Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
35. Perkelahian


__ADS_3

Aku mengambil nampan yang diberikan Farhan (kepala chaf) untuk mengantarkannya kemeja nomer 3, satu-satunya meja yang berisi pengunjung, sekaligus pengunjung terakhir.


"Selamat menikmati." ucapku membungkuk pada pengunjung terakhir sambil melontarkan senyuman kemudian kembali ke dapur membawa nampan kosong.


Kepala chef itu hanya sendirian di dapur karna Chef yang lain sudah pulang. Setelah pengunjung terakhir itu pergi dan Sasa bagian kasir yang tadi aku liat sudah siap untuk pulang kini sudah tak ada ditempatnya.


5 menit kemudian Andi datang menggunakan mobilnya, la mengajakku untuk menemani makan malam seperti yang kita bicarakan tadi pagi.


Setelah ganti baju aku pergi menghampiri Andi. Waktu masih menunjukkan pukul sembilan, biasanya Caffe milik Andi tutup jam setengah sembilan.


Dalam perjalanan kita mengobrol tentang masalah hidup masing-masing. 15 menit dalam perjalanan akhirnya kita sampai di Coffi Shop yang buka 24 jam.


Cuaca di luar mendung, karna sekarang musim hujan. Andi memilih tempat diatas dekat jendela, tak lama rintikan hujan datang menyambut malam.


Tak lama pelayan datang menanyakan pesanan. Andi hanya memesan 2 roti bakar untuk menemani capuccino.


"Dania."


Aku yang tadinya memandangi hujan lewat jendela, menoleh ke arah Andi. "Iya, ada apa?"


Pelayan datang dengan membawa pesanan yang sudah Andi pesan.


"Kenapa hujan datang hanya saat mendung?"


"Kenapa emang?" aku mengoleskan selai nanas diatas roti.


"Karna tidak ada orang yang tertawa sambil menangis." Andi tertawa setelah menjawab pertanyaanya sendiri.


"Dasar, pertanyaan macam apa itu?"


Kita makan sambil bercanda, tertawa cukup keras karna caffe sepi, dan kita berada di paling pojok. Tidak akan ada yang terganggu dengan tawa konyolnya kita.


Sesaat kemudian aku menghentikan tawaku, mataku mengarah ke seseorang yang berjalan mendekatiku dengan raut wajah yang terkesan marah.

__ADS_1


Rangga, sejak kapan dia disini?


Bugh!!!


"Diamlah, kau kira tawamu tak menggangu semua orang?" ucap Rangga dengan gebrekan kepada meja, membuat makanan dan minuman kami berserakan.


"Hai, bung apa masalahmu dengan kami? kami hanya tertawa."


"Kau mengganggu ketenangan di caffe ini! Diamlah atau kau pergi dari sini sekarang!"


Matanya yang tajam mengarah ke Andi, badannya yang membungkuk karna tangannya bertumpu pada meja.


"Kami hanya tertawa, tetapi kau mal..."


Bugh!!


Belum selesai Andi menjawab, Rangga sudah memberikan tonjokan pada bagian pipi kiri Andi hingga sudut bibirnya berdarah.


Aku menutup mulutku, menahannya agar tidak berteriak. "Rangga hentikan!"


"Diam kau."


"Jangan membentaknya."


Kini matanya yang tajam kembali mengarah ke Andi yang sudah berada di bawah lantai akibat tonjokannya.


Aku menghentikan Rangga yang ingin memukul Andi kembali.


"Rangga hentikan! kau sudah gila ya? kau kira semua orang harus tunduk kepada kamu!" aku mengarah ke Andi dan membantunya berdiri.


"Aku nggak papa kok, dia siapa?" ucap a


Andi sambil tertawa, aku tak tau dengnya masih saja bercanda walaupun dengan keadaan sakit akibat tonjokan yang laki-laki itu berikan.

__ADS_1


"Kita pergi sekarang ya, aku akan membawa kamu ke puskesmas terdekat."


"Jauhi dia atau kau akan menyesal." ucap Rangga sebelum Ia pergi meninggalkan kami.


Aku membawanya pergi ke puskesmas terdekat, karna aku tak tau harus berbuat apa. Luka di bagian bibirnya kini sudah dilapisi dengan kapas putih oleh dokter.


Sesampainya dirumah aku sudah melihat Thania tertidur, tetapi Ia terbangun karna suara pintu yang aku buka. Mungkin karna Ia baru saja tidur. "Kau sudah pulang?" tanyanya dengan mata sipit yang sulit Ia buka karna rasa kantuknya.


"Iya, kamu lanjut saja tidurnya."


"Tadi Rangga kesini."


Aku menghentikan langkahku yang ingin pergi ke kamar mandi. "Ngapin dia kesini?"


"Aku nggak tau, yang pasti dia ingin menemuimu."


"Jam berapa?"


"Sekitar jam sembilan."


"Oh, biarkan saja. Tadi aku sudah bertemu dengannya."


"Oh-ya. Dimana?"


Aku terduduk disamping Thania, dan menceritakan semua kejadian di caffe.


"Gila Rangga, dia main tonjok-tonjok saja dia kan bos kamu?"


"Aku nggak tau dengan dia, maksudnya apa?"


"Lo yang sabar aja ya."


Aku mengangguk dan pergi kekamar mandi.

__ADS_1


Jarum jam sudah menunjukkan pukul sebelas, aku kembali lagi ke kasur dan tak lama aku pun tertidur.


__ADS_2