Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
chapter 46


__ADS_3

Pukul 06:15 aku bangun dari tidurku, melihat Thania sudah tak berada dikamar. Aku menuruni anak tangga, dengan keadaan mata sayup-sayup, melihat Thania sedang berada didapur.


"Udah bangun? masih ngantuk ya?"


"Iya nih, capek banget aku."


"Mandi dulu gih, biar seger badanya."


Aku kembali kekamar untuk menyiapkan baju ganti, kemudian bersiap untuk mandi.


Selesai mandi aku menyalakan hanphoneku yang dari kemarin aku matiin. Setelah hanphoneku menyala, aku melihat ada beberapa notifikasi chat.


Salah satunya dari Ibu, sempatku liat Ibu juga menelfonku. Aku membuka chat dari Ibu.


Ibu


📩 : Dania, kamu baik-baik sajakan?


📩 : Akhir pekan dirumah akan mengadakan pesta barbeque, kamu datang ya. Ajak Rangga juga.


Aku menutup hanphoneku tanpa membalas pesan dari Ibu.


Apakah Rangga mau menemaniku


Apakah dia akan menolak ajakanku


Jika Ia menolak, lantas apa yang harusku katakan pada Ibu nantinya


Disepanjang jalan, didalam taxi. Menuju tempat kerjaku, aku tak berhenti mengucapkan kalimat-kalimat itu.


Aku takut jika Rangga menolaknya, tapi aku lebih takut lagi jika Ibu kecewa.


Hanphoneku bergetar, aku mengambilnya didalam tasku. "Ibu"


"Iya bu, ada apa?''


"Bagaimana? kamu maukan datang? ajak Rangga juga ya!"


"Iya bu, tapi kalo Rangga aku tak bisa janji, karna Rangga terlalu sibuk dengan kerjanya."


"Sesibuk apa dia? sampai tak punya waktu bertemu dengan Ibu mertuanya."


"Tapi bu-"


"Ibu tak mau dengar alasan dari kamu, Ibu tunggu kamu sama Rangga akhir pekan ya."


Belum sempat aku menjawab, Ibu sudah mematikan sambungan telfonnya.

__ADS_1


Aku harus ketemu denganya apapun caranya.


Aku memberikan pesan kepada Rangga, agar menjemputku malam ini. Tetapi Ia, tak meresponku sama sekali, bahkan tak membaca pesan yang aku berikan.


Pukul 20:40 semua pegawai satu persatu pulang, termasuk aku. Aku melambaikan tanganku kepada Sasa, setelah Sasa pegi aku masih berusaha mencari taxi onlain, tetapi tak ada yang menerima.


Tak lama, mobil berwarna hitam berhenti tepat dihadapanku, mobil yang tak asing lagi bagiku.


Lelaki didalamnya turun dengan anggun, membuka kacamata berwarna hitam.


"Ayo masuk!"


Bagaimana dia bisa disini? Dia tak menjawab pesan dariku bahkan melihatnya saja tidak.


"Kamu mau ngomong apa?"


Didalam mobil aku terlihat canggung. Aku menarik nafas sebelum berbicara. "Akhir pekan Ibu menyuruh kita pergi kerumahnya."


"Akhir pekan? aku tak bisa, karna ada meeting penting."


Aku menelan ludah, jawabannya sudah ada didalam kepalaku sejak tadi, aku sudah menebak dia akan menjawab itu.


"Okey, aku tau itu."


Aku memalingkan wajahku kearah luar. Sesampainya dirumah aku langsung turun, tanpa berkata apapun kepadanya.


Akhir pekan tiba, aku masukkan pakaianku kedalam koper keciku. Aku sudah siap untuk pergi kerumah Ibu sendiri, tanpa ditemani oleh Rangga.


Pagi ini Thania sudah pergi kekantornya, akhir-akhir ini dia pergi sangat pagi. Aku turu menuju dapur, untuk sarapan. Sebelum pergi Thania sudah menyiapkan nasi goreng untuk sarapan.


"Kamu udah selesai?"


Aku hampir tersedak makanan yang ada dimulutku, saat tiba-tiba Rangga berjalan dengan santai menghampiriku.


"Ngapain kamu kesini pagi-pagi?"


"Pergi bersamamu."


"Tapi, kamu menolaknya. Katanya ada meeting penting."


"Aku berubah pikiran, meeting aku serahkan kepada Aldo. Ayo cepat, keburu macet entar."


Aku mengambil koperku, menariknya menuju luar rumah.


Didalam mobil, aku masih dibayangi dengan rasa heran dan penasaran, tentang Rangga. Kemarin dia menolak ajakanku sekarang dia mengagetkanku, dia bilang dia berubah pikiran, aneh."


"Kenapa kamu diam saja?" tanya Rangga.

__ADS_1


"Terus aku harus ngomong apa?"


"Terserah kamu."


"Kenapa kamu bisa berubah pikiran?"


"Ya, aku nggak mau kalo Ibu kamu, mengira aku menantu yang baik."


"Ouh."


"Ouh doang?"


"La terus aku harus bilang apa?"


Rangga mengambil nafas kesal, kemudian mengerutkan dahinya menghadap kearahku. "Bagaimana kehidupan kamu dirumah itu."


"Baik kok, nggak ada yang istimewa. Semuanya kelihatan biasa-biasa saja."


"Kalo gitu, apakah kamu mau tinggal dirumah mama?"


"Tinggal sama kamu?"


Dia menaikkan satu alisnya.


"Kamu sendiri yang bilang, pernikahan ini hanya diatas kertas, kita berdua akan menjadi suami-Istri jika berada dihadapan keluarga saja, diluar itu anggap kita tak saling mengenal. Kamu sendiri yang mengatakan itu bukan?"


Sesampainya dirumah Ibu, kami disambut ramah dengan Ibu. Aku mencium tangan kanan Ibu, kemudian masuk kedalam kamarku, disusul Rangga dibelakangku.


"Kamu atau aku dulu yang mandi?"


"Kamu dulu, aku mau mengerjakan tugasku sebentar."


"Baiklah." aku mengambil handuk dari koperku, kemudian keluar dari kamar menuju kamar mandi.


Didapur aku melihat Jessica, sedang menuangkan air minum kedalam secangkir gelas. Aku menghampirinya.


"Jessica?"


"Eh, mbak Dania. Mau mandi?"


"Iya kamu, buatin minum buat siapa?"


"Buat aku sendiri kok."


"Ouh, ya udah mbak mandi dulu ya."


Sebenarnya aku agak khawatir jika Rangga dekat denga Jessica, karna ancamanya waktu itu, aku merasa Jessica tak akan menyerah. Dia akan berusaha mendapatkan apa yang dia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2