Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
Chapter 73


__ADS_3

...****************...


Sudah satu minggu lebih mama meninggalkan Rangga, tetapi Rangga masih di hantui oleh rasa bersalahnya, Ia selalu berfikir bahwa karna dirinya lah mamanya meninggal.


Dania sudah berusaha meyakinkan Rangga bahwa ini sudah menjadi takdir, tetapi Dania malah kena marah Rangga.


Malam ini Dania kembali meyakinkan Rangga, karna dari tadi Rangga nggak keluar kamar sama sekali.


"Rangga." Dania membuka pintu dan memberikan minuman hangat buatnya.


"Makasih ya."


Dania mengangguk.


"Kamu mau sampai kapan kaya gini, kamu itu masih punya Bella, punya aku-"


Dania menghentikan ucapannya, karna Rangga menatapnya tajam. Seperti singa yang ingin memakan mangsanya hidup-hidup.


"Diem! kamu nggak tau seberapa keras aku ingin melupakan kejadian itu, tetapi nggak bisa, malah rasa bersalah aku semakin besar." nada Rangga meninggi, membuat Dania ingin mengeluarkan air matanya, tetapi Dania menahanya.


"Okey, terserah kamu. Asal kamu tau aku juga pernah berada diposisi kamu saat ini." Dania berbica dengan menahan air matanya, lalu Ia pergi menuju taman di dekat kolam berenang.


Ibu sudah pulang dari kemarin, makanya rumah kelihatan sepi, Rangga yang belum menemukan pengganti Bibi karna Bibi sudah tak kerja lagi di sini.


...****************...


Bella yang mendengar semua kekacauan tadi, langsung masuk kedalam kamar, saat Dania sudah pergi.


Selama ini Bella diam, saat Rangga membentak Dania, tapi kali ini Bella sudah tak tahan lagi.

__ADS_1


"Mas, mas tu apa-apaan sih, kaya anak kecil tau nggak?" ucap Bella yang baru saja masuk.


"Maksud kamu apa si, masuk tanpa ngetuk pintu?" jawab Rangga kesal.


"Harusnya aku yang bilang, maksud mas Rangga itu apa bentak-bentak Mbak Dania kaya gitu? mbak Dania juga manusia, yang memiliki perasaan! maksud mbak Dania itu baik buat mas Rangga. Satu lagi yang harus mas Rangga ketahui, belakangan ini mbak Dania itu sering nangis, tanpa sepengetahuan mas Rangga." Bella meluapkan amarahnya kepada Rangga, tanpa henti, kemudian Ia kembali menutup pintu dan pergi ke kamarnya.


Mata Rangga menbulat saat mendengar kalimat terakhir Bella, sekarang Ia merasa bersalah kepada Dania, karna selalu membuatnya menangis.


Rangga keluar dari kamar dan mencari Dania, Ia tau kalo Dania sedang sedia, Ia selalu mencari tempat yang sepi dan Rangga mencari Dania ditaman rumah nya.


"Dania."


Dania langsung menghapus air matanya, saat mendengar seseorang memanggilnya.


"Maafin aku ya." ucap Rangga yang sudah duduk di samping Dania.


"Maaf buat apa?" Dania masih belum menatap Rangga dan berusaha menghilangkan bekas air matanya.


"Nggak kok, aku kelilipan aja tadi. Kamu mau makan?" tanya Dania mengalihkan pembicaraan.


"Kamu nggak bisa bohong sama aku, tatap mata aku."


Dania menoleh kearah Rangga dan tersenyum tipis kepadanya.


"Aku minta maaf, soal tadi dan kemarin. Aku tau sekarang maksud kamu, kamu nggak mau ngeliat aku sedih karna masalah itu."


"Aku juga pernah berada diposisi kamu, dimana aku kehilangan orang yang aku sayang. Tapi aku berfikir jika aku menangia dan sedih, itu nggak akan membuat mereka kembali lagi."


Rangga memeluk Dania, Bella yang melihat kejadian ini dari kejauhan, ikut senang.

__ADS_1


"Jangan nangis, gimana sekarang kita pergi ke makam." Rangga melepaskan pelukannya, "Nanti habis ke makam orang tua kamu, kita kemakam ayah dan mama aku."


Dania mengangguk, sembari mengusap air matanya.


...****************...


Setelah mendoakan almarhum orang tuanya Dania, mereka pergi ke makam orang tuanya Rangga, yang letaknya tak terlalu jauh.


'Mah, maafin Rangga, Rangga janji nggak akan sedih lagi. Dan Rangga juga janji akan jagain Dania, seperti permintaan terakhir mama.' ucap Rangga sambil memegang nisan mamanya.


"Mah, kita datang lagi. Mama yang tenang ya disana, kita disini akan selalu mendoakan mama." ucap Dania, kemudian menoleh kearah Rangga. "Rangga, kita doa'in mama ya, terus pulang, karna sebentar lagi hujan."


Rangga mengangguk.


...****************...


Ditengah jalan menuju rumah hujan sudah turun, Rangga menghentikan mobilnya, tepat dipinggir jalan.


"Kamu suka hujankan?"


Dania mengangguk, tak mengerti.


"Ya udah, kita main hujan-hujanan yuk." ajak Rangga, sambil menaikan kedua alisnya.


Dania mengerutkan dahinya.


"Udah ayo." Rangga turun dari mobil, kemudian membuka pintu mobil sebelah kiri.


"Ayo, cepetan." Rangga mengulurkan tangan kanannya.

__ADS_1


Rangga mengajak Dania menari dibawah hujan. Mereka begitu sangat bahagia, seakan beban yang ada hilang terbawa aliran air hujan.


__ADS_2