
"Mas mau minta maaf soal tadi, mas Rangga nggak sengaja." ucap Rangga dengan melirikkan matanya kearah Bella.
Bella hanya tersenyum terpaksa, tanpa menoleh Rangga sama sekali.
"Maafin mas Rangga ya?"
"Iya, tapi dengan satu syarat." kali ini Bella menoleh kearah Rangga.
"Apa, kamu mau tas baru atau baju baru? atau apa?"
"Nggak, aku mas Rangga berubah!"
Rangga menghentikan mobil miliknya dipinggiran jalan.
"Berubah?"
"Iya, aku mau mas Rangga berubah menjadi lebih baik lagi sama mbak Dania."
"Maksud kamu apaan sih."
"Aku tau semuanya mas, mas Rangga dan mbak Dania pisah rumahkan sudah lama. Itu gara-gara mas Rangga?"
"Kamu tau dari mana?"
"Waktu itu, aku nggak sengaja pulang kerumah, tapi aku nggak liat ada mbak Dania dirumah. Akhirnya aku tanya bibi dan kata bibi mbak Dania sudah nggak tinggal lagi dirumah itu. Akhirnya aku cari tau sendiri, aku ketemu sama Thania pada saat dikantor dan dia cerita semuanya sama aku."
"Thania?"
"Iya, aku nggak nyangka banget sama kelakuan mas Rangga."
"Semua yang kamu dengar itu, semuanya nggak benar."
Rangga kembali menacapkan gas, lalu melaju dengan kencang. Raut wajahnya sangat marah dan matanya yang tajam mengarah ke jalan, itu membuat Bella tak berani berbicar lagi.
__ADS_1
10 menit kemudian mereka sampai didepan rumah, Bella keluar dari mobil dan langsung masuk kedalam rumah.
Dania yang sedang menunggu mereka pulang dari tadi. Ia bangkit dari sofa saat melihat Bella masuk dari pintu utama.
Bella tak memperdulika Dania yang sudah menunggunya dari tadi.
Tak lama Rangga datang, Dania langsung menghampirinya.
"Kamu kok bisa pulang sama Bella, dan tadi Ada apa sama Bella?" ucap Dania penasaran.
"Iya tadi nggak sengaja ketemu dicaffe, soal Bella tadi ada masalah sedikit."
"Ya udah kamu mandi saja sana, abis itu makan."
"Iya, aku mandi dulu ya."
Rangga tersenyum kepada Dania, lalu pergi meninggalkan Dania.
"Bella." ucap Dania dengan memegang pundak Bella.
"Eh, mbak Dania." jawab Bella, lalu menghapus air matanya, "Ada apa mbak?"
"Maaf mbak main masuk aja, kamu baik-baik aja kan?"
Bella hanya mengangguk, tanpa menoleh kearah Dania.
"Kalo ada masalah cerita aja sama mbak."
Bella menceritakan semua kejadian dicaffe tadi, sambil menyenderkan kepalanya dibahu Dania, sedangkan Dania merangkul pundak Bella.
"Aku mau seperti mbak Dania, yang berusaha bersikap baik-baik saja didepan semua orang."
"Ha?" Dania tak mengerti apa yang Bella katakan.
__ADS_1
"Aku tau semuanya mbak, soal mbak Dania sama mas Rangga. Dan aku mau mbak Dania merubah mas Rangga, karna aku tau mbak Dania pasti bisa."
Dania tersenyum, "Sekarang kamu bersih-bersih ya, habis itu makan."
"Aku tadi udah makan kok, mbak Dania makan aja. Habis ini aku mau langsung tidur aja."
"Ya udah, tapi kalo ada apa-apa kamu kasih tau mbak ya."
Bella mengangguk lalu tersenyum kepada Dania.
Dania dengan Rangga sudah berada dimeja makan. Seperti biasa Dania selalu mengambilkan makanan buat Rangga.
Selesai makan Rangga langsung pergi kekamar, sedangkan Dania membereskan meja makan.
Dania membuatkan kopi sebelum Ia pergi kekamar.
Dania menaruh kopi yang sudah Ia buat diatas meja kerja milik Rangga.
"Aku mohon sama kamu, jangan pernah larang Bella dekat sama siapapun termasuk Dimas. Kamu boleh memperlakukan aku apa saja, tapi tidak untuk Bella." Ucap Dania yang masih berdiri dihadapan meja Rangga.
"Kamu nggak tau apa, jadi kamu diam aja."
"Aku memang nggak tau apa-apa, tapi aku tau apa yang Bella rasain."
"Stop belain Bella."
Rangga memposisikan tubuhnya berbaring di ranjang, dengan membelakangi Dania.
Dania juga berbaring diranjang yang sama dengan Rangga, Ia menutup badanya dengam selimut.
"Kenapa Rangga jadi seperti ini lagi, menjad Rangga yang kejam." ucap Dania dalam hati.
Tak lama Dania sudah terlelap dalam tidurnya, sedangkan Rangga masih belum tidur, Ia melihat jam di hanphonenya masih menunjukkan jam 23:05. Ia bangkit dari ranjang lalu duduk di kursi kerja nya, dan menghadap leptopnya kembali.
__ADS_1