
Setelah menyiapkan air dan mengambil kain, aku langsung mengompres lengan Rangga dengan pelan.
"Aduh sakit, pelan-pelan kenapa?"
"Iya ini sudah pelan, kamu sabar sedikit kenapa. Tadi katanya nggak sakit."
"Ya itu tadi sebelum dipegang kamu."
"Maksud kamu, tangan kamu tambah sakit gara-gara aku. Ya udah ini obatin sendiri tangan kamu." ucapku dengan sebal, lalu melemparkan kain untuk mengompres, mengenai perut Rangga.
Kemudian aku berniat untuk keluar dari kamar.
"Mau kemana?"
"Keluar, kamu bisakan ngobatin tangan kamu sendiri."
Baru berapa langkah aku pergi, aku berhenti kemudian menoleh kebelakang. "Ouh ya, jangan lupa istirahat."
Kalimat terakhir yang aku ucapkan, sebelum aku menutup pintu kamar. Sempatku liat Rangga tersenyum kepadaku, sebelum pintu tertutup rapat.
Aku tak melihat Bella, dikamarnya juga tidak ada. Rumah kelihatan sangat sepi, dari tadi aku tak melihat ada bibi diruamh ini. Aku memutuskan untuk duduk santai di kursi dekat kolam berenang.
Kenapa Rangga bisa kaya gitu ya, bukannya tadi malam dia menghabiskan malamnya dengan perempuan diklub itu.
Aku kaget saat tangan seseorang menyentuh pundakku. Aku menoleh kebelakang.
"Bella, kamu itu bikin mbak kaget aja."
"Maaf mbak, lagian ngapain mbak Dania ngelamun disini?"
"Siapa yang ngalamun, mbak lagi nyari udara segar aja."
"Gimana mas Rangga?"
__ADS_1
"Lagi istirahat."
Bella duduk dusebelahku, matanya menatap kearahku.
"Mbak aku minta maaf ya, udah ngganggu waktu mbak sama keluarga mbak, apalagi Ibu mbak kan lagi sakit."
"Ibu? sakit?" tanyaku heran
"Iya, kata mas Rangga mbak Dania kemarin itu pulang kerumah Ibu-nya. Karna Ibu mbak Dania lagi sakit. Makanya tadi malam aku mau nelfon mbak Dania dilarang sama mas Rangga.Tapi aku nggak tega aja ngeliat mas Rangga, akhirnya aku telfon mbak diam-diam....Ouh ya gimana sekarang keadaan Ibu mbak."
Maksud Rangga apa bilang Ibu aku sakit segala. Kurangajar dia.
"Mbak."
"Ha, iya Ibu mbak udah baikan kok." Aku tersenyum tipis kepada Bella. "Ouh ya Bella mbak mau nanya, tadi malam mas Rangga kecelakaan jam berapa ya?"
"Tadi malam, sekitar setengah dua belas."
Aku menebak-nebak pikiranku sendiri. Sampai aku lupa bahwa Bella ada disampingku.
"Mbak, mbak ngalamunin apa sih?"
"Nggak papa kok, kamu udah makan siang?"
"Belum."
"Ya udah ayo bantuin mbak masak, sekalian masak buat Rangga juga."
Selesai memasak, aku membawakan nampan yang berisi nasi dan sayuran, untuk Rangga dikamar. Aku membuka pintu kamar, melihat Rangga yang sedang duduk dikursi kerjanya.
Aku meletakkan nampan dimeja, kemudian menghampiri Rangga dan memarahinya.
".....Kamu itu seharusnya istirahat. Ngapain malah duduk disini, tangan kamu juga masih sakit kan-"
__ADS_1
Huts
Rangga berdiri dari kursinya, lalu menghentikan ucapanku dengan jari telunjuknya. Aku dan Rangga saling bertatapan, wajah Rangga berada tepat dihadapan wajahku.
"Apaan sih kamu." Aku menurunkan tangan Rangga yang berada didepan mulutku, dengan cukup keras dan membuat tangan Rangga sakit kembali.
"Aduh sakit."
"Aaa...masih sakit ya tangan kamu? makanya aku suruh kamu istirahat malah kamu kerja. Rasain tu." ucapku dengan sedikit kesal.
"La kok, kamu marah-marah sih sama aku?"
Aku tak membalas ucapan Rangga, kemudian mengambil nampan yang tadi aku bawa. Lalu menaruhnya di atas meja samping ranjang.
"Makan dulu." ucapku sambil menawarkan minum.
Aku tak tega melihat Rangga kesakitan akibat tangan kanannya bengkak, saat menyuapkan sendok kemulutnya. Aku bangkit dari duduk, kemudian menghampiri Rangga, lalu mengambil alih mangkuk yang Ia bawa.
"Sini aku suapin."
"Nggak usah, aku bisa sendiri."
"Gengsian banget si jadi cowok. Sini biar aku aja."
"Ya udah kalo kamu maksa."
Setelah makanan Rangga habis, aku membereskan nampan dan melanglahkan kakiku keluar dari kamar.
Aku menghentikan langkahku saat mendengar suara Rangga.
"Nanti malam kamu tidur disini ya?"
Aku tak menoleh kearahnya, setelah Rangga selesai bicara aku melanjutkan langkahku. Tanpa membalas pertanyaan dari Rangga.
__ADS_1