Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
32. Apakah kamu mencintai aku


__ADS_3

Setelah Thania pergi aku pun pergi ke suatu tempat. Ya aku pergi ke makam orang tuaku, disana aku bisa curhat semauku.


Tak terasa sudah 1 jam lebih aku di makam orang tuaku. Aku memutuskan untuk pulang.


Brug


Aku terjatuh saat menabrak seseorang di depanku, Ia mengulurkan tangannya kepadaku.


"Makasih aku bisa sendiri." aku terkejut saat melihat siapa orang di hadapanku ini. "Andi?"


"Dania, kebetulan kita ketemu di sini."


"Kamu ngpain disini?" aku tersenyum


"Habis ke makam Ayah aku."


"Ayah kamu udah...."


"Iya Ayah aku udah meninggal 3 bulan yang lalu, kemarin aku pergi ke caffe kamu. Tapi kamu nggak ada di sana."


"Iya aku tau dari Ibu. Ngpain kamu ke Caffe aku?"


"Kita bicara di sana aja ya. Sambil minum."


Andi menunjuk ke salah satu warung di sebrang jalan.


Aku dan Andi berjalan menuju warung tersebut.


Andi adalah teman aku dari Smp sampai Sma, dulu kita dekat bahkan sangat dekat sekali. Tapi semenjak kita lulus Sma orang tua Andi mengetahui kedekatan kita dan disitu orang tua Andi menyuruh Andi menjauhi aku. Karna menurut mereka aku tak selevel dengan keluarga mereka.


Aku melihat jam di dinding warung, sudah menunjukkan pukul 17.40. Sebentar lagi azan mahrib, aku pamit ke Andi untuk pulang.


Andi pun menawarkan aku untuk pulang bersama, tetapi aku nenolaknya takut nanti Rangga melihat.


"Makasih ya pak." aku memberikan uang kepada pak supir taxi, setelah aku turun dari mobil.

__ADS_1


"Dari mana saja kamu?"


Saat aku membuka pintu, ternyata Rangga sudah berada di sofa ruang tamu. Aku berusaha tenang, Rangga mendekati aku dan berada tepat dihadapanku sampai tak ada jarak antara aku dan Rangga.


"Bukan urusan kamu." aku menatapkan mataku ke arah wajah Rangga lalu ke arah lantai.


"Jelas itu urusan aku, karna kamu Istri aku."


"Istri? lelaki mana yang tega bermesraan sama wanita lain dihadapan istrinnya. Apakah kamu pantas di anggap suami."


Rangga menghela nafas panjang lalu pergi dari hadapanku. "Okey. Aku minta maaf."


"Maaf? jangan pernah minta maaf jika masih mengulangi kesalahan yang sama."


Aku masuk ke dalam kamar, saat aku pergi air mataku jatuh membasahi pipi. Aku menghapus air mataku setelah membuka pintu kamar.


"Dania, aku benar-benar minta maaf sama kamu." Rangga memegang tanganku


"Aku akan maafin kamu tapi bukan untuk sekarang. Bukan sepenuhnya salah kamu, hanya aku saja yang terlalu bodoh dan terlalu percaya sama omongan kamu saja. Aku mau tanya sama kamu, apakah kamu sering ngelakuin itu sama wanita lain juga diluar sana?"


"Aku nggak tau tadi kamu ngapai saja sama sekertaris kami itu. Satu yang ingin aku tanya sama kamu. Apakah kamu pernah mencintai aku?"


Rangga mengarah ke arah dinding dan memukul dinding kamar. "Jujur aku belum mencintai kamu sepenuhnya. Aku sudah berusaha untuk mencintai kamu tapi aku belum bisa. Maafin aku."


"Aku suka jika kamu jujur, jadi aku nggak akan berharap lebih lagi sama kamu."


"Jika kamu mau menggugat cer..."


Stop jangan lanjutkan itu


"Aku nggak akan pernah ngelakui itu, sekalipun kamu mau menghianati pernikahan ini." aku memotong pembicaraan Rangga lalu mengambil koper yang ada di atas lemari, dan memasukkan baju-baju aku ke dalamnya.


"Mau kemana kamu?"


"Aku mau pergi dulu, tenang saja aku nggak akan ngasih tau ke mama ataupun Ibu soal ini. Jadi kamu tenang saja."

__ADS_1


"Tapi mau kemana, ini udah malam. Biar aku yang pergi."


"Nggak usah, aku akan pergi kerumah teman aku."


Aku membawa koperku dan pergi meninggalkan rumah ini. Di dalam taxi aku mencoba menelfon Thania dan menanyakan alamatnya.


Tok...tokk...tokk


Aku mengetuk pintu kontrakan Thania.


"Dania, kamu kok bawa koper? ayo masuk dulu!"


"Aku boleh nginep disini nggak?"


"Boleh si tapi kontrakan aku nggak besar. Nggak papa?"


"Nggak papa, makasih ya."


Kontrakan yang memiliki 2 lantai, tetapi ukurannya yang kecil. Hanya ada 1 kamar di kontrakan ini yaitu di atas, dan dibawah adalah ruang tamau dan dapur.


"Kamu udah bicara sama Rangga?"


"Sudah, tetapi hati aku terlalu sakit buat ngelihat dia, dan aku memutuskan untuk pergi dari rumah. Biar aku bisa menenangkan diri aku."


"Ibu kamu tau soal ini?"


"Nggak, Ibu sama Mamanya Rangga nggak ada yang tau. Kasian mereka jika tau pasti sedih banget, apalagi mamanya Rangga pasti dia merasa kecewa banget sama anaknya."


"Kamu itu baik banget si, masih mikirin mamanya Rangga juga."


"Aku sudah menganggap mamanya Rangga itu seperti mamanya aku sendiri."


"Ya udah, kamu tidur ya biar hati kamu tenang."


Sebelum aku pergi ke kamar mandi untuk bersih-bersih. Setelah itu aku tidur di samping Thania yang sudah tertidur lelap.

__ADS_1


__ADS_2