Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
chapter 50


__ADS_3

Sesampainya dirumah Thania, aku langsung masuk karna rumah tidak dikunci. Melihat Thania sedang tidur, dengan dibalut selimut seluruh tubuhnya.


Aku meletakkan koperku disamping lemari, lalu mendekati Thania memegang keningnya yang panas.


Aku turun kedapur mengambil air hangat, untuk mengompres kening Thania.


Setelah mengompres Thania, aku membuatkanya bubur untuk makan siang.


"Badan kamu masih sakit, kalo masih aku bawa kamu kedokter aja ya?"


"Nggak kok, mungkin aku cuma kecapean aja. Besok juga sembuh, maafin aku ya sudah nyuruh kamu buat pulang pagi-pagi. Pasti kamu disana lagi kumpul sama keluarga kamu."


"Iya nggak papa kok, yang penting kamu sehat dulu aja." ucapku, sambil menyuapi bubur kemulut Thania.


...----------------...


Dua hari berlalu, aku duduk diatas kursi yang menghadap kejendela luar sambil membaca novel romanca. Menikmati rintikan hujan yang turun dengan perlahan, waktu masih menunjukkan pukul 05:00. Masih pagi yang membuat suasana menjadi lebih indah.


"Dania."


Aku menoleh kearah Thania kemudian menatap kembali novel dihadapanku.


"Nih buat kamu." Thania memberikan aku secangkir teh. "Sampai kapan hujan akan turun?"


Aku menutup novel dan meletakkannya di meja, kemudian meminum tah yang Thania buatkan buat aku. "Kenapa emang? kamu udah mau pergi kerja lagi?"


"Iya."


"Udah sembuh beneran nih?"


"Iya Dania. Kalo belum aku nggak akan pergi kerja, lagian dirumah itu malah buat aku tambah sakit. Yang aku lakukan hanya tidur doang, lebih baik kan aku kerja."


"Ya udah, tapi kalo kamu pusing lagi kamu istirahat aja ya."


"Iya."


Pukul 07:30 aku sudah sampai ditempat kerjaku, aku langsung mengganti pakaianku dengan pakaian kerja. Menaruh semua barang diloker.

__ADS_1


Aku mengambil alih nampan yang diberikan oleh seorang chef, memberikannya kemeja no 2.


"Selamat menikmati." ucapku sambil melontarkan senyuman paksa. Kemudian kembali lagi kedapur dengan membawa nampan kosong.


"Dania, kamu berikan minuman ini kepada meja no.6 ya."


"Siap." ucapku dengan nada lemas, kemudian melangkahkan kakiku menuju meja no.4.


Bruk


Aku tak sengaja menabrak dan menumpahkan air jeruk yang aku bawa kepada seorang laki-laki didepanku.


"Gimana si kamu, liat ini. Baju aku jadi basah dan kotor." ucap seorang laki-laki dengan nada tinggi.


"Maaf pak, saya nggak sengaja." ucapku dengan menundukkan kepala.


"Nggak sengaja gimana sih, mata kamu nggak liat ya ada orang."


"Maaf ada apa ya?" tiba-tiba Andi datang, entah dari mana.


"Sekali lagi saya minta maaf, nanti saya akan tanggung jawab-"


"....."


Setelah sholat aku duduk dikursi belakang, meratapi kehidupanku dan Rangga.


"Apakah Rangga sudah mengurus surat cerai kita?"


Sudah dua hari aku tak bertemu dengannya, setelah kejadian dirumah Ibu.


"Dania." Andi menyapa aku dengan menepuk pundakku, itu membuatku kaget.


"Ha-iya ada apa?"


"Kamu kenapa si dari tadi kaya ngga fokus banget. Ada masalah ya?"


"Nggak kok, aku baik-baik aja." ucapku sambil melontarkan senyum.

__ADS_1


"Kamu nggak bisa bohong sama aku, apa lagi sama perasaan kamu sendiri. Ikut aku yuk."


Andi menarik tangan aku, mengajak aku pergi menggunakan mobil miliknya. Andi menghentikan mobilnya dipinggiran jalan.


Kita berjalan menuju pinggiran danau, kemudian menaiki rakit yang berada didanau.


"Kamu nggak bisa berpura-pura tegar apalagi bahagia didepan orang lain. Sekarang disini kamu bisa berteriak sekencang-kencangnya, agar semua beban yang kamu pikirkan berkurang."


Aku melihat kearah Andi. "Bagaimana bisa Andi tau kalo aku sedang memikirka sesuatuh."


"Udah tenang aja, aku juga sering melakukan ini kok."


Aku mengangguk, lalu tersenyum kecil kepada Andi.


Aaaaaaaaa.


Aaaaaaaaa.


Aku berteriak sekencang mungkin, ketika teriakan kedua, aku tak mampu menahan air mataku sehingga aku meneteskan air mataku dihadapan Andi.


Andi memegang pundakku, meletakkan kepalaku dipundaknya. "Gimana? sekarang sudah lega?"


Aku menarik nafas, kemudian melirikkan mataku kepada Andi.


Aku tersenyum kepadanya, lalu menghapus air mataku.


"Makasih ya, sekarang aku jadi lega."


"Sekarang kalo kamu mau bercerita sama aku, aku nggak masalah, aku siap mendengarkan semua cerita kamu."


Aku melepaskan tangan Andi, kemudian duduk dipinggir rakit. "Kamu tau pernikahan aku itu bukan dilandasi dengan cinta tapi dengan perjodohan. Dan aku tau kosekuensinya, aku nggak bisa memaksa Rangga untuk mencintaiku. Tapi aku juga nggak bisa melepaskan dia begitu saja."


"Kenapa? apakan kamu sudah mencintai dia?"


"Aku nggak tau, aku cuma memikirkan perasaan Ibu. Aku nggak mau ngelihat Ibu dan almarhum Ayahnya Rangga kecewa."


Baik banget kamu, seandainya aku yang diposisi Rangga aku nggak akan pernah membuat kamu kecewa. ucap Andi dalam hati.

__ADS_1


__ADS_2