
Thania POV
Aku duduk dimeja luar caffe, berdua dengan Andi. Menatap jelas wajah Andi yang tampan.
Jika diliat-liat Andi cakep juga ya, seandainya gue ada diposisi Dania, gue pasti akan ninggalin Rangga yang playboy itu, buat deket sama Andi.
Aku menyenderkan kepalaku di telapak tangan, mataku menuju kearah Andi yang sedang memainkan hanphonenya.
"Kamu kenapa?" tanya Andi, membuatku tersadar dari lamunan.
"Ha-nggak kok nggak papa."
"Mau makan atau minum?"
"Hemm, minum aja deh."
Andi mengangkat tangannya memanggil pelayan yang membawa nampan kosong.
"Iya pak ada yang bisa saya bantu?" ucap pelayan itu denga sopan.
"Saya pesan 2 jus jeruk ya."
"Siap pak." Pelayan itu pergi dengan melontarkan senyuman kepada Andi dan aku.
Andi orang yang sangat sopan dan ramah terhadap pegawainya, dia juga cukup terbuka orangnya.
Dia menceritakan hidupnya dari nol sampai sekarang, banyak motivasi yang aku dapat dari dirinya, seperti dia yang tak gampang menyerah merintis usahanya. Penghinaan dari orang menjadi penyemangat untuk dia maju.
"....."
"Kamu tau Rangga?"
__ADS_1
"Suami Dania?"
Andi mengangguk. "Kamu tau permasalahan keluarga Dania dan Rangga?"
"Aku nggak tau semuanya sih, tapi yang aku tau-"
"Kurang ajar banget ya, dia kurang bersyukur banget sih, Dania itu orangnya baik malah diperilakukan seperti itu."
"Wajar sih menurut gue, karna Rangga itu pengusaha yang sukses dan tampan, mungkin karna itu dia jadi orang yang....gitu lah."
"Hay. Lagi ngomongin apa sih serius bangat." Dania datang, kemudian duduk disamping aku.
"Nggak papa kok."
Andi mengajak aku dan Dania makan mie ayam dipertigaan jalan. Kita jalan kaki menuju tempat lokasi, karna tak terlalu jauh dari caffe milik Andi.
Kita menikmati mie ayam dengan santai, sempat ku pethatika Andi sering melikkan matanya kearah Dania, tetapi Dania tak menyadari itu.
Dalam perjalanan pulang aku sibuk dengan isi kepalaku, memikirkan Ranga. Apakah benar Rangga membatalkan perceraian ini, aku senang dengan keputusan Rangga, tapi aku juga nggak bisa bohong dengan perasaanku, hati aku sakit jika mengingat kejadian yang Rangga lakukan kepadaku.
Sesampainya dirumah aku mandi terlebih dahulu, setelah mandi aku mengambil piring didapur dan menyiapkan nasi goreng yang sudah aku dan Thania beli sebelum sampai dirumah.
Aku makan didalam kamar sambil menonton televisi.
"Dania." Aku menoleh kearah pintu yang sudah terbuka, melihat Thania berdiri dengan handuk dikepalanya. "Boleh aku masuk?"
"Boleh lah, emang kenapa harus izin terlebih dahulu."
Thania menjawabku dengan melangkahkan kakinya mendekatiku. "Aku liat akhir-akhir ini kamu itu sering ngelamun, kurangin lah hobi ngelamun kamu itu."
Aku dari tadi memang memikirkan Rangga kenapa dia tak mengabari aku, ah apa pedulinya dia dengan diriku, aku hanya Istri diatas kertas saja.
__ADS_1
Tak seharusnya aku memikirkan dia berlebihan.
"Tu-kan, nglamun lagi, mikirin apa si kamu?
Aku menarik nafas. "Kamu sering liat Rangga dikantor?"
"Rangga?" jawab Thania dengan sedikit tertawa. "Jarang si, yang aku sering liat malah Aldo."
"Kenapa, Rangga jarang masuk kantor?"
"Nggak tau juga, kenapa kamu kangen ya sama Rangga?" ucap Thania dengan nada meledek
"Nggak, apaan sih kamu."
"Ya udah, makannya cerita dong sama aku."
Aku menceritakan semua kejadian aku dengan Rangga tanpa aku tutup-tutupi dari Thania, karna aku sudah anggap Thania itu keluarga aku sendiri, makanya aku sangat percaya dengan dia.
Begitupun Thania jika ada masalah Thania selalu bercerita dengan aku.
"...."
"Menurut aku si kamu jangan terlalu memikirkan orang lain walau itu Ibu kamu sendiri, jika kamu nggak bahagia dengan Rangga lalu buat apa kamu perjuangin lagi. Pasti Ibu kamu ngerti kok. Dengan keadaan ini."
Thania memelukku, lalu mengelus punggungku. Aku tak tahan menahan air mataku hingga jatuh mengenai baju Thania.
Buat apa Rangga dulu membuat janji kepadaku bila harus dia juga yang mengingkari janji itu, dia memperlakukanku layaknya seorang istri yang paling ia cintai. Semua kenangan di Bali hanya meninggalkan luka. Apakah seumur hidupku aku habiskan dengan seperti ini, berpisah rumah dengan Rangga, bahkan seolah-olah aku tak mengenalnya diluar sana?
Waktu menunjukkan pukul 23:05 aku melihat Thania masih sibuk dan fokus dengan leptopnya apalagi kalo bukan buat nonton drama tidurnya.
Hari ini aku cukup lelah aku memutuskan untuk tidur terlebih dahulu, tak lama aku pu terlelap dalam mimpiku sendiri.
__ADS_1