
Selesai makan aku dan Thania mengobrol di kamar, Thania yang sedang menatap leptopnya sedangkan aku menata bajuku yang kemarin belum aku beresin.
"Kamu jadinya kerja dimana?"
"Aku kerja di caffe teman aku dulu."
"Owh. Udah mulai kerja dong tadi?"
"Udah. Kerjaan kamu gimana di kantor?"
"Gitu-gitu aja si. Tapi tadi......"
Thania menceritakan semua kejadian dikantornya sekaligus menceritakan Rangga yang menemui dirinya.
"....."
"Terus kamu ngapain saja tadi kok pulangnya malam banget?"
"Tadi aku di ajak makan sama Andi."
"Teman kamu sekaligus bos kamu? Andi?"
Aku mengangguk, lalu menghampiri Thania dikasur. Thania mengajak aku menonton drama korea yang selalu Ia tonton saat malam.
Tak terasa waktu menunjukkan pukul setengah dua, Thania menutup leptopnya dan menaruh di meja. Aku yang sudah memposisikan posisi tidur, dan sudah menguap dari tadi langsung tertidur dan terlelap dalam mimpi.
*****
Pagi ini hujan menyapa bumi, aku menatap hujan dari balik kaca jendela kamar. Masih pagi, membuat hujan kali ini terasa lebih indah dan menyejukkan.
Aku suka hujan, selalu membawa ketenangan untuk diriku.
Aku memejamkan mata, menikmati angin yang masuk dari ventilasi udara.
"Dania, jam berapa ini?" aku menoleh pada Thania yang sedang menguap dan meregangkan tangannya.
__ADS_1
"Jam lima pagi, tidurlah. Nanti aku bangunin kamu setengah jam lagi." ucapku sambil tersenyum, kemudian kembali memandang jendela lagi.
"Okey, aku lanjut lagi mimpiku yang indah." Thania kemudian membaringka lagi tubuhnya, tengkurep sambil memeluk guling dan menarik selimut.
Aku kembali menikmati pagi dengan rintikan air hujan yang jatuh. Merasakan angin yang sejuk masuk dan menyapu lembut wajahku.
Jarum jam panjang menunjukkan di angka enam. Aku membangunkan Thania seperti apa yang aku ucapkan tadi.
Setelah Thania bangun aku pergi ke dapur untuk menyiapkan sarapan, aku membuat nasi goreng. Karna hanya ada nasi sisa kemarin dan telur.
Thania yang sudah selesai mandi kembali turun dan menghampiri aku. "Wah, ada nasi goreng nih. Udah lama aku nggak sarapan dirumah, karna nggak keburu jika harus masak dulu."
"Ya udah, maka dulu. Aku mau mandi."
"Nggak makan bareng kita?" ucap Thania dengan nada ketus.
"Nggak, aku jugakan harus kerja."
Aku kembali ke kamar dan menyiapkan pakaian lalu menuju kamar mandi.
Badanku terasa membeku saat aku berdiri dari kursi dan menoleh ke arah pintu. Disana sudah ada laki-laki yang berdiri, menatapku dan tangan yang dilipat di dada.
"Rangga? ngapain kamu disini?"
"Berangkatlah bersamaku, akan ku antar kamu ke tempat kerjamu yang baru."
Setelah aku mengetahui kebenaran dari Rangga bahwa sebenarnya Ia belum mencintai aku sepenuhnya, Ia selalu mengagetkan aku, muncul dimana saja yang membuat jantungku seakan berhenti. Untung aku tak mempunyai riwayat penyakit jantung.
Di dalam mobil aku hanya menatap kearah luar. Aku merasa canggung kembali saat bersama Rangga dalam satu ruang, seperti saat aku bertemu dengannya pertama kali.
"Lusa mama menyuruh kita pergi kerumah!"
"Buat apa?"
"Bella ulang tahun. Kamu mau ikut denganku kan."
__ADS_1
Aku mengangguk, lalu menunjukkan arah ketempat aku bekerja.
"Itu bos kamu?" tanya Rangga saat melihat Andi sudah berada di depan caffe.
"Iya, itu bos aku."
"Jangan dekat-dekat dengan dia."
Aku mengerutkan dahiku. "Kenapa?"
"Kamu boleh bekerja disini, tapi jangan dekat-dekat dengan dia."
"Iya, emang kenapa?"
"Aku tak suka."
Lagi-lagi aku mengerutkan dahiku menatap Rangga. Lalu membuka pintu mobil.
Setelah mobil Rangga pergi aku menemui Andi yang sedang berdiri di depan pintu caffe.
"Pagi." aku menyapanya
"Pagi, tadi siapa."
"Suami aku." aku berfikir sebelum menjawabnya.
"Malam ini temani aku lagi, kamu mau kan?"
"A-a-aku. Gimana ya?" aku bingung harus menjawab apa, tidak enak jika harus aku menolaknya tetapi bagaimana dengan Rangga.
"Jika kamu diam berarti kamu mau."
Aku memang terdiam berapa menit, buat mikir.
Jam delapan Caffe sudah buka, banyak kariyawan kantor yang datang hanya untuk minum secangkir kopi dan roti. Aku mulai bekerja bersama pegawai lainnya.
__ADS_1