
"Kamu pasti tau lah." ucapnya dengan penuh kemenangan.
"Menurut kamu siapa yang paling menarik diantara empat orang ini." ucapnya kemudian merangkul pundakku. "Mereka terlalu banyak, aku akan kelelahan menghadapi mereka sekaligus. Jadi silakan pilih satu saja dari mereka, untuk menemani aku malam ini."
Yang pantas menemani aku malam ini.
Aku mengulangi kalimat terakhir yang Rangga ucapkan. "Rangga benar-benar gila, dia menyuruhku memilihkan wanita untuk menemani dirinya tidur."
Teman-teman Rangga tertawa riang, menyaksikan drama aku dan Rangga. Sedangkan Rangga tersenyum miring penuh kemenangan atas kelakuanya, aku melirikkan mataku kearah Aldo, dia hanya terdiam santau disofa yang ia duduki.
Aku menarik nafas panjang. Jangan menangis dihadapan pria brengsek ini.
Aku menatap tajam wajah Rangga.
Aku refleks menampar pipi kiri Rangga, aku tak bisa menahan emosiku. Aku menampar Rangga sekeras mungkin, sampai tanganku memerah.
Semua teman-teman Rangga yang tadinya menertawakan kedatangan aku sekarang mereka semua terdiam.
"Terserah kamu, terserah siapapun wanita yang ingin tidur bersamamu malam ini, asalkan kamu puas dan bahagian, aku nggak masalah." ucapku dengan berat.
Setelah kalimat terakhir yang aku ucapkan, aku langsung keluar dari tempat ini.
Aku bersumpah, aku nggak akan lagi kembali apalagi menginjakkan kaki aku di tempat ini. Tempat terkutuk, seharusnya aku tak datang ketempat ini.
Aku menghapus air mataku, kemudian mengambil hanphone didalam tas untuk memesan taxi agar aku cepat pergi dari tempat ini.
__ADS_1
"Pulang sama aku aja."
Aku cepat-cepat menghapus air mataku yang masih menetes, kemudian menoleh kesumber suara. Melihat Aldo sudah berdiri dengan wajah datarnya disampingku.
"Aldo, mau ngapai kamu disini?"
"Aku antar kamu pulang ya."
Aku mengangguk, lalu masuk kedalam mobil Aldo. Kita saling diam, kemudian Aldo yang memulai bicara. "Aku nggak nyangka dia akan ngelakukan hal seperti itu. Memang dari dulu dia nggak berubah."
"Aku juga nggak nyangka, kedua kalinya aku ngelakuin ini dihadapan aku. Aku masih istri-nya, tapi apa yang dia lakuka sama aku. Dia benar-benar sudah kehilangan kesadaran."
Aldo menatapku, seakan Ia ingin bicara sesuatuh tetapi sulit untuk Ia katakan. "Kamu ada yang mau diomongin sama aku?"
Aldo menoleh kehadapanku. "Ngomong?"
"Iya, kamu kaya mau ngomong sesutuh tapi bingung ngonongnya kayaknya?"
"Sebenarnya-"
Drut
Suara hanphone Aldo berbunyi. Sepertinya ada yang menelfon tetapi Ia tak mengangkatnya.
"Kenapa nggak diangkat?"
"Nggak papa kok, nanti aja setelah nganterin kamu pulang. Aku bisa telfon lagi."
__ADS_1
Aku mengangguk, walau sebenarnya aku curiga siapa yang menelfon Aldo. Oh ya tadi Aldo mau bilang apa ya, aku masih penasaran dengan omongannya. Tetapi entahlah, biarin aja. Yang penting aku harus lupain semua kejadian yang tadi.