Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
chapter 47


__ADS_3

Setelah mandi, aku menghampiri Ibu yang sedang mencuci piring didapur. Aku menyapa Ibu dari belakang, Ibu hanya menolehku sebentar kemudian kembali memandang piring.


Tak lama Jessica datang dengan menggunakan pakaian rapi.


"Ayo Bu, aku sudah siap."


"Iya sebentar, Dania Ibu mau pergi kepasar sebentar, kamu ambil pemanggang BBQ-nya ya digudang belakang. Ini kuncinya, awas kadang kuncinya suka rusak."


"Iya Bu." aku mengambil kunci yang Ibu berikan.


"Kamu kemobil dulu aja, Jessica."


"Ya udah, jangan lama-lama ya bu." Jessica keluar dari dapur, menuju mobil untuk menunggu Ibu disana.


"Ya udah Ibu berangkat dulu ya, jangan lupa ambil pemanghangnya digudang belakang, hati-hati tapi." Ibu mengingatkanku sekali lagi.


"Iya Bu, Ibu juga hati-hati ya."


Setelah Ibu pergi, aku berjalan menuju gudang belakang, ruanganya terpisah dengan bangunan rumah. Dari kecil aku paling tidak suka jika harus pergi kegudang sendirian, seperti ada yang mengikuti aku dari belakang.


Aku memutarkan anak kunci, kemudian mendorongnya. Sulit, tapi aku berhasil. Aku membiarkan pintu terbuka saat aku sudah didalam, biar ada cahaya yang masuk.


Bangunan ini sudah lama, terlihat seram meski hari masih siang. Aku menelan ludah menghilangkan rasa takutku, kemudian melihat pemanggang dari belakang tumpukan kardus yang sudah tak terpakai.


Aku menyingkirkan tumpukan-tumpukan kardus dengan hati-hati. Aku menghentikan gerakanku, saat aku mendengar langkah kaki seseorang mendekatiku, diikuti bayangan.


Aku memejamkan mataku, menggigit bibir bawah.


Aku bertriak lirih dengan menjatuhkan kardus yang aku bawa, saat tangan seseorang mengenai pundaku.


"Kenapa?"


Aku membuka mataku, saat aku mengetahu suara itu. Aku membalikkan badanku, langsung memeluk Rangga dihadapanku.


Tubuh aku masih gemetaran karna kejadian tadi.


"Kamu nggak papa?"

__ADS_1


Aku tersadar dari hayalanku, kemudian melepaskan pelukanku terhadapnya. "Maaf, aku nggak sengaja."


"Kenapa kamu disini?"


"Aku mau mengambil pemanggang itu." aku menunjukan kearah pemanggang.


"Ouh." Rangga mengambil pemanggang itu dan membawanya.


Saat kita ingin keluar suara pintu tertutup dengan keras, akibat angin diluar sana sangat kencang. Aku berusaha menarik gagang pintu, sulit sekali untuk membuka pintu.


Rangga menaruh pemanggangnya, kemudian berusaha membuka pintu.


Aku teringat ucapan Ibu jika kunci pintu kadang-kadang rusak.


Aku melihat kearah luar dari jendela, terlihat kilatan dilangit sangat terang, disusul dengan petir. Aku menyenderkan tubuhku kedinding kemudian dengan perlahan turun hingga terduduk dilantai, aku menekuk kakiku sejajar dengan dada, menahanya dengan tangan.


Rangga ikut duduk disampingku. "Kenapa kunci pintu bisa rusak?"


"Aku tak tau, tapi tadi Ibu bilang. Kunci pintu sering rusak secara tiba-tiba."


Suasana hening seketika. Suara petir semakin kencang diluar sana, aku menutup telingaku dengan telapak tangan, kemudian memejamkan mataku.


Suara petir diluar sangat kencang, aku menutup mataku lebih erat lagi, aku menggigit bibir atasku, menahan air mataku, agar tidak jatuh.


Aku harap tak ada lagi, aku sangat takut dengan petir.


"Kamu nggak papa?"


Aku tak menjawab pertanyaan dari Rangga walau aku mendengar suaranya samar-samar.


Aku membuka mataku, saat tangan Rangga mengenai pundakku, dia merangkulku.


"Kamu takut ya? udah tenang aja, ada aku kok."


Aku hanya mengangguk, sambil melirik kearah Rangga. Kemana semua orang apa tidak ada yang mencari kami?


Tak lama suara petir sudah tak terdengar lagi, aku melepaskan tangan rangga dari pundakku, kemudian berdiri.

__ADS_1


"Tolong, kami terjebak disini!" ucapku berkali-kali dengan nada tinggi.


"Kemana semua orang, apa tidak ada yang mendengar teriakanku?"


Rangga ikut berdiri, mendekatiku yang sedang berdiri didepan jendela.


"Mungkin semua orang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Tunggu aja sebentar lagi paling ada orang yang menolong kita."


Aku kembali duduk bersender di dinding, sedangkan Rangga berdiri dengan santai, bersender didinding, dengan tangan yang dilipat didadanya.


Tak lama aku mendengar suara seseorang yang sedang berusaha membuka pintu. Aku langsung berdiri. "Hallo."


"Mbak Dania?"


Suara mang Tejo diluar sana. "Iya mang, tolong kami, kami terjebak disini."


"Iya, sebentar mbak."


Tak lama pintu terbuka, kami langsung keluar dari gudang. Pemanggang dibawa oleh mang Tejo keluar, didalam rumah suda banyak tetangga yang membantu acara ini. Aku langsung pergi kekamar, untuk mandi.


Waktu sudah menunjukkan pukul 18:30 acara dilakukan diluar, semua tamu sudah datang. Acara ini dihadiri oleh tetangga sekitar, aku menghampiri Jessica yang sedang berada didepan pemanggang.


"Bagaimana mbak sama Rangga?"


"Maksud kamu apa ya?"


"Aku tau lo, kalo Rangga itu belum mencintai mbak Dania selama ini. Jadi masih ada kesempatankan buat aku."


Aku menoleh kearah Jessica. "Darimana Jessica tau selama ini."


"Dania Rangga dimana?" Ibu datang dari arah belakangku.


"Masih dikamar."


"Suruh keluar, acara sudah mau dimuali."


"Iya Bu."

__ADS_1


Aku berjalan menjauhi Ibu dan Jessica, saat sudah sampai dikamar aku melihat Rangga sedang memandangi leptopnya.


__ADS_2