Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
41. Ulang Tahun Bella part 2


__ADS_3

Bella POV


Sudah hampir 15 menit setelah acara, tetapi Dimas belum datang.


Saat aku ingin mengambil minuman aku melihat seseorang yang menggunakan kemeja berwarna biru dengan celana jeans.


Seseorang itu menghampiriku, aku tersenyum melihat siapa yang datang menghampiriku, seseorang yang dari tadi aku tunggu akhirnya datang menghampiri aku.


"Dimas."


"Iya, aku minta maaf ya. Tadi jalanan macet banget."


"Iya nggak papa, yang penting kamu sudah sampe disini."


"Ini buat kamu." Dimas meberikan paper bag berwarna pink yang Ia bawa.


"Ma_"


"Ngapain kamu kesini? dan kamu Bella kenapa kamu dideketin lagi sama dia?"


Suara laki-laki dari belakangku, suara yang tegas dengan raut wajah yang sangat marah.


"Rangga." Dania


Dania memegang tangan Rangga, mencoba menghentikan semuanya. Tetapi Rangga mencoba melepaskan genggaman tangan Dania. Kemudian memukul pipi kiri Dimas, Dimas pun terjatuh bibir sebelah kirinya berdarah.


"Apa-apaan si mas Rangga ini?" aku menghampiri Dimas yang sudah tergletak di lantai. "Aku nggak papa kok."


"Eh, Bella cowok brengsek ini nggak pantas berada dihadapan kamu lagi." ucap Rangga, kemudian tangannya sudah siap memukul Dimas kembali. Tetapi untungnya tangan Rangga berhasil dihentikan oleh Dania.


"Lepas Dania, aku ingin memberikan dia pelajaran. Gara-gara dia dulu Bella hampir saja Depresi dan jatuh sakit."


"Mas aku minta maaf, aku tau kesalahan aku dulu dan mungkin Mas Rangga sulit untuk percaya lagi sama aku, tapi kali ini aku benar-benar tulus mencintai Bella."


"Ah, omong kosong."


Brug.


Rangga memukul Dimas kembali.


Semua tamu dan teman-teman Bella, pandangannya menuju kearah mereka. Mama yang sedang berada diatas, tak mendengar kekacauan ini.

__ADS_1


"Stop mas, mas Rangga nggak berhak ngelarang aku untuk berteman sama siapa aja, termasuk sama Dimas. Dimas kesini mempunyai niat baik, tapi mas Rangga malah memperlakukan Dimas seperti ini."


"Udah aku nggak papa kok." ucap Dimas menahan rasa sakit.


"Rangga udah, ayo kita pergi. Nggak enakkan diliatin semua tamu." ucap Dania menenangkan Rangga.


"Ada apa ini?" mama turun dari tangga, melihat kegaduai yang sudah Rangga lakukan, kemudian menghampiri kita.


"Ada apa ini Bella?"


"Rangga mau kemana kamu?"


Rangga pergi meninggalkan aku, Dimas, dan tante. Mbak Dania menyusul mas Rangga.


"Udah, semuanya lanjut saja makannya." tante Yuli


Ella salah satu teman aku menghampiriku, diikuti beberapa temanku yang lain. "Bella, tante dan Dimas. Aku sama teman-teman pulang dulu ya, makasih lo hidangannya."


"Iya, sayang makasih ya sudah mau datang keacarannya Bella, maaf tadi ada sedikit keributan jadinya mengganggu waktu kalian."


"Nggak papa tante. Ya udah aku sama teman-teman pulang dulu ya. Duluan ya Bel."


"Iya, hati-hati dijalan ya."


Setelah selesai mengobati Dimas, aku menyuruh Dimas untuk pulang dan aku menyuruh Dimas ketemuan ditaman.


Dania POV


"Rangga, aku tuh kecewa ya sama kamu. Seharusnya kamu tadi itu bisa ngontrol emosi kamu, apalagi tadi itu banyak teman-teman Bella."


"Aku nggak mau jika, Bella sakit lagi gara-gara cowok itu."


Suara pintu terbuka diikuti langkah kaki seseorang yang mendekati aku dan Rangga.


"Mas, aku kecewa ya sama mas Rangga. Dari dulu mas Rangga nggak pernah berubah, selalu saja nyalain Dimas. Tadi aku juga malu sama teman-teman aku sendiri karna perilaku mas Rangga." ucap Bella sambil mendorong pundak Rangga.


"Bella, maafin mas Rangga ya."


"Nggak mbak aku terlanjur kecewa sama mas Rangga."


"Bella, niat mas itu baik buat kamu."

__ADS_1


"Baik buat aku, nggak justru mas Rangga sudah mempermalukan aku didepan semua orang." ucap Bella kemudian keluar dari kamar dengan raut wajah kesal.


...----------------...


Pagi ini, aku turun menuju dapur, melihat mama sudah berada didapur bersama bibi. Aku menghampiri mama yang sedang mencuci piring. "Pagi mah."


"Pagi Dania, gimana Rangga."


"Masih keras kepala, nggak mau minta maaf duluan."


"Ya udah lah, kamu panggil sana Rangga sama Bella suruh sarapan bareng."


Setelah aku menghampiri Rangga dan menyuruhnya turun untuk sarapan, kemudian aku menghampiri Bella yang masih berada dikamarnya.


Tok...tok...tokk


Aku mengetuk pintu kamar Bella yang masih dikunci, dari tadi pagi Bella belum keluar dari kamar, mungkin masih kesal.


Tak lama Bella membuka pintu kamarnya, dengan rambut yang masih acak-acakan dan raut wajah yang kusam.


"Bella ayo sarapan."


"Nggak mbak ah males."


"Nggak boleh gitu dong, mama udah nyiapin sarapan dari pagi-pagi lo. Masak kamu nggak mau nyobain."


"Ya udah aku cuci muka dulu, mbak Dania turun duluan aja."


"Ya udah, mbak turun dulu ya."


Sarapan sudah berada di meja makan, aku, Rangga, dan mama sudah berada di meja makan. Tinggal menunggu Bella yang belum turun.


Tak lama Bella bergabung dengan kita dimeja makan, tanpa menyapa Ia langsung duduk dan mengambil sarapanya.


"Kenapa kamu?" tanya Rangga.


"Rangga." aku memberikan kode kepada Rangga agar jangan memulai keributan, karna masih pagi.


"Dania, mama, aku berangkat dulu ya. Ada meeting pagi ini juga."


"Nggak mau habisin dulu sarapannya?"

__ADS_1


"Nggak mah, duluan ya."


Rangga pergi tanpa menoleh kearah Bella sama sekali. Aku nggak tau apa yang ada dipikiran Rangga sekarang, aku melanjutkan sarapanku.


__ADS_2