Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
Chapter 57


__ADS_3

...----------------...


Setelah sholat subuh dan bersih-bersih rumah, karna bibi pulang kampung dari dua hari lalu, aku membangunkan Rangga dan menyuruhnya untuk sholat. Karna waktu sudah menunjukkan pukul 05:00.


Setelah Rangga bangun aku turun kebawah menuju dapur, membuat sarapan untuk pagi ini. Tak lama Bella datang menghampiri aku dan membantuku memasak.


Pukul 06:30 Rangga turun disaat aku menyiapkan sarapan dimeja makan. Rangga sudah menggunakan pakaian kerjanya, lalu duduk disalah satu kursi. Sedangkan Bella sedang pergi kekamar mandi.


"Kamu mau kerja hari ini?"


Rangga hanya mengangguk tanpa menoleh kearah aku.


"Tangan kamu udah sembuh beneran?"


"Udah kok, udah nggak papa juga."


"Mas Rangga pergi kekantor bawa mobil sendiri?" tanya Bella yang baru saja datang.


"Nggak, Aldo nanti kesini."


Aku mengambilkan nasi dan lauk untuk Rangga. Suasana saat sarapan berlangsung sangat hening, tak ada yang berbica sama sekali.


Sampai saat kita mendengar suara seseorang masuk kedapur.


"Hallo, selamat pagi bro." ucap Andi, lalu bertepuk tangan dengan Rangga. "Hai, Dania, Bella." sambungnya dengan ramah.


"Pagi, Do." jawab Bella.


"Mau makan juga."


"Bo-"


"Nggak usah, aku sama Aldo langsung pergi kekantor aja."


Rangga mengambil tas kerjanya yang berada disamping tempat duduknya, lalu mengajak Aldo keluar dari ruang makan.


Setelah Rangga dan Aldo pergi aku dan Bella melanjutkan makan.


Selesai makan aku membereskan piring yang berada diatas meja. Sedangkan Bella bersiap-siap untuk berangkat kerja.


"Habis ini aku ngapain ya, apa aku pulang saja kerumah Thania? aku juga belum izin kepada Andi jika aku tak masuk hari ini?"


Gumanku dalam hati, sambil mencuci piring.

__ADS_1


Aku berpapasan dengan Bella saat aku melewati depan kamarnya. Bella sudah berpakaian rapi, dengan jas berwarna hitam.


"Udah siap berangkat?" sapaku


"Udah mbak, nanti aku tidur disini lagi ya. Aku masih kangan sama mbak Dania. Boleh kan?"


Aku hanya terdiam, mendengar kalimat terakhir Bella.


"Gimana mbak?"


"Iya, tentu boleh dong."


Bella memelukku sebelum akhirnya dia pergi bekerja.


Aku sangat bosan jika harus berada dalam rumah sendiri. Jam ke jam aku habiskan dengan membaca novel romaca, yang aku beli beberapa hari lalu.


Rangga POV


Seseorang pelayan menghampiri kami, memberikan makanan yang sudah kami pesan. Sekarang aku dan Aldo berada di Caffe dekat kantor, pada saat jam istirahat.


"Lo kok bisa kecelakaan sih." tanya Aldo heran


"Hanphone gue jatuh pada saat aku nelfon lo...."


"Gue cuma mau tau kon-"


"Tau apa?"


"Nggak, nggak papa."


"Jangan bilang lo mau tau kondisi Dania ya? Lo tuh kalo suka sama dia nggak usah kaya gini, kasian tau Dania."


"Apaan sih lo."


Suasana dimeja hening seketika. Aku hanya memainkan garpu dan sendok yang aku bawa tanpa memakan makananya.


Diotaku selalu terbayang nama Dania, entah mengapa.


"Woy."


Aku tersadar dalam lamunanku. "Apaan sih, ouh ya...Dania cerita apa aja sama lo?"


"Nggak dia nggak cerita apa-apa sih sama gue. Lo itu jika suka sama dia, jujur aja kenapa sih."

__ADS_1


"Nggak, dalam kamus aku itu nggak ada yang namanya Rangga bilang cinta duluan sama cewek. Dari dulukan semua cewek yang ngejar-ngejar gue."


"Terserah lu dah, gengsian banget sih jadi cowok." ucap Aldo kesal.


Aku tak membalas omongan Aldo, lalu menghabiskan makanan siang aku.


Selesai makan siang, aku kembali keruang kerjaku. Aku melihat Amel tak berada ditempatnya, aku tak memperdulikan itu, aku langsung memasuki ruang kerjaku.


Aku membuka pintu, melihat Amel sudah berada diruanganku, membereskan meja kerjaku.


"Hay Rangga."


"Ngapain kamu disini?"


"Aku cuma beresin meja kamu aja, tadi aku liatnya berantakan banget."


Aku menghampiri Amel. "Sekarang sudah selesaikan, balik keruangan kamu!"


"Kenapa sih kamu, marah-marah terus." ucap Amel dengan nada menggoda.


"Gue bilang sekarang lo keluar dari sini." ucapku dengan nada tinggi.


"Okey, Rangga. Semangat kerjanya ya."


Aku mengabaikan ucapan Amel, setelah Amel keluar dari ruanganku, aku duduk dikursi kebanggaanku.


Sampai kapan aku harus memperlakukan Amel seperti itu, lama kelamaan dia ngelunjak.


"Selamat siang pak."


"Siang, masuk Thania."


"Ada apa ya, Bapak manggil saya?"


Aku tadi memang sengaja menyuruh seseorang untuk memanggil Thania agar menemuiku.


"Tenang aja saya nggak akan membahas soal pekerjaan kok.'


"Lalu ada apa ya, bapak memanggil saya."


"Saya mau tanya sesuatuh sama kamu soal Dania?"


"....."

__ADS_1


__ADS_2