
Selesai mebuatkan kopi aku langsung pergi menuju kamar, memberikan secangkir kopi yang tak terlalu manis buat Rangga.
Aku duduk diatas kasur, melihat Rangga yang begitu focus memperhatikan leptopnya.
"Rangga, udah malam. Lanjut besok aja!" Aku menghampiri Rangga
"Bentar lagi ya."
Aku menutup leptop yang Rangga pakai, karna sudah hampir larut malam. "Udah hampir jam dua belas malam, jangan terlalu memaksakan diri. Nanti kamu sakit."
"Iya, bawel." Rangga menarik tangganku menuju kasur, lalu memelukku dari belakang.
Aku melirikkan mataku ke wajahnnya, yang sedang memandang wajahku.
"Rangga, Dia lebih cantik ya dari aku?" Rangga terdiam, mungkin dia tau siapa yang aku maksud.
"Siapa?....Jessica?"
Aku mengangguk, lalu menghela nafas panjang. "Apa kamu tertarik dengannya?" pertanyaan yang konyol.
Rangga tak menjawab lalu melepaskan tangannya dari pinggangku. "Besok kita pulang ya, aku ada Meeting mendadak."
Aku mengangguk dan tersenyum lalu membaringkan tubuhku, membelakangi Rangga.
******
Selesai menyiapkan koper yang kita bawa, aku mengajak Rangga berpamitan dengan Ibu. Ibu yang sedang menonton TV dengan Jessica, aku menghampirinnya.
"Mau kemana?" Tanya ibu yang sudah duluan melihatku di tangga.
__ADS_1
''Maaf Bu. Kami pulang mendadak."
"Iya Bu. Aku ada pekerjaan mendadak siang ini. Lain kali Kita akan berkunjung lebih lama lagi."
Saat Rangga menjelaskan, aku melihat ke arah Jessica yang memperhatikan Rangga.
"Ya udah. Hati-hati ya di jalan, titip salam buat mama kamu."
Aku memeluk Ibu dan mencium tangannya. Lalu pergi menyusul Rangga yang sudah duluan pergi ke depan. Ibu dan Jessica mengantar Aku sampai depan rumah.
Sesampainya di rumah, Rangga langsung mandi untuk pergi ke kantornnya. Aku menyiapkan baju lalu membuatkan minuman.
30 menit berlalu. Rangga berangkat kekantornya, aku mengantar sampai depan rumah, lalu mencium tangannya dan mengucapkan salam
Setelah Rangga pergi aku membereskan rumah yang dua hari tak aku sapu. Aku mulai dari menyapu setiap ruangan, lalu mengepelnya.
Drutt.....drutt...druttt...
"Ya Jessica."
"Kakak lagi di mana?"
Aku merasa janggal, mengapa Jessica menelfon padahal, dari kemarin Ia tak mau berbicara dengnku.
"Di rumah, ada apa?"
"Lagi sama Rangga? Di mana dia?"
"Sedang kerja, ada apa kamu mencari Rangga?" Perasaanku mulai tak enak saat Jessica menyebut nama Rangga.
__ADS_1
"Apakah Rangga bahagia dengan kakak? Dia pria yang sempurna dan berpendidikan, sedangkan kakak hanyalah pelayan Caffe yang hanya lulusan Sma."
Aku terkejut sekaligus shok, dengan apa yang Jessica ucapkan barusan. "Maksud kamu apa ya?"
"Aku tau ini salah aku. Seharusnnya waktu itu aku pulang dan mau bertemu dengannya sekali saja. Pasti semua ini tak akan terjadi."
"Jessica, jelaskan saja apa mau mu sekarang?"
"Aku tak mau apa-apa. Aku hanya ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."
Aku langsung mematikan ponselku. Air mataku mulai menetes, aku berusaha menghapus air mataku. Lalu kembali melakukan pekerjaanku, tetapi hanphone kembali bergetar.
Sekarang Jessica mengirimkan pesan kepadaku.
Bercerailah dengan Rangga, lalu biarkan aku bahagia dengannya.
11.30
Aku tau Rangga tak bahagia dengan kakak.
11.33
Aku mohon jangan ganggu keluargaku.
11.35
__ADS_1
Aku mematikan ponselku agar Jessica tak menelfonku dan memberiku sms lagi.
Mengapa Jessica tak pernah memperdulikan aku, bahkan Ia tak menganggap aku kakaknya. Aku tau Jessica lebih segalannya dari aku. Lebih cantik, banyak laki-laki yang mau dengannya. Lalu mengapa dia mau mengambil Rangga dariku. Aku tau Rangga adalah laki-laki yang sempurna, dan jika di pasangkan dengan Jessica sangan cocok. Dari pada denganku.