Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
Chapter 69


__ADS_3

...****************...


Pukul sembilan, hujan mulai reda. Dania dan Rangga bersiap-siap untuk pergi kerumah Thania. Rangga yang sudah menyuruh Thania untuk tidak masuk ke kantor hari ini, karna dirinya dan Dania akan pergi ke rumahnya.


"Ya udah ayo." ajak Rangga, yang sudah berdiri dari sofa.


"Bentar, aku telfon Thania dulu. Tadi aku lupa belum ngabarin dia, kalo aku mau ke rumahnya." jawab Dania, sambil mengambil hanphone didalam tasnya.


"Aku udah nyuruh Thania, untuk nggak masuk kerja hari ini." jelas Rangga singkat.


...****************...


Thania menyambut Dania dengan hangat, karna sudah lama dirinya tak bertemu dengan Dania. Thania dan Dania saling berpelukan erat, untuk melepas rindunya.


"Lama kita nggak ketemu, aku kangen tauk sama kamu." sapa Thania yang sudah melepaskan pelukanya terhadap Dania.


"Iya, sama aku juga kangen sama kamu." jawab Dania, "Ini buat kamu." Dania memberikan kue yang sudah dirinya beli sebelum sampai disini.


"Makasih, ya udah ayo masuk."


Rangga berjalan dibelakang Dania dan Thania.


Thania menyuruh Dania dan Rangga untuk duduk, sedangkan dirinya membuatkan minuman hangat, karna cuaca masih dingin.


...****************...


Pukul 12:30 Dimas menghampiri Bella ke tempat kerjanya, karna tadi pagi Ia sudah mengajak Bella janjian untuk makan siang bersama.


Bella yang sudah menunggu Dimas didepan kantornya, langsung masuk kedalam mobil saat Dimas sudah datang menjemput.


"Are you ready?" tanya Dimas


"Ha, apaan sih kamu, emang kita mau ngapain ya?" Bella balik bertanya kepada Dimas, saat dirinya sudah duduk dijok sebelah Dimas.


"Makan lah, emang kamu mau apa?"


Bella mengerut dahinya, saat pertanyaannya dibalas dengan pertanyaan.


"Udah ah, ayo jalan. Aku udah laper nih." ucap Bella kerengik.

__ADS_1


"Ya udah turun!" jawab Dimas


"Lah kok turun?" Bella nggak mengerti apa maksud dari Dimas.


"Katanya mau jalan, ya udah turun." Dimas tersenyum lebar, melihat wajah Bella yang mulai kesal.


"Ih, kebiasaan banget sih kamu." Bella menggigit bibir bawahnya.


Mereka sampai di restoran yang jaraknya tak jauh dengan kantor tempat Bella berkerja.


Bella memilih meja dilantai dua dan dekat dengan jendela.


Dari pukul sebelas gerimis, mulai turun.


Makanya Bella memilih duduk didekat jendela, biar suasana saat makan makin lebih nyaman ditemani pemandangan rintikan gerimis.


Pelayan datang dengan membawa makanan dan minuman yang sudah Dimas pesan.


Dimas selalu memperhatikan Bella saat Bella menyuapkan sendok kemulut.


"Kamu kenapa? liatin aku terus?" tanya Bella, yang mengurungkan suapan berikutnya.


"Semua orang itu punya kesalahan dan orang tersebut juga memiliki kesempatan. Aku yakin kamu nggak akan ngelakuin hal yang sama untuk kedua kalinya lagi." jawab Bella


Dimas tersenyum kepada Bella.


"Makasih ya, aku nggak akan nyia-nyiain kesempatan ini." ucap Dimas


...****************...


Setelah makan siang, Dimas kembali mengantar Bella ke tempat kerjannya. kemudian dirinya juga kembali bekerja di kantor milik ayahnya.


Dimas adalah anak piatu, Ibunya meninggal sudah lama. Dan kini ayahnya sudah menikah kembali dan memiliki satu anak laki-laki.


Kehidupan Dimas dan Ibu tirinya terjalan sangat erat, Ibu tirinya sangat menyayangi Dimas begitu juga dengan Dimas.


...****************...


Malam sudah tiba Dania dan Rangga pamit untuk pulang kepada Thania.

__ADS_1


Saat Rangga membuka pintu dirinya melihat seseorang lelaki yang tak asing berdiri dihadapannya, bahkan laki-laki itu sangat Ia benci, siap lagi kalo bukan Andi.


"Andi?" ucap Dania lirih


"Hai." Rangga menyapa Andi dengan menjulurkan tangannya.


Andi yang menatap Dania lalu menatap Rangga, kemudian menjulurkan tangannya dan berjabat tangan kepada Rangga.


"Lama kita nggak ketemu." Rangga kelihatan sangat dewasa, tidak seperti biasanya. Apalagi pada saat dicaffe waktu itu, Ia langsung memukul Andi tanpa kata-kata.


Tetapi ini membuat Dania menjadi heran dengan perilakunya selama ini, semenjak dirinya tinggal kembali ke rumah Rangga, sifat Rangga kelihatan sangat berbeda, Ia menjadi lebih dewasa, walau kadang-kadang menyebalkan.


"Iya." jawab Andi dengan kaku.


Rangga melepaskan tangannya.


"Ya udah, ayo kita pulang." ajak Rangga kepada Dania, "Kamu kesini nggak nyari Dania ka?" tanya Rangga kepada Andi.


"Nggak kok, aku ada urusan sama Thania." jawab Andi


"Bagus lah." Rangga


"Aku pulang dulu ya." ucap Dania, menoleh kepada Thania.


Thania mengangguk.


...****************...


Didalam mobil, Dania menatap Rangga aneh.


'Ada apa yang sama Rangga, apa jangan-jangan dia sedikit gagar otak gara-gara kecelakaan waktu itu?" ucap Dania dalam hati


"Kenapa?" tanya Rangga, yang hanya melirikkan matanya.


"Nggak, nggak papa." Dania memalingkan wajahnya.


"Jangan bohong! aku tau, pasti kamu heran ya sama sikap aku? jangan ke PD-an dulu, aku tadi cuma lagi males aja ribut apa lagi sama mantan bos kamu." jelas Rangga tanpa Dania bertanya terlebih dahulu.


Dania hanya menggguk mendengar ucapan Rangga.

__ADS_1


__ADS_2