Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
chapter 49


__ADS_3

Aku menghampiri Ibu yang sedang bicara dengan Jessica dikursi taman depan rumah.


Kelihatanya mereka sangat serius dalam berbicara.


"Ibu." sapa aku, Ibu kelihatan sangat bingung saat aku datang.


"Eh, Dania. Gimana perut kamu udah sembuh?"


"Udah kok Bu."


"Ya udah Bu, aku masuk dulu ya." ucap Jessica, lalu melirikkan matanya kepadaku dengan julid


Aku hanya tersenyum, melihat kearah Jessica. Setelah Jessica pergi aku duduk disamping Ibu, aku merasa aneh dengan tingkah Jessica, perasaanku menjadi tidak enak.


"Ibu sama Jessica bicara apa, serius banget kayaknya?"


"Ha, ti-tidak kok. Jessica nggak bicara apa-apa." ucap Ibu terbatah-batah.


Ada apa ya dengan Ibu, kaya nyembunyiin sesuatu?


"Aku tau Ibu bohong, Ibu sama Jessica nyembunyiin sesuatuh ya dari aku?"


Ibu mengalihkan pandanganya, lalu menarik nafas, kemudian menjawab pertanyaanku sambil memegang tanganku.


"Ibu minta maaf ya, seharusnya waktu itu Ibu nggak nyuruh kamu buat gantiin posisi Jessica. Sekaran Jessica-"


Raut wajah Ibu penuh penyesalan dan sepertinya Ibu juga menahan air matanya agar tidak jatuh.


"Bu aku tau apa yang ingin Ibu katakan. Jessica menginginkan Rangga kan? tapi Ibu tenang saja aku nggak akan membiarkan Jessica mengambil Rangga begitu saja, aku akan mempertahankan pernikahanku apapun resikonya." aku berusaha tenang dihadapan Ibu padahal baru saja tadi aku dan Rangga membicarakan tentang perceraian


"Syukurlah, Ibu nggak ingin pernikahan kamu hancur. Apalagi karna Jessica, Ibu juga nggak akan biarin Jessica ngehancurin kebahagiaan kamu. Dan satu lagi yang kamu harus ingat kalo perjodohan kamu itu adalah keinginan terakhir dari almarhum Ayahnya Rangga."


Aku mengangguk tersenyum kepada Ibu. Saat semua orang sudah pulang, aku kembali masuk kedalam kamar. Melihat Rangga sudah tertidur dengan pulas, aku tidur disampingnya mataku mengarah kelangit dinding atas.


Bagaimana caranya aku mempertahankan pernikahanku, jika Rangga saja tak mencintaiku.


Sesekali aku melirik kearah Rangga, kemudian kembali lagi kelamunanku.


Aku tersadar dari lamunanku saat mendengar seseorang memanggil namaku.

__ADS_1


"Dania."


Aku menoleh kearah Rangga, dia terbangun kemudian duduk diatas ranjang menatapku. "Iya, kenapa kamu bangun?"


"Harusnya aku yang bilang, kenapa kamu belum tidur. Ini kan udah tengah malam."


Aku melirikkan mataku kearah jam didinding, jarum jam menunjukkan pukul 01:25.


"A-aku belum ngantuk. Kamu sendiri kenapa bangun."


"Aku kebelet, aku kekamar mandi dulu ya."


Aku mengangguk, setelah Rangga keluar aku memposisikan tubuhku meringkuk seperti janin. Menutup sebagian tubuhku dengan selimut, meletakkan kedua tanganku dibawah kepala.


Bagaimana jika Ibu tau aku akan berpisah dengan Rangga. Gimana juga dengan perasaan Mama-nya Rangga, aku harus membatalkan perceraian ini. Gimanapun carana.


Tak lama aku mendengar suara pintu terbuka diikuti langkah kaki yang mendekati ranjang.


Jangan sekarang, ini sudah malam. Akan aku bicarakan besok.


Aku memejamkan mataku, saat Rangga sudah berada diatas ranjang. Aku merasaka tangan Rangga mengenai punggungku.


Aku masih memejamkan mataku dan tak menjawab pertanyaan Rangga.


...----------------...


Pagi ini aku bangun kesiangan, aku melihat Rangga sudah tak berada disampingku.


Setelah sholat, aku pergi kedapur melihat Ibu sedang menyiapkan sarapan dimeja makan.


"Selamat pagi Dania."


"Pagi Bu, Ibu ngelihat Rangga nggak?"


"Rangga? dia sudah pulang, katanya ada meeting mendadak dan dia nggak ngasih tau kamu, karna nggak mau ngganggu tidur kamu."


Aku mengangguk tersenyum kepada Ibu. Tak lama Jessica datang, sudah menggunakan gaun berwarna biru yang panjangnya hanya selutut.


"Udah siap kamu Jessica?"

__ADS_1


"Udah bu, aku berangkat sekarang aja ya, takut telat."


"Ya udah, hati-hati ya dijalan."


Setelah Jessica pergi, aku duduk dikursi meja makan diikuti Ibu. "Jessica mau kemana Bu?"


"Dia ada tawaran pemotretan dibandung."


Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil makanan yang sudah Ibu siapkan.


Setelah makan aku kembali kedalam kamar, duduk dikursi yang menghadap kejendela luar.


Apakah Rangga sedang mengurus surat cerai kita?


Jika iya, berarti tidak ada kesempatan buat aku untuk berbicara kepadanya.


Kenapa tadi malam aku tak membicarakan masalah ini sih.


Aku menikmati udara yang masuk melalui jendela yang aku buka.


Drut


suara hanphoneku, aku mengambil hanphoneku diatas meja. Melihat nama pemanggil, Thania.


"Hallo Thania, ada apa?"


"Dania, aku boleh minta sesuatuh nggak sama kamu?"


"Boleh apa?"


"Aku minta kamu pulang sekarang bisa, badan aku nggak enak banget ini. Aku takut aku kenapa-kenapa."


"Ha-iya, aku pulang sekarang. Tapi kamu udah makan-kan?"


"Iya udah tadi. Makasih ya."


Aku mematikan sambungan telfon dari Thania, kemudian memasukkan baju-bajuku kedalam koper. Setelah selesai membereskan pakaian aku langsung keluar dari kamar, menghampiri Ibu yang sedang duduk menonton TV.


Aku berpamitan kepada Ibu.

__ADS_1


Tak lama, taxi yang aku pesan sudah berada didepan rumah. Ibu mengantarku samapi depan, sempatku liat Ibu melambaikan tanganya kepadaku.


__ADS_2