
Sesampainya dimasjid aku mengambil air wudhu untuk sholat isya, kebetulan tadi aku belum sholat. Menyalakan lampu masjid, kemudian pergi ke kamar mandi.
Selesai sholat aku mengangkat tanganku sejajar dengan dada, memejamkan mataku, kemudian menarik nafas, lalu mulai berdo'a kepada Tuhan.
"......"
Selesai berdo'a aku melihat jam dimasjid masih menunjukkan pukul 22:05. "Sebenarnya si belum larut malam, tetapi kok Thania sudah ditidur ya." gumanku dalam hati.
Aku melepas mukena yang aku pakai, kemudian melipatnya.
Saat aku ingin mengambil tasku dan menoleh kebelakang. Badanku seakan membeku, jantungku berdebar sangat kencang. "Sejak kapan Ia disitu."
Lelaki yang memakai jaket hitam dengan tutup kepalanya. Melipat tangannya didada, menatapku dengan wajah datar. "Sejak kapan kamu disitu?"
"Sejak kamu masih sholat. Ngapain kamu disini."
Aku menghela nafas. "Ngapain kamu disini."
"Kenapa kamu balik bertanya, jangan menjawab pertanyaanku dengan pertanyaan."
"Tadi aku mau masuk rumah, tetapi aku lupa kuncinya ketinggalan. Makanya aku kesini."
"Kamu mau tidur disini."
Aku tersenyum kepadanya.
"Ya udah, ayo ikut aku."
"Kemana?"
"Ikut aja."
__ADS_1
Aku mendekati dia, kemudian masuk kembali kedalam mobilnya.
Dia berhenti di caffe yang tak jauh dari tempatku. Caffe yang buka 24 jam.
Mobilnya berparkir didekat jalan, dia turun kemudian masuk kedalam. Aku masih didalam mobil. Tak lama Rangga datang dan menyuruhku untuk keluar.
Aku keluar dari mobilnya dan duduk dikursi taman, dibawah lampu tak jauh dari mobil.
"Minum."
Rangga memberikan satu cup berisi kopi susu hangat. "Makasih. Oh ya, tadi kamu ngapain balik lagi."
"Aku cuma mau ngembalin ini buat kamu." Ia merogoh saku celananya. "Hanphone kamu, tadi ketinggalan dimobil."
Aku baru sadar jika aku tak memegang hanphone aku dari tadi. "Makasih ya. Kamu kok bisa tau aku dimasjid."
"Aku melihat keadaan rumah sangat sepi, nggak mungkinkan kamu baru masuk langsung tidur. Terus aku liat lampu masjid nyala, aku langsung kesitu dan benar kamu disana."
Rangga juga menoleh kehadapanku, kemudian menyenderkan kepalanya dipundakku. "Boleh ya, sebentar saja."
Aku mengangguk.
"Kamu tau, Papa aku meninggal karna tumor dikepalanya, pada saat itu mama tak terlalu memperhatikan keadaan Papa, Mama lebih sibuk dengan pekerjaannya. Aku lebih nyaman dekat dengan Papa, dari pada dengan mama. Sampai pada saatnya papa menyerah, karna tak kuat dengan pernyakitnya. Dan pada saat itulah hatiku benar-benar hancur."
Aku melirik kewajahnya, baru kali ini aku melihat seorang Rangga menangis. Air matanya satu persatu membasahi pipinya. "Tak adil rasanya jika Tuhan, tak memberikan kamu cobaan. Setiap orang itu mempunyai kekurangan dan kelebihan. Kamu harus banyak bersyukur atas semua kelebihan yang kamu punya."
Aku mulai merasa pegal, karna kepalanya menyender dibahuku. Aku menoleh kearahnya, matanya sudah terpejam. Tak enak jika harus membangunkannya. Aku mengangkat kepalanya pelan, kemudian meluruskan badanya, aku mengambil jaketnya yang tadi dilepas didalam mobil.
Setelah itu menaruh jaketnya di badannya agar tak kedinginan.
Aku mengangkat kepala Rangga pelan, duduk. Kemudian menaruh lagi kepalanya dipahaku.
__ADS_1
Tanganku menyentuh keningnya, menyingkirkan rambut yang hampir mengenai matanya, kemudian turun mengenai hidungnya, hidung yang mancung. Kemudian turun lagi mengenai bibirnya, bibir yang berwarna merah.
Rasa kantuk mulai menghampiriku, aku tidur dengan menyenderkan kepalaku dikursi.
...----------------...
"Dania bangun." aku terbangun karna mendengar suara dan sentuhan tangan mengenai keningku.
Aku tersadar bahwa sekarang aku sudah berbaring dikursi, jaket yang aku berikan kepada Rangga, sekarang berada ditubuhku.
"Jam berapa sekarang."
"Setengah lima, aku antar kamu pulang. Teman kamu udah bangunkan jam segini?"
"Iya."
Aku menyusul Rangga menaiki mobil. Didalam mobil aku masih sangat ngantuk, mungkin karna tidurku kurang nyaman tadi malam.
Jarak antara rumah dan caffe tadi tak terlalu jauh, hanya 2 km saja.
Sesampainya didepan rumah aku turun dari mobil Rangga, Setelah mobil Rangga pergi. Aku mengetuk pintu, tak lama Thania keluar, masih menggunakan mukenanya.
Aku masuk mengikuti langkah Thania, aku langsung pergi kekamar mandi, untuk mengambil air wudhu.
Selesai sholat, aku tidur kembali. Karna masih jam 05:15, Thania juga masih sibuk dengan leptopnya menonton drama kesukaannya.
"Mau tidur lagi?"
"Iya, masih ngantuk nih." aku mengambil posisiku lalu menarik selimut.
Tak lama aku langsung terlelap dalam tidurku.
__ADS_1