Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
36. Merasa pria yang bodoh


__ADS_3

Setelah mandi, aku menyalakan hanphoneku yang dari tadi malam aku matikan karna lowbat. Aku melihat ada beberapa notifikasi chat, ada dari Andi yang menanyakan prihal, seperti sudah tidur atau belum, sudah makan atau belum, dan masih banyak lagi perhatian lainya. Ada dari Ibu yang menanyakan tentang kabar aku dan memberitahuku bahwa Jessica akan pergi ke Bali karna ada pemotretan disana.


Aku terkejut saat melihat lebih bawah lagi ada chat dari Rangga.


📩 : Dimana kamu?


23.35


📩 : Kenapa tak menjawab pesan dariku?


23:40


📩 : Aku ingin bertemu denganmu


23:43


📩 : Angkat telfonku! kalo tidak aku akan ke rumahmu sekarang.


23.55


📩 : Jika kau melihat pesan ini, cepat hubungi aku.


00:01


📩 : Aku di depan rumahmu


Keluarlah.


00:35


📩 : Baiklah aku akan pulang


00:50


📩 : Jika kau membaca pesan dariku, hubungi aku segera.


00:52


Aku mengabaikan pesan dari Rangga, lalu mengikat rambutku. Setelah rapi dan takada rambut yang keluar lagi dari telingaku, aku mengambil tasku kemudian melihat bayanganku sendiri di kaca.

__ADS_1


Semoga hari ini lebih baik dari kemarin


Aku tersenyum sambil memandang tubuhku dari dalam kaca.


Thania yang sudah berangkat dari tadi, kali ini kita tak memasak, Thania memilih makan di caffe dekat kantornya.


Saat aku sedang berada di tangga hanphoneku bergetar, aku melihat "Rangga" ada apa dia telfon aku sepagi ini. Sekarang hanya ada dua pilihan mengangkat atau tidak. Ah aku angkat saja sekaligus menjawab pesan darinya tadi malam, aku tak akan bertemu dengan pria brengsek itu.


"Hallo, ada apa?"


"Buka pintumu sekarang."


"Buka pintu?"


"Iya-buka pintumu sekarang atau aku dobrak dari luar."


Ha sial, dia ada didepan rumah kontrakanku sekarang.


"Cepat, atau aku-


"Iya sebentar." aku memotong pembicaraannya.


"Jauhi lelaki itu."


"Siapa yang kau maksud?"


"Bodoh, kau pasti tau siapa pria yang aku maksud!" ucapnya dengan nada tinggi.


Aku menelan ludah dan mengambil nafas sebelum menjawabnya. "Andi, dia bos aku. Mana mungkin aku menjauhinya."


"Terserah kamu, aku nggak mau jika kamu terus berdekatan dengannya."


Tubuh lelaki itu menjauh dariku. "Aku nggak tau sama kamu, sifat kamu itu beda jauh dari sebelumnya."


"Semua orang berhak untuk berubah-


"Tapi bukan gini caranya. Aku akan menjauhi Andi jika kamu mau menjauhi wanita-wanita diluar sana."


"Okey....."

__ADS_1


Apakah dia akan menjauhi wanita-wanitanya demi aku.


"Kamu boleh bekerja di sana, tetapi dengan satu syarat. Jangan dekat-dekat dengannya, atau aku akan melakukan hal yang lebih dari tadi malam."


"Terserah kamu. Jika kamu kesini cuma mau menyuruh aku jauhi Andi, sekarang pergi dari sini aku mau pergi beker...."


hutsss.


Rangga menahan omonganku dengan jari telunjuknya berada di mulutku.


Kenapa Dania selalu membuatku menjadi pria bodoh dihadapannya. ucap Rangga dalam hati


Kenapa Rangga menatapku tajam kaya gitu ya, tapi jika diliat dari dekat wajahnya tampan juga. Ah apaan si percuma tampan tapi tak bisa menjaga hatinya. ucap Dania dalam hati.


"Apaan si kamu."


"Akan aku antar kamu pergi bekerja."


"Nggak usah!"


"Kenapa?"


"Nanti kamu berantem lagi sama Andi, nggak kamu nggak boleh-


"Tenang saja aku tak akan melakukan itu jika kau tak macam-macam dengannya."


Rangga menarik tanganku, menyuruhku masuk kedalam mobilnya.


Dalam perjalanan seperti biasa tak ada obrolan sama sekali hanya suara musik dalam mobil.


Rangga mengecilkan volume musiknya. "Berceritalah!"


"Ha?" aku menoleh kearahnya, yang juga menoleh kearah ku.


"Iya, berceritalah sesukamu."


"Tak perlu, tempat kerjaku berada dipinggir sana!"


Seperti biasa Andi berada di depan caffenya menyambut para pekerja yang datang. "Ingat, jangan dekat-dekat dengannya."

__ADS_1


Aku tersenyum terpaksa, kepada pria di dalam mobil itu. Aku menutup pintu mobil, sebelum Rangga pergi sempat ku liat dia memakai kaca mata hitamnya.


__ADS_2