Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
37. Andi dan Dania


__ADS_3

Setelah mobil Rangga menjauh dari tempat kerjanya, aku menghampiri Andi yang sedang berada di depan caffe, aku memberikan senyuman kemudian menyapa lelaki di depanku yang masih menggunakan perban di bibirnya akibat tadi malam.


"Pagi pak."


"Pagi Dan. Kamu dianter suamimu lagi?"


Aku mengangguk, kayaknya si Andi tak tahu jika lelaki yang memukulinya tadi malam adalah suamiku.


"Ya sudah, nanti aku mau ngomong sama kamu."


"Ngomong apa ya pak?"


"Nanti aja pas jam istirahat."


Aku pergi ke belakang, menaruh tas yang aku bawa ke dalam loker ku.


Kenapa Rangga sikapnya berubah yah? awal aku mengenalnya dia tak seperti itu, dia memperlakukanku layaknya seorang istri kenapa sekarang dia memperlakukanku seperti orang asing. Ah siapa juga yang peduli dengan pernikahan ini, pernikahan ini dilandasi hanya dengan perjodohan bukan karna cinta ataupun kasih sayang. Aku menerima perjodohan ini karana tak ingin membuat Ibu kecewa saja.


Sasa yang juga baru datang menyapaku dan membuyarkan lamunanku.


"Dania?"


"Iya, kamu baru datang?"


"Iya ni, kamu ada masalah. Kok dari tadi ngalamun terus?"


"Nggak kok, ya udah ya aku pergi dulu."


Jam menunjukkan pukul setengah dua. Pegawai caffe bergantian untuk melakukan istirahat dan sholat.


Kali ini giliran ku dan dua pegawai lainnya yang beristirahat. Kita diberi waktu beristirahat selama 20 menit, waktu yang cukup untuk sholat dan makan siang.


Andi yang sudah menungguku di meja luar caffe, aku langsung menghampirinya. Andi memberikan aku satu es capucino dan roti coklat, untuk makan siang.


"Makasih pak."


"Jangan panggil pak, ini diluar kerja."


"Tapi masih di area kerja." ucapku sambil tersenyum


"Ada-ada si kamu. Tujuan aku manggil kamu itu aku mau tanya siapa laki-laki yang tadi malam menghampiri kita?"


Aku yang sedang memakan roti, kini berhenti dan mengambil satu cap yang berisi capucino lalu meminumnya sebelum menjawab pertanyaan dari Andi. "Dia suami aku." ucapku sambil menunduk. "Aku minta karna sikapnya tadi malam."

__ADS_1


"Kenapa kamu yang minta maaf, bukan salah kamu juga kan. Sekarang aku mau tanya apakah kamu bahagia menikahi pria berengsek itu.


Mataku membulat, mendengar kata berengsek keluar dari mulut Andi. Ternyata bukan aku saja yang mengatakan kalo Rangga adalah laki-laki yang berengsek.


"A-aku bahagia kok." ucapku terbatah-batah


"Jangan berbohong. Aku tau kamu tak menyukainya."


Aku terdiam sesaat lalu mengambil nafas. "Bukan urusan kamu kan, aku bahagia atau tidak dengannya itu urusan aku. Maaf Ndi aku harus kembali bekerja lagi."


"Dan-Dania."


Andi berusaha menahanku tapi ku abaikan saja, aku tak suka jika ada orang yang ikut campur dengan urusan keluargaku.


Pekerjaan yang melelahkan hari ini, cukup banyak orang yang berkunjung.


Pukul 20:30 caffe tutup, aku kembali ke lokerku dan mengambil tas yang kusimpan di sana.


Aku menyalakan hanphoneku, melihat ada notifikasi chat dari Rangga. Aku membukanya melihat apa yang Rangga tulis kepadaku.


📩 : Ingat besok kita harus kerumah Mama.


20:05


20:07


📤 : Maaf, lebih baik kita besok ketemuan saja.


20:38


Setelah mengirimkan pesan kepada Rangga aku mematikan datanya lalu memasukkan hanphonenya ke tasku.


"Dania."


Suara laki-laki dari belakangku, yang tak asing lagi. Aku menoleh kebelakang, ya benar ternyata Andi berada di belakangku.


"Aku cuma mau minta maaf soal tadi siang."


"Aku sudah maafin kamu kok."


"Makasih ya, bagaimana kalo sekarang aku antar kamu pulang sebagai bagian dari maaf aku?"


"Nggak usah, aku sudah memesan taxi onlaine kok, bentar lagi sampe."

__ADS_1


"Ya udah, hati-hati ya."


Aku mengangguk lalu meninggalkan Andi sendirian.


Sesampainya dirumah, aku langsung pergi kamar melihat Thania yang sedang asik menonton drama kesukaanya.


Selesai mandi aku menyusul Thania yang sedang membuat minum didapur.


Tok...tokk....tokk


Suara ketukan pintu yang tak henti dan semakin keras. "Siapa si malam-malam kaya gini datang untuk bertamu?"


"Ya aku bukain ya."


Aku membuka pintu, dahiku mengerut menatap pria dihadapanku dengan ciri khasnya tangan dilipat di dada. "Ada apa kamu kesini, aku kan sudah membalas pesanmu bahwa kita akan bertemu saja besok."


"Aku kesini cuma mau ngasih ini buat kamu. Makan!"


Rangga memberikan kantong keresek yang Ia bawa kepadaku.


"Apa ini?"


"Tadi Ibumu menyuruh aku dan kamu pergi kerumahnya, lalu Ibumu memberikan ini untukmu."


"Kau pergi kerumah Ibuku tanpa memberitahu aku." ucapku dengan nada tinggi.


''Tadi aku sudah memberikanmu pesan bahkan aku sudah menelfonmu berkali-kali tapi kamu tak meresponku sama sekali. Akhirnya aku pergi sendiri kerumah Ibu kamu."


"Lali Ibu menanyakanku?"


"Kau bilang kamu sudah tidur."


"Syukurlah, makasih kalo gitu. Urusan kamu udah selesai kan sekarang cepat pergi!"


"Baiklah, besok akan aku jemput kamu jam tuju."


Aku mengangguk lalu menutup pintu setelah Rangga masuk kedalam mobilnya.


"Rangga?" ucap Thania


"Iya."


"Ngapain dia kesini malam-malam."

__ADS_1


"Ngasih ini, dari Ibuku ayo kita makan."


__ADS_2