Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
31. Foto Pernikahan


__ADS_3

Pagi ini Rangga berangkat lebih pagi, sampai Ia tak sempat sarapan, Ia hanya minum secangkir kopi.


Setelah Rangga pergi, aku kembali ke kamar. Hanphoneku bergetar.


Drut...drutt


Nomer tak di kenal.


"Ya hallo. Siapa ya?"


"Dania Rahmadita?" suara wanita yang sepertinya pernah ku dengar sebelumnya.


"Iya benar, ini siapa?"


"Ini pothographer pernikahanmu kemarin."


Mendengar identitas sang pemanggil, aku langsung mengerti siapa wanita yang menelfonku pagi-pagi.


"Mbak Lily?"


"Iya benar. Maaf mengganggu waktumu sebentar. Hasil foto pernikahanmu sudah jadi dan sekarang berada di tanganku, apakah kau mau mengambilnya atau aku yang mengantar ke rumahmu."


"Kayaknya aku tak bisa menemui mbak. Mbak Lily saja ya yang mengantarkannya kerumah saya."


"Okey, tak masalah. Kamu kirim saja alamat kamu. Nanti setengah jam lagi aku sampai di rumahmu."


"Oke. Makasih mbak."


Aku memutuskan sambungan panggilannya, lalu mengirimkan alamatku kepadanya.


Selesai dengan telfonku, aku kembali ke belakang untuk mencuci pakaianku dan Rangga.


Selesai menjemur pakaian aku kembali ke meja makan. Suara ketukan pintu terdengar saat aku sedang mengoleskan margarin ke rotiku. Aku membukakan pintu dan ternyata Lily tepat waktu, jam setengah 7 dia sampai di depan pintu rumahku.


"Hai mbak, ayo masuk dulu. Biar aku buatin minum."


"Nggak usah, siang ini aku ada pemotretan jadi aku harus pergi dari sekarang. Silakan periksa terlebih dahulu, jika hasilnya kurang bagus bisa saya perbaiki."


Aku mengambil map coklat yang di bawa oleh Lily, kemudian melihat isinya. Aku tersenyum melihat isinya lalu memasukan kembali kedalam map.


"Bagus, makasih mbak."

__ADS_1


"Ya udah, jika kamu puas nanti waktu foto kehamilan bersama aku lagi ya. Nanti aku kasih discon."


"Iya mbak." aku mengangguk dan tersenyum kepadannya.


"Ya udah, aku pergi dulu ya."


"Hati-hati di jalan mbak."


Setelah Lily pergi, aku masuk ke dalam lalu melanjutkan makan roti yang sudah aku olesi margarin.


Didalam kamar aku memandang map coklat yang aku taroh di meja kamar. Akan aku perlihatkan hasil foto ini kepada Rangga, aku akan pergi ke kantornya siang ini.


Selesai mandi aku mengambil map coklat itu lalu pergi ke depan rumah, menunggu taxi yang sudah aku pesan.


Sesampainnya di depan kantor aku melihat Thania di sedang duduk di kubikelnya. Aku menghampiri dirinnya dan menyapanya.


"Thania?"


"Dania, ngapain kamu ke sini?" thania memelukku erat, mungkin dia rindu aku karna hampir satu tahun kita tak bertemu.


"Aku mau ke..."


"Ke ruang Rangga?" ucapnya memotong pembicaraanku.


"Nanti aja ya, kita ngobrol dulu." Thania seperti mencegahku menemui Rangga.


"Sebentar saja, aku hanya mau memperlihatkan ini kepada dia. Lalu kita bicara sepuasnya." aku meninggalkan Thania, lalu menaiki lift khusus yang menuju ruangan Rangga.


Jantungku sudah berdetak kencang sebelum aku sampai di ruangannya. Aku menghela nafas, sebelum membuka pintu ruangan Rangga. Setelah aku liat Amel tak ada diruangannya.


Satu...


Dua...


Tiga...


pintu terbuka


Aku terdiam di tempatku, memandang dua orang dihadapanku.


Jantungku yang tadinnya berdetak kencang, kini rasannya berhenti terpompa.

__ADS_1


Map yang ku bawa, jatuh dari tanganku. Yang membuat semua foto didalamnya jatuh berserakan.


Aku berhenti dalam lamunanku menatap dua orang tersebut, lalu membereskan foto yang berserakan.


Aku keluar dari ruangan tersebut, tetapi tanganku di tahan oleh Rangga.


"Da-Dania. Aku bisa jelasin ini semua."


"Maaf aku harus pergi." aku tersenyum terpaksa kepada lelaki di hadapanku. Seharusnya aku tak terlalu berharap banyak kepada laki-laki itu, harusnya aku sadar dari dulu jika dia memang tak pernah bisa berubah.


Sempat ku liat Amel sedang mengancingkan kemejannya, sebelum aku keluar dari ruangan itu.


Aku menghela nafas dan mengusap air mataku yang jatuh ke pipiku, setelah lift terbuka.


Thania melihatku, dan menghampiriku. "Kau tak papa kan?" tanya Thania, sepertinya dia mengerti apa yang telah terjadi kepadaku.


"Nggak papa kok. Aku pulang dulu ya, masih banyak pekerjaan dirumah. Kita ngobrolnya lainkali aja ya."


"Dania, aku tau apa yang terjadi sama kamu. Dan kamu bisa cerita semuannya sama aku biar hati kamu lega, sekarang kita pergi ke taman dekat kantor." Setelah Thania bicara sama aku, dia mengambil kunci mobilnya dan tas. Lalu pergi izin kepada teman sebelah kubikel.


Sesampainnya ditaman, aku menangis di pelukan Thania, Thania berusaha menenangkan aku.


"Aku kira Rangga akan benar-benar berubah, ternyata tidak. Aku yang terlalu bodoh dan termakan omongan darinya."


"Aku tau perasaan kamu, kamu yang tenang ya. Aku tau Rangga selam ini masih sering berhubungan dengan wanita lain."


"Jadi kamu tau, kenapa kamu tak mengasihtau aku?" ucap aku sambil mengusap air mataku.


"Aku nggak tega ngelihat kamu kaya gini."


Sudah hampir dua jam kita berada di taman. Untuk bercerita, bukan hanya tentang Rangga tetapi juga kehidupan Thania.


Pukul 16.05 Thania mengajak aku pulang, dan menawarkan untuk mengantarku. Tetapi aku menolaknya karna aku ingin pergi ke suatu tempat terlebih dahulu.


"Ya udah, ini nomer aku. Jika kamu ada masalah atau mau minta bantuan sama aku kamu telfon aku aja ya, jangan sungkan-sungkan. Kan kita sahabat."


Aku mengangguk dan tersenyum. "Makasih ya." aku memeluk Thania sebelum Thania pergi meninggalkan aku.


Maaf ya author jarang update


karna banyak tugas dari sekolahan yang harus dikerjain, apalagi ini sedang tes.

__ADS_1


Semoga kalian suka dengan ceritannya


__ADS_2