Terjebak Cinta Didalam Perjodohan

Terjebak Cinta Didalam Perjodohan
chapter 51


__ADS_3

Aku melambaikan tanganku kepada Andi, yang sudah melajukan mobilnya.


Setelah mobil Andi sudah tak terlihat lagi aku membalikkan badanku untuk membuka pintu.


Tetapi tanganku ditahan oleh seseorang, aku kembali menoleh kebelakan.


Aku mengerutkan dahiku, lalu menaikkan satu alisku. "Rangga?"


"Ikut aku sebentar."


Rangga menarik tanganku paksa, menuju taman dekat komplek. Kita duduk dikursi berwarna putih.


"Ada apa?"


"Kenapa kamu masih dekat sama laki-laki itu, apalagi sampai diantar segala lagi."


Mata tajamnya menatap kearahku. "Siapa? Andi? dia bos aku dan dia berhak nganter aku, karna aku itu pegawainya. Mau protes apa lagi." ucapku dengan sinis.


"Ya-ya tapi kan kita masih suami-Istri sah!"


Jadi Rangga belum mengajukan surat cerai kepengadilan, syukurlah.


"Eh, aku ngomong ya sama kamu, bukan sama batu. Malah diem lagi."


"Kamu belum ngajuin cerai kepengadialn?" ucapku sambil memastikan.


"Belum." ucap Rangga, lalu memalingkan wajahnya kearah lain.


"Beneran? serius kamu nggak bercanda kan?" tanganku memegang pundak Rangga, lalu Rangga menoleh kearahku.


Raut wajahku mungkin sekarang sangat senang dan itu membuat Rangga heran. Sampai dia menatapku cukup lama.


''Kenapa kamu? bukannya kamu juga menginginkan perceraian ini?"


Aku melepaskan tanganku. "Ya-iya si, lalu kenapa kamu belum mengajukan ini?"


"Aku nggak mau kena marah mama lagi, cukup waktu aku ingin dijodohin saja sama kamu, itu aja sudah membuatku gila. Apalagi jika aku harus menceraikan kamu, bisa-bisa aku tak mendapatkan harta warisan dari Mama."


Rangga mempertahankan hubungan ini cuma karna harta warisan saja, aku kira dia sud-

__ADS_1


"Dania?"


"Ha-ada ap?"


"Kok bengong si?"


"Nggak papa, ya udah ya aku mau pulang. Udah malam juga, kamu pulang sana, entar kemaleman lagi dijalan."


"Ya udah, aku antar kamu sampai depan rumah."


Mobil Rangga berparkir tak jauh dari rumah, aku menunggu Rangga pergi kemudian masuk kedalam rumah.


Aku membuka pintu kamar, melihat Thania sedang menonton drama sebelum tidurnya.


"Kamu udah pulang?"


"Udah, emang kenapa?"


"Nggak papa, tadi itu aku kaya dengar suara kamu diluar, tapi saat aku keluar nggak ada siapa-siapa."


"Ouh, ya tadi benar aku sudah pulang, terus aku pergi lagi sama Rangga sebentar."


"Ngapain?" ucap Thania dengan kepo


Aku mengambil baju ganti kemudian pergi kekamar mandi.


Aku mulai mengeramaskan rambutku dibawah aliran air shower, menikmati air yang jatuh mengenai muka.


Hari ini aku cukup senang, pertama aku bisa melepas semua yang ada dipikiranku dengan berteriak diatas rakit bersama Andi, kedua Rangga membatalkan perceraian ini.


Setelah mandi aku membuat 2 cangkir teh hangat dan mengambil cemilan, untuk menemani nonton drama malam kita.


Waktu sudah menunjukkan pukul 11:45 tepat dimana film yang kita tonton selesai, sebelum tidur Thania pergi kekamar mandi, sedangkan aku membuka hanphoneku.


Thania masuk kembali kekamar dan mematikan lampu utama, lalu menyalakan lampu tidur.


"Besokkan hari libur, gimana kalo kita jalan-jalan?" tanya Thania


"Nggak bisa besok aku kerja, walaupun hari libur Caffe-kan tetap buka." aku meletakkan hanphoneku kemudian berbaring diatas ranjang membelakangi Thania sambil menarik selimut.

__ADS_1


"Yah, nggak seru banget si. Gimana kalo kamu ambil cuti?"


"Apaan sih, aku udah keseringan ambil cuti bulan ini. Nggak enaka lah sama Andi." kini aku membalikkan badan menghadap kearah Thania.


"Ya udah, gimana kalo besok aku bantuin kamu kerja?"


"Nggak ah, disana itu banyak pegawai aku nggak enaklah."


"Hihh, ya udah besok aku main aja disana, sambil makan-makan."


"Yah, kalo itu boleh banget.''


...----------------...


Pagi ini aku berangkat bekerja bersama Thania, sesampainya didepan caffe. Aku melihat Andi berdiri disana, sedang menyambut para pegawai yang datang.


"Itu yang namanya Andi? baik, sopan, dia mau menyambut pegawainya didepan caffe miliknya." puji Thania didalam mobil.


"Apaan si lebay banget kamu, dia memang sering kaya gitu."


"Kenalin dong sama aku." ucap Thania dengan tatapan aneh.


"Hih, apaan. Udah-udah ayo turun.''


Aku turun dari mobil Thania, melangkahkan kakiku mendekati Andi. Kemudia menyapa Andi layaknya seorang pemilik caffe, bukan hanya seorang teman.


"....."


"Ini siapa ya?" tanya Andi


"Ini_" ucapku terpotong karna ucapan Thania


"Saya Thania temanya Danai, saya mau main dicaffe ini, boleh kan?" ucap Thania sambil memegang tangan kanan Andi


"Saya Andi, pemilik caffe ini. Tentu saja boleh, kebetulan hari ini saya nggak kerja, kamu bisa temani saya ngobrol?"


"Ha-tentu saja, saya mau." ucap Thania dengan menggigit bibir bawahnya dan mata yang kelihatan sangat senang.


Aku hanya tersenyum senis melihat kelakuan Thania kepada Andi. "Ya udah pak, sana masuk kedalam dulu ya buat kerja."

__ADS_1


"Iya Danai, hati-hati."


Aku mengangguk kemudian masuk menuju tempat loker, dimana semua barang aku aku taruh disana, lalu mengganti baju kerjaku.


__ADS_2