
...----------------...
Sesampainya di gerbang rumah mama mertua, tampak dari luar masih sepi.
Aku dan Rangga masuk kedalam, sepertinya acara akan dilakukan ditaman dekat kolam berenang.
Mama datang dari arah dapur, kemudian menyapa kami. "Ya ampun, kalian kapan datang. Mama kangen sama kamu Dania."
Mama memelukku erat.
Mama melepaskan pelukannya setelah deheman dari Rangga. "Kenapa kamu si Rangga?"
"Nggak papa kok. Dimana Bella?"
"Lagi dikamarnya."
Mbak Dania, mas Rangga.
Suara yang cukup keras dari arah samping kiriku. Kami bertiga menoleh kearah sumber suara itu, ternyata Bella yang sedang berjalan menghampiri kami.
"Ya udah mama pergi mandi dulu ya."
"Ya ampun, mbak Dania cantik banget." ucap Bella setelah memperhatikanku cukup lama dari atas sampai bawah.
"Heem, makasih. Kamu juga cantik."
"Ya udah, aku ke kamar dulu ya." ucap Rangga sambil berjalan meninggalkan kami.
"Kita kekamar aku yuk mbak."
Didalam kamar Bella bercerita banyak, sampai aku bingung harus menanggepi yang mana. Bella bercerita sambil meriyas wajahnya, karna acara akan dimulai 1 jam lagi.
Bella memperhatikanku dari cermin yang berada dihadapannya, kemudian membalikkan badannya dan menghampiriku.
"Kayaknya make up mbak harus dibenerin, udah mulai luntur tauk." Bella menyuruhku duduk dikursi tempat Ia meriyas wajahnya.
"Mbak make up-an dari kapan? aku nggak pernah melihat mbak Dania dandan secantik ini."
"Tadi siang Rangga mengajakku pergi kesalon."
"Owh, mbak kalo mau dandan seperti ini setiap hari pasti mas Rangga nggak bosan melihat mbak Danai."
Aku terdiam setelah kalimat terakhir terlontar dari mulut Bella. Bagaimana dia nggak bosan menatapku, karna setiap hari aja kita tak mesti ketemu.
"Ada apa mbak?"
__ADS_1
"Nggak papa kok."
"Owh, tak kirain ada apa? udah selesai nih."
Aku melihat wajahku dibalik cermin, Bella memang mahir dalam meriyas wajah.
Seseorang membuka pintu kamar Bella, setelah pintu terbuka kami melihat mama. "Bella kamu sudah selesai, teman-teman kamu udah datang tu. Dania kamu bantuin mama ya."
"Iya tante sebentar, nanti aku keluar."
Aku berdiri dari kursi kemudian mengikuti mama dari belakang.
Bella POV
Hanphone aku berbunyi diatas meja riyas, aku mengambilnya dan melihat ada notifikasi dari Dimas. Aku langsung membukanya.
Dimas
📩 : Nanti aku akan kerumah kamu.
📩 : Aku siap menghadapi mas Rangga dan juga tante Yuli.
📩 : Kamu tenang aja ya. Nanti aku kesitunya telat, karna ini masih di rumah.
Kamu mulai saja dulu acaranya.
Bella
📤 : Aku tunggu kamu, kamu hati-hati dijalan ya.
Setelah membalas pesan dari Dimas, aku melihat sekali lagi tampilanku dihadapan cermin. Saat aku ingin keluar aku melihat foto orang tuaku, aku berhenti dan mengambil foto itu. Tak tersadar air mataku jatuh mengenai pipi aku langsung menghapusnya perlahan.
Bella.
Suara mbak Danai dari belakang pintu kemudian membuka pintunya. "Bella ayo keluar. Kamu kenapa." Mbak Dania menghampiriku mengambil bingkai foto dalam tanganku.
"Mbak tau yang kamu rasakan sekarang. Merindukan seseorang yang sudah tak bisa kita liat lagi didunia ini." Mbak Dania mengelus-elus pundakku.
Bella.
Kini suara tante memanggilku dari kejauhan.
"Ayo keluar, udah pada nungguin itu."
Aku mengangguk, kemudian mengikuti mbak Dania berjalan disampingnya.
__ADS_1
Baru saja kita keluar kamar, aku melihat tante Yuli berjalan menghampiri kami.
"Eh, kamu dari tadi dipanggilin nggak keluar-keluar. Temen-temen kamu udah pada ngunggu itu."
"Ya udah ayo Bella."
15 menit kemudian acara dimulai, terapi Dimas belum menunjukkan akan kehadirannya.
Setelah kue dipotong, aku memberikan potongan pertama untuk tante Yuli, yang selama ini sudah aku anggap seperti orang tua kandungku sendiri.
Dan yang kedua aku berikan kepada Mbak Dania, yang sudah aku anggap kakak bagiku.
Kemudian yang ketiga, untuk mas Rangga. Aku menyuruh mbak Dania yang memberikan sepotong kue dan menyuapi mas Rangga.
"....."
"Ha? kok jadi aku si Bella?"
"Iya, aku mau mbak Dania yang memberika kue ini kepada mas Rangga. Setuju nggak tante?"
Tante Yuli mengedipkan matanya kemudian melontarkan senyuman.
"Kamu nggak mau." ucap mas Rangga menoleh kepada mbak Dania.
"Ha?"
"Tu mbak, mas Rangga aja mau kok."
"Ya udah."
Dania memasukkan garpu kecil yang berisi sepotong kue, mata mereka saling tatap menatap.
Setelah acara potong kue selesai, tante Yuli mengizinkan semua teman-temanku untuk menikmati makanan yang sudah disiapkan.
Dania POV
Setelah aku dan Rangga memberikan kado yang sudah kami beli kepada Bella. Kami berdua menuju kursi didekat kolam renang yang kosong.
"Mau minum?"
Aku mengangguk.
Setelah beberapa menit, Rangga kembali dengan membawa nampan yang berisi 2 piring somay dan teh hangat.
Aku memakan somay yang sudah Rangga bawa.
__ADS_1
Aku menghentikan suapanku, melihat tangan Rangga yang mengarah kebibirku. "Masih saja belepotan kalo makan." bibir Rangga yang berwarna merah melebar tersenyum.