
Pagi ini aku bangun terlambat, mungkin karna kemarin kecapean. Aku melihat Thania sudah tak lagi ada di sampingku, aku bergegas mengambil air wudhu untuk sholat subuh.
Selesai sholat aku pergi ke dapur, melihat Thania sedang menyiapkan sarapan.
"Udah, sholatnya?"
"Udah kok, kenapa kamu nggak ngebangunin aku?"
"Maaf aku nggak tega, keliatannya kamu capek banget soalnya."
Pragg
Hanphone aku jatuh saat Thania menabrakku karna kesandung kaki meja makan. Satu gelas air susu yang Thania bawa tumpah mengenai lantai dapur.
"Ah, maaf Dania aku tak sengaja."
Aku mengambil hanphoneku dan memastikan bahwa hanphoneku masih hidup atau tidak.
"Iya nggak papa."
"Masih nyala?"
Aku berusaha menyalakan hpku berkali-kali, tetapi tak kunjung menyala. "Nggak bisa?" tanya Thania dengan wajah penuh bersalah.
"Nggak tau ini, nanti coba aku bawa ke konter saja."
"Sekali lagi aku minta maaf."
"Iya nggak papa, kita sarapan aja ya. Kamu kan harus kerja. Nanti biar aku yang ngepel bekas air susu yang tumpah."
Selesai makan Thania pergi ke kamar untuk mengambil tasnya. Sedangkan aku membereskan piring di meja makan dan mengepel air susu yang tumpah.
"Dania, setelah ini kamu mau kemana?"
"Aku kayaknya mau cari kerja saja, di dekat sini."
"Ya udah, aku do'ai kamu cepat dapat kerjaan ya."
"Makasih ya."
#
Sesampai dikantor Thania langsung di hadang di depan pintu oleh Rangga, tangannya yang dilipat di dada dan raut wajah yang datar. Thania berusaha bersikap tenang, karna Ia tak pernah berhadapan langsung dengan atasanya. "Ada apa ya?"
__ADS_1
"Dania dirumah kamu?"
Thania mengangguk lalu menatap ke arah lantai.
"Suruh dia mengangkat telfon dari aku."
"Hanphone Dania rusak, karna tadi aku tak sengaja menjatohkannya."
Rangga
Suara lelaki dari arah selatan mereka. Mereka langsung menoleh ke arah sumber suara.
"Ngapai masih disini? bentar lagikan meeting dimulai. Ayo pergi."
Rangga hanya mengangguk tanpa tersenyum kepada Aldo.
Setelah mereka pergi Thania melangkahkan kakinya menuju kubikel miliknya.
#
Selesai membereskan rumah aku bersiap-siap untuk mandi.
Setelah semuannya selesai aku mengunci kontrakan milik Thania, dan berjalan mencari taxi, saat aku sudah berada di pinggir jalan raya ada satu mobil berhenti dan menghampiri aku. "Andi?"
"Aku mau cari kerjaan dekat sini."
"Kenapa? bukannya kamu sudah menikah?"
"Aku hanya ingin bekerja saja. Daripada dirumah nggak ada kerjaan."
Andi menawarkan pekerjaan kepadaku, yaitu di Caffe miliknya yang jaraknya tak terlalu jauh dari kontrakan Thania. Aku langsung setuju dengan tawaran Andi, karna aku sangat membutuhkan pekerjaan saat ini, tidak mungkin jika aku harus hidup bergantungan dengan Rangga.
"......"
"Hari ini kamu sudah boleh kerja."
"Makasih ya."
Aku dan Andi pergi ke Caffe miliknya, yang memakan waktu 30 menit dari tempat kami bertemu dijalan.
Hari ini aku bekerja sangat semangat karna ini hari pertama aku kerja. Pukul 13.05 Caffe sudah lumayan sepi hanya anak muda yang duduk sambil menikmati kopi dan cemilan. Sedangkan para pekerja sudah kembali ke kantornya.
Aku izin untuk sholat duhur bergantian dengan pegawai lainnya. Selesai sholat Andi mengajak aku duduk di meja yang kosong.
__ADS_1
"......"
"Aku mohon sama kamu jangan beritahu Ibu soal ini."
"Aku nggak akan beritahu siapa-siapa kok kalo kamu kerja, asalkan kamu mau nemenin aku makan malam."
Dahiku mengerut mendengarkan permintaan Andi. Tak ada pilihan selain menerima permintaan Andi.
Jam 8 malam Caffe tutup, aku menepati janji aku kepada Andi untuk menemani Ia makan malam, Andi memilih makan nasi goreng dipinggir jalan tempat dimana dulu kita sering makan di situ saat malam minggu.
Jam setengah 10, aku sampai di depan kontrakan. Andi yang mengantar aku pulang. "Makasih ya." aku menutup pintu mobil lalu melambaikan tangan kepadanya.
"Dari mana kamu?"
Aku menoleh ke sumber suara, saat aku membalikkan badan jantungku seakan berhenti berdetak, aku terkejut saat ada Rangga didepan pintu. Tangannya dilipat di dada dengan raut wajah yang sulit diartikan.
"Ngapain kamu disini?"
"Jangan menjawab dengan pertanyaan, jawab aku dengan jawabanmu."
"Bukan urusan kamu."
"Aku sudah menunggu kamu dari 3 jam yang lalu, terus kamu bilang ini bukan urusanku. Dan siapa laki-laki tadi?"
Aku melihat Thania berada di tangga dengan mengedipkan kedua matannya.
Aku menghela nafas. "Dia teman aku."
"Jauhi laki-laki itu! ini hanphone buat kamu, kabari aku jika kamu butuh bantuanku."
Aku mengambil kotak yang berisi hanphone dari tangan Rangga. "Makasih."
"Aku hanya ingin minta maaf sama kamu, soal kejadian kemarin."
"Aku udah maafin kamu, tapi jika kamu mau menyuruhku kembali kerumah itu. Aku nggak mau."
"Aku tau soal itu, aku juga tau hati kamu sakit tapi aku juga tak bisa menahan napsuku sendiri."
Aku tau hati kamu sakit.
Aku mengulangi kalimat itu di dalam hatiku, jika dia tau hati aku sakit kenapa dia melakukan ini semua kepada ku. "Ya udah kamu pulang sana, besok kamu kan kerja."
Rangga menganggu lalu mencium keningku. "Aku pulang dulu, kamu jaga diri kamu baik-baik disini."
__ADS_1
Aku tersenyum, apalagi saat Rangga mencium keningku rasannya hatiku kembali lagi setelah kemarin-kenarin aku merasa hatiku hancur.