Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
chapter 44


__ADS_3

Aku sampai ditempat kerjaku pukul 10:10, aku udah izin kepada Andi kalo aku datang terlambat, awalnya Andi menyuruh aku untuk mengambil cuti satu hari lagi, tetapi aku menolaknya.


Sesampai di caffe milik Andi aku langsung mengganti bajuku dengan baju kerjaku, kemudian mulai bekerja.


Pukul 13:20 giliranku untuk beristirahat, aku memilih untuk melakukan sholat terlebih dahulu kemudian makan siang. Siang ini Andi tak berangkat kecaffe-nya.


Mutia teman kerjaku, menghampiriku saat aku sedang makan dibelakang.


"Dania?"


"Iya, ada apa?"


"Nanti pulangnya kamu disuruh nungguin Pak Bos!"


"Ngapain?"


"Kurang tau si, tadi Pak Bos cuma nyuruh aku buat ngasih tau kamu aja. Karna hanphone kamu nggak aktif katanya."


"Iya, si hanphone aku, aku matiin. Ya udah makasih ya infonya."


"Iya sama-sama, aku mulai kerja lagi ya."


Aku mengangguk kemudian melanjutkan suapan yang berikutnya. Selesai makan siang aku melanjutkan kerjaku.


Waktu sudah menunjukkan pukul 20:15, aku mengantarkan nampan yang berisi capucino hangat dan roti bakar kepada pengunjung terakhir.


"Selamat menikmati." ucapku sambil memberikan makanan kepada pengunjung terakhir ini, kemudian melontarkan senyumanku dengan terpaksa.


"Makasih."


Aku menghentikan langkahku, kemudian kembali memutarkan kepalaku mengarah kepengunjung terakhir. Suara ini, sepertinya tak asing lagi ditelingaku.


"Duduk."


Laki-laki yang memakai jaket berwarna hitam dan kacamata hitam, membuka tutup kepalanya dan kacamatanya. "Rangga"


Dahi aku mengerut, melihat laki-laki didepanku. "Kenapa dia bisa berada disini?"


"Rangga, kok kamu bisa disini?"


"Duduk, temani aku makan."

__ADS_1


"Maaf aku masih ada kerjaan dibelakang."


"Jangan bantah omongan aku. Duduk!"


"Dasar, laki-laki keras kepala." Aku duduk didepan Rangga, menaruh nampan diatas meja. Melihat wajah laki-laki yang nampak sempurna dihadapanku.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu."


Aku mengalihkan pandanganku menuju luar jendela. "Ha-siapa yang ngeliatin kamu, PD banget si jadi orang."


Mutia datang menghampiriku, yang sudah menggunakan pakaian ganti. Mungkin dia sudah siap untuk pulang, memang sudah waktunya pulang dan ada beberapa karyawan yang sudah pulang.


"Dania, aku pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati dijalan ya."


Mutia pergi dengan menggunakan sepeda motor. "Cepat sedikit kenapa! ini sudah waktunya tutup."


"Kenapa emang, aku bisa beli caffe, kalo perlu."


Sasa yang menjaga kasih memanggilku dengan nada rendah, aku menghampirinya."


"Ada apa?"


"Ya udah, sana kamu pulang dulu. Nanti biar aku yang ngurus dia."


"Beneran nih, makasih. Mata aku udah ngantuk banget nih."


"Ya udah, sana ganti baju." Aku kembali menghampiri Rangga, menyuruhnya untuk pergi karna caffe ingin ditutup. Tetapi dia masih saja tak memperdulikan omonganku.


Tak lama Sasa datang sudah menggunakan pakaian gantinya, kemudian pergi dari caffe ini. Sekarang tinggal aku dan Rangga yang berada didalam caffe.


"Aku ganti baju dulu, kamu habiskan makanan kamu, habis itu pulang."


"Makan roti aja lama banget." ucapku dalam hati, kemudian pergi meninggalkan Rangga.


Pukul 20:45 aku kembali menghampiri Rangga, Ia sudah selesai dengan makannya. Saat aku menghampiri dia, Ia berdiri dari kursinya. "Ayo." ucapnya


"Kemana?"


"Aku antar kamu pulang."

__ADS_1


"A-a-aku bisa pulang sendiri." ucapku terbatah-batah. Kemudian pandanganku mengalih kearah laki-laki yang baru datang.


"Dania." ucapnya bingung. "Ngapain dia disini. bukannya dia orang yang di caffe waktu itukan?"


Aku mengangguk.


"Siapa Dia?"


"Perkenalkan aku suaminya Dania."


Aku hanya terdiam saat Rangga menyebutkan dirinya sebagai suamiku.


"Ouh, suami macam apa yang berani membentak Istrinya didepan umum dan menuduh orang sembarangan."


Aku mendekati Rangga, kemudian memegang tangan kirinya. Menahan dia agar tidak terpancing emosi, karna aku tau sifatnya. "Andi maaf ya, aku harus pulang sekarang. Kita bisa ngobrol besok aja ya. Ayo kita pulang." ajak aku kepada Rangga.


Tanpa sepatah kata Rangga menarikku keluar dari caffe milik Andi, aku tak enak hati kepada Andi. Dia udah jauh-jauh pergi kesini untuk menemui aku, tetapi malah kejadiannya kaya gini.


Didalam mobil, sempatku lirik Rangga. Dia sangat fokus menyetir, matanya yang tajam mengarah kejalan.


Rangga kembali menggunakan kacamata hitamnya, kemudian menoleh kearahku. "Jangan liatin aku kaya gitu."


Aku menelan ludah kemudian menjawabnya. "Kenapa emang."


"Entar jatuh cinta lo." ucapnya datar.


Kamu telat Ngga, aku udah jatuh cinta sama kamu dari dulu.


"Apaan si, nggak lah."


"Makasih ya."


"Makasih buat apa?"


"Buat 2 hari ini, kamu udah bersikap baik dan tidak membicarakan hubungan kita kepada mama."


"Iya sama-sama, aku nggak mau mama kamu khawatir aja. Nggak lebih."


Sesampainya didepan rumah Thania, aku turun dari mobil Rangga. "Makasih." ucapku sambil membuka pintu mobil.


Rangga hanya menaikkan satu alisnya kemudian pergi meninggalkanku. Setelah mobil Rangga pergi aku, mencari kunci rumah. "Astaga, aku lupa kalo kuncinya aku taroh dilaci meja kamar Rangga."

__ADS_1


Sepertinya Thania sudah tidur, aku udah berusaha mengetuk pintu tetapi tak ada respon dari Thania.


Aku memutuskan untuk pergi kemasjid dekat sini yang jaraknya hanya 3 rumah dari rumah yang aku dan Thania tempati.


__ADS_2