Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
Chapter 71


__ADS_3

...****************...


Mama ada arisan sejak tadi sore dan nanti Rangga yang akan menjemput mama untuk makan malam diluar.


Dania dan Bella sudah siap untuk pergi ke caffe yang sudah mama Yuli booking untuk acara ini.


Rangga ❤️


^^^Rangga aku berangkat ya (\= Dania^^^


\=) Iya, hati-hati ya


Aku sebentar lagi jemput mama.


^^^Okey (\= Dania^^^


Dania mengembalikan hanphonenya kedalam tas, lalu menyusul Bella yang sudah menunggunya didalam mobil.


Sesampainya di caffe Bella dan Dania menuju lantai dua dan menempati meja yang sudah di hiasi oleh makanan dan minuman yang sudah dipesan oleh mama Yuli.


...****************...


Rangga dan Mamanya sudah dijalan menuju caffe, tetapi ditengah jalan tiba-tiba ada truk yang melaju dengan cepat dan berlawanan.


Jalanan begitu sepi, karna Rangga mengambil jalan pintas agar lebih cepat sampai ditempat tujuan.


Dari kejauhan Rangga melihat truk tersebut oleng dan menguasai jalan, sepertinya supirnya baru saja mabuk.


"Rangga itu gimana sih?" tanya mama dengan panik.


"Mama tenang aja ya." Rangga membantingkan setirnya kearah kiri.


"Rangga, hati-hati." terak mama.


Br**ak


Mobil Rangga menabrak pohon, Mama sudah tak sadarkan diri.


'Dania.' ucap Rangga sebelum Ia tak sadarkan diri.


...****************...


Pragg


Dania tak sengaja menabrak pelayan yang sedang membawa nampan yang berisi 2 gelas minuman, saat dirinya berdiri dan membalikkan badanya secara tiba-tiba.


Nampan yang dibawa pelayan tersebut jatuh, alhasil gelas juga peca.


"Maaf mas, saya nggak sengaja." ucap Dania dengan rasa bersalahnya.


"Iya mbak, nggak papa. Saya yang minta maaf." saut pelayan tersebut.


Dania kembali duduk, sedangkan pelayan tersebut membereskan percikan gelas yang pecah.


'Ada apa ya, kok aku tiba-tiba keinget sama Rangga?'

__ADS_1


"Permisi mbak." pelayan itu pergi saat lantainya sudah bersih.


Dania mengangguk.


"Mbak nggak papa kan?" tanya Bella yang melihat gelagak Dania sangat gelisah.


"Iya nggak papa, mama sama Rangga mana ya, kok lama banget." Dania berusaha bersikap tenang dihadapan Bella, agar Bella tidak ikutan cemas.


Tutt....tuttt....tutt


Dania berusaha menelfon Rangga beberapa kali, tetapi tidak dijawab.


Perasaannya makin tidak enak, apa jangan-jangan terjadi sesuatuh dengan Rangga?


Ah, Dania berusaha menghilangkan pikiran yang macam-macam tentang Rangga.


"Telfon tante Yuli kok nggak aktif ya? seharusnya mereka sudah sampai disini dari tadi." ucap Bella


"Iya, telfon Rangga juga nggak aktif."


"Mbak yang tenang ya, aku yakin mas Rangga nggak kenapa-napa kok." ucap Bella, berusaha meyakinkan Dania yang kelihatan sangat gelisah.


30 menit berlalu, Dania dan Bella memutuskan untuk pulang dan menunggu Rangga dirumah.


Drut...drutt....druttt


Dania menghentikan langkahnya saat diparkiran, lalu mengambil hanphonya ditas.


"Rangga." ucap Dania kepada Bella, yang juga menghentikan langkahnya.


"Diangkat mbak."


'*Ini dengan keluarganya korba*n' ucap seorang pria dari balik telfon


Dugg


"Iya, saya istrinya. Ini siapa ya?"


'Saya Agung, yang menyelamatkan suami anda."


"Rangga, ada apa dengan Rangga?"


'Suami anda kecelakaan dijalan, sekarang berada di rumah sakit Radika kasih.'


Dania langsung mematikan sambungan telfonnya dan menyuruh Bella untuk pergi ke rumah sakit Radika Kasih.


...****************...


Sesampainya dirumah sakit Dania dan Bella, langsung bertanya kepada suster.


Dania bertemu dengan seorang lelaki paruh baya, mungkin dia yang tadi menelfon Dania menggunakan nomer Rangga.


"Mbak ini istrinya?" tanya orang tersebut.


"Iya, saya istrinya dan ini adek saya. Dimana Rangga?" Dania memperkenalkan dirinya kepada orang tersebut.

__ADS_1


"Saya Agung orang yang tadi menelfon mbak, suami mbak ada didalam."


Dania langsung masuk tanpa berkata apa-apa kepada Agung.


Bella yang ingin menyusul Dania, langkahnya terhenti saat Agung memanggilnya.


"Mbak, maaf ini barang dari korban." Agung memberikan hanphone dan map berwarna coklat kepada Bella.


"Makasih ya pak."


"Iya, saya pamit pulang dulu ya."


Bella mengangguk, lalu menyusul Dania masuk kedalam.


"Nga, Rangga. Bangun aku mohon kamu harus kuat." Dania berusaha membangunkan Rangga, "Aku sayang sama kamu." ucap Dania lirih ditelinga Rangga.


"Mbak yang sabar ya, aku yakin mas Rangga itu kuat." Bella memeluk pundak Dania.


Tak lama mata Rangga secara perlahan membuka. Dania langsung memegang tangan Rangga.


"Rangga." Dania menghapus air matanya, dengan tangan yang satunya.


"Dania? mama dimana?" tanya Rangga dengan lirih.


"Mama koma, tetapi dokter terus berusaha yang terbaik untuk mama."


"Kamu nangis? kenapa?" Rangga memegang lehernya, yang merasa sangat pegal dan kepalanya yang terasa sakit.


"Aku takut kamu kenapa-napa." jawab Dania


"Tapi aku nggak papa kan, udah ah, nggak usah nangis." Rangga mengusap air mata Dania yang masih di pipi.


Bella yang merasa terkacangi, akhirnya Ia keluar untuk mencari udara segar.


Baru saja Bella ingin duduk ada seorang dokter yang menghampirinya.


"Dengan sodara Ibu Yuli, yang kecelakaan tadi?" tanya dokter.


"Iya, itu tante saya dok, gimana kondisinya?"


"Alhamdululilah beliau sudah sadar dan ingin bertemu dengan anaknya, tapi kondisi Ibu Yuli masih sangat keritis."


Diruangan ICU, Rangga langsung memeluk mamanya, banyak rasa bersalah dalam hatinya, seharusnya Ia tak melewati jalan yang sepi tersebut.


"Mah, maafin Rangga, mama harus kuat!" Rangga tak tahan dengan air matanya, Ia memegang erat tangan mamanya.


"Ka-kamu, harus jan...jin sama mama yah." Mama berusaha mengeluarkan suaranya yang terasa sangat berat.


"Iya, Rangga akan janji dan nurut sama mama, tapi mama harus kuat."


"Ka-mu ha-rus jagain Da-nia." Mama menarik nafas panjang, seperti kejang-kejang.


"Mah...mama bangun. Dok dokter!" terik Rangga.


Bella langsung berlari mendekati tantenya.

__ADS_1


Tak lama Dokter datang untuk memeriksa mama Yuli, Dania mendekati Rangga, berusaha menenangkannya.


Rangga menangis dalam pelukan Dania.


__ADS_2