
"Rangga acara akan dimulai, kamu disuruh gabung."
"Iya sebentar."
Aku menunggu Rangga yang sedang menutup leptopnya, sambil mengecek hanphoneku.
Setelah Rangga selesai membereskan meja kerjanya, aku dan Rangga keluar dari kamar.
Aku mengalihkan pandanganku saat Rangga memberikan telapak tanganya kepadaku.
"Ayo."
Aku menggelengkan kepalaku heran. Kemudian menaruh hanphoneku diatas kasur.
"Aku suami kamu, nggak salah kan jika aku menggandeng tangan kamu?"
Aku masih terduduk diam, karna heran. Rangga langsung menarik tangan aku dan menyuruhku berdiri. "Udah ayo."
Aku berdiri kemudian berjalan sejajar dengan Rangga.
"Aku mau kamu berhenti bekerja disana."
Aku menghentika langkahku. "Kenapa?"
"Aku bisa menafkahi kamu, bahkan lebih dan aku akan memperbaiki semuanya. Aku suami kamu."
Sudah berapa kali dia bilang seperti itu dan meyakinkan aku, jika dia akan memperbaiki pernikahan ini. Tapi nyatanya dia juga yang menghancurkan semuanya.
"Berhenti mengucap kalo kamu itu suami aku. (Aku menarik nafas) Aku nggak ingin bahas itu sekarang."
"Kenapa, kamu masih marah soal kejadian waktu itu."
"Aku bilang aku nggak mau bahas soal itu sekarang. Tiba-tiba perut aku sakit, kamu kedepan aja. Bilang sama Ibu aku ingin istirahat."
"Kamu menginginkan perceraian?"
__ADS_1
Aku menahan air mataku agar tidak jatuh, menarik nafas panjang kemudian mengalihkan pandanganku kearah atas.
"Aku nggak pernah menginginkan perceraina, tetapi jika kamu mau aku akan menerimanya."
Aku melepaskan genggaman tangan Rangga, kemudian kembali menuju kamar. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh, aku langsung membaringkan tubuhku diatas kasur, meringkuk seperti bayi kemudian meratapi keadaan.
Aku benci keadaan ini, lagi-lagi aku harus menangis karna pria itu.
Tak lama aku mendengar suara pintu terbuka, aku langsung menghapus air mataku dengan cepat, lalu memejamkan mataku. Biarkan mereka kira aku sudah tidur.
"Dania, aku tau kamu belum tidur." katanya diikuti suara ranjang disebelahku, aku masih diam dan memejamkan mataku.
"Dania, bangunlah. Aku ingin bicara." ucapnya sekali lagi sambil memegang pundakku. Kali ini aku menghela nafas kemudian membuka mataku.
"Bicara apa lagi?"
"Duduk."
Aku duduk sambil menyenderkan badanku.
"Kamu benar, pernikahan hanya omong kosong, pernikahan yang hanya diatas kertas dan yang terjadi hanyalah pertengkaran. Aku akan memberikan kamu kebebasan, aku akan mengurus surat cerai kita secepatnya."
"Dania."
"Ha, iya ada apa?" aku tersadar dari lamunanku.
"Kamu nggak dengeri aku ya?"
Aku menoleh kearah Rangga, dia menatapku serius. "Aku denger kok dan aku terima keputusan kamu. Aku nggak bisa maksa orang untuk jatuh cinta kepadaku."
Suara pintu terbuka kembali, kini Ibu masuk kedalam kamarku. Aku berusaha bersikap tenang.
"Rangga, Dania, udah ditungguin dari tadi kok masih didalam kamar."
"A-aku." aku menjawab Ibu sambil berfikir.
__ADS_1
"Dania sakit perut Bu, jadi nggak bisa ikut acara dan kayaknya aku akan jaga Dania saja. Maaf ya Bu."
Aku menoleh kearah Rangga, dia menajwab pertanyaan Ibu dengan dewasa.
"Ouh, kalo gitu kamu jaga Dania aja nggak papa kok. Dania kamu cepat sembuh ya, ya udah Ibu keluar lagi ya."
"Iya Bu."
Aku masih menatap Rangga. "Kenapa kamu nggak gabung aja sama mereka diluar sana."
"Aku masih banyak kerjaan."
Aku mengangguk, aku kira Rangga benar-benar peduli sama aku ternyata dia sibuk dengan pekerjaanya. Ah pernikahan ini akan berakhir, jadi jangan berharap lebih.
Aku kembali keposisi tidurku, menarik selimut dan meletakkan tanganku dibawah kepala. Begitu juga dengan Rangga, Ia kembali menghadap leptopnya.
Air mataku kembali menetes, saat aku teringat kejadian tadi.
Mungkin aku yang terlalu berharap kepada Rangga dan pernikahan ini.
......Berharap yang paling menyakitkan adalah berharap kepada manusia.......
Sepertinya Rangga memperhatikanku dari belakang. Ingin rasanya menoleh kearahnya walau sebentar.
Aku berusaha memejamkan mataku agar tertidur, tetapi tidak bisa.
Aku mendengar suara ranjang disebelahku, Rangga muali tidur dibelakangku. Suasana dikamar hening mungkin Rangga sudah tidur, aku mendengar suara berisik diluar, mungkin acara pesta BBQ sudah selesai. Karan sekarang sudah pukul 11:05, aku memetuskan untuk keluar dari kamar dan membantu Ibu membereskan semuanya.
"Mau kemana?"
Ternyata Rangga juga belum tidur, saat aku membuka pintu dia menegurku.
"Kamu belum tidur? aku mau bantu Ibu diluar."
"Kamu kan lagi sakit, biarka orang-orang diluar sana yang membantu Ibu."
__ADS_1
"Aku udah baikan kok." sebenarnya tadi aku tak beneran sakit hanya saja aku malas untuk membicarakan masalah itu.
Aku membuka pintu kemudian menyusul Ibu diluar.