Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
Chapter 55


__ADS_3

Mobil Andi berhenti tepat didepan rumahku, sebelum turun Andi sempat memberikan senyuman kepadaku, aku membalasnya dengan senyum terpaksa.


"Lo tenang aja, urusan Rangga aku yang tanganin."


Aku hanya mengangguk, kemudian turun dari mobil, setelah mobil milik Andi hilang diujung jalan aku masuk kedalam rumah.


...----------------...


Pagi ini aku menyiapkan sarapan untuk Thania, yang sedang mandi. Tak lama Thania turun sudah menggunakan pakaian kerjanya.


"Bagaimana acara tadi malam kamu sama Rangga?" tanya Thania sambil mengambil roti dihadapannya.


"Biasa aja." ucapku tanpa menoleh kearah Thania.


"Kamu kenapa sih? sakit?"


"Nggak, aku nggak papa kok. Aku mau mandi dulu ya." ucapku tanpa menoleh kearah Thania.


"Okey, kalo kamu nggak mau cerita sama aku. Nggak papa kok."


Aku nggak menjawab pertanyaan Thania, entah kenapa pagi ini aku sangat malas sekali untuk bicara.


Aku melangkahkan kakiku menuju kamar, Thania melihatku dengan sinis.


Aku mengambil hanphoneku diatas meja, karna sempat beberapa kali berbunyi. Aku membuka hanphoneku, melihat ada beberapa pesan dan telfon dari Bella.


Saat aku ingin membuka pesan dari Bella, Bella menelfonku kembali. Aku langsung mengangkat telfon dari Bella.


"Hallo, ada apa Bella?"


"Mbak tolong pulang kerumah mas Rangga ya."


"Ada apa emang?"


"Kesini aja dulu, nanti aku kasih tau jika mbak Dania sudah disini."


"Tapi-"

__ADS_1


Belum selesai aku bicara, Bella sudah memutuskan sambungan telfonnya.


Aku bertanya-tanya dalam hati kenapa Bella mendadak menyuruh aku untuk pergi kerumah Rangga, atau jangan-jangan Mama sudah pulang?


Aku meletakkan hanphoneku diatas kasur, saat aku mendengar seseorang membuka pintu kamar. Aku melihat Thania sudah berdiri didepan pintu, memandangku dengan wajah datarnya.


"Kamu belum mandi, katanya kamu tadi mau mandi?"


"Ini aku mau mandi, kamu sendiri belum berangkat kerja?"


"Aku mau ngambil hanphone aku yang ketinggalan."


Aku hanya mengangguk, kemudian mengambil pakaian yang sudah aku siapin. Lalu pergi keluar menuju kamar mandi.


Selesai mandi aku kembali kekamar, Thania sudah berangkat ke tempat kerjanya, tepatnya dikantor milik Rangga. Aku kembali membuka hanphone, lagi-lagi Bella memberiakn pesan kepadaku dan mengingatkan aku untuk pergi kerumah Rangga.


Aku menuruni Rangga, kemudian menunggu taxi didepan rumah. Tak lama taxi yang aku pesan sampai.


Sebenarnya aku cukup ragu untuk pergi kerumah Rangga, apalagi kalo harus bertemu dengan Rangga disana. Atas semua apa yang dia lakukan kepada ku tadi malam. Tapi aku juga tak bisa menolak perintah Bella, bagaimanapun Bella sudah aku anggap seperti adik aku sendiri.


Aki berharap saat aku sampai dirumah, Rangga sudah pergi kekantor-nya.


Aku menghapus air mataku, sebelum turun dari taxi.


Aku membuang nafas saat aku berada didepan pintu rumah, aku mendorong pintu pelan, disitu aku langsung melihat Bella yang sedang duduk diruang tamu.


Bella menghampiriku, matanya sembab saat aku melihat wajah Bella dengan jelas.


Bella memelukku erat. "Bella kamu nggak papa-kan?"


"Aku nggak papa, tapi mas Rangga."


"Rangga? kenapa dengam Rangga?" aku melepaskan peluka Bella.


"Tadi malam mas Rangga mabuk, terus saat dia pulang mas Rangga kecelakaan mobilnya nabrak pohon, tapi untungnya mas Rangga nggak kenapa-napa. Cuma tangannya aja katanya yang sakit."


"Terus Rangga sekarang dimana?"

__ADS_1


"Mas Rangga dikamar."


"Kenapa nggak dibawa kerumah sakit aja sih."


"Tadi malam udah aku bawa, tapi mas Rangga minta pulang."


Aku langsung melangkahkan kakiku dengan cepat, menaiki tangga, kemudian membuka pintu kamar. Melihat Rangga sedang berbaring diatas ranjang. Tak lama Rangga membuka matanya, menoleh kearah ku yang masih berdiri didepan pintu.


Aku menatap kearah Rangga, kemudian melangkahkan kakiku menuju Rangga, membantu Rangga duduk.


"Tangan kamu sakit ya?"


"Nggak kok, kamu kok bisa disini?"


"Tadi aku ditelfon Bella untuk kesini, tapi aku nggak tau kalo kamu kecelakaan. Kenapa nggak dibawa kerumah sakit aja sih, takutnya tangan kamu kenapa-napa?"


Rangga menatapku cukup lama.


"Hih apaan sih." aku memukul tangan kanan Rangga, karna kesal dari tadi aku ngomong tapi nggak dijawab.


"Ah sakit tau."


"Ha, sorry lagian kamu aku ajak bicara malah bengong aja."


"Dari semua yang sudah aku lakukan kepada kamu, kamu masih peduli sama aku?"


Aku menatap wajah Rangga, kemudian mengambil nafas. "Aku hanya melakukan tugasku saja menjadi seorang istri. Oh ya coba aku liat tangan kamu."


Aku mengalihkan pembicaraan, dengan mengecek lengan kanan Rangga.


"Ini bengkak tauk, pasti sakit ya. Aku ambil air dingin dulu ya untuk mengompres lengan kamu."


Saat aku ingin melangkahkan kakiku keluar, Rangga menahan tanganku, aku menoleh kearahnya. Rangga hanya meatapku dalam-dalam.


"Ada apa?"


"Ha, nggak papa kok."

__ADS_1


Aku hanya tersenyum sebelum aku pergi, entah kenapa saa aku berada didekatnya jantungku berdetak sangat kencang dan sulit untuk dikontrol.


__ADS_2