TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Kamu peduli padaku.


__ADS_3

Setelah lumayan lama menangis di dada suaminya, Cantika menjauhkan tubuh mereka. Tiba-tiba kesadarannya kembali. Segera diusapnya sisa-sisa bulir bening dari wajah cantik itu. Tanpa berkata apapun, dia pergi ke kamar mandi setelah sebelumnya membuka mukenanya terlebih dahulu.


Apa yang gue lakuin ? Kenapa bisa menangis di pelukannya ? Ahhhh, malu gueeee !


Cantika geleng-geleng kepala. Lalu membasuh mukanya untuk menghilangkan kesan sendu. Tapi tetap saja masih terlihat agak sembab. Matanya masih merah dan agak bengkak.


Sementara Anas tengah bingung. Kenapa Cantika bersikap seperti tadi ? Apa secara tidak sengaja, dirinya sudah berbuat salah ? Mungkinkah istrinya itu marah karena dia memeluknya ?


Pria itu menarik nafasnya panjang. Dia harus bisa menjaga sikap. Meski sudah resmi menjadi pasangan suami-istri, tetap saja mereka butuh waktu untuk membiasakan diri terhadap satu sama lain.


Setelah membereskan peralatan shalat, dia melangkah ke ruang tengah. Ikut duduk di sebelah istrinya. "Maaf, tadi saya tidak bermaksud lancang memelukmu. Saya hanya ingin menenangkan mu saja." Ucapnya lirih sambil menunduk.


Cantika memalingkan wajah, tak ada satu huruf pun yang terlontar dari bibirnya.


Anas menoleh, "Apa kamu marah ?"


Cantika berdiri, "Gue....mau ke kamar lagi." Cepat-cepat berjalan.


Pria itu menatapnya, "Apa Cantika benar-benar marah ?" bergumam sendiri. Padahal istrinya itu menghindar karena merasa malu telah menangis di pelukannya.


Cantika menutup pintu kamar. Menempelkan punggungnya di daun pintu. Memegang dada yang berdebar dan pipi yang memerah. "Apa dia pikir, gue ini cewek gampangan yang pura-pura sedih biar bisa dipeluk ? Ahhh, Cantika....Lo harus bisa jaga sikap ! Jangan sembarangan apalagi enak-enakan nyender di dadanya !"


Perempuan itu mengambil koper dan membukanya. Mengeluarkan baju-bajunya untuk dipindah ke lemari plastik.


"Gue gak liat ada lemari lain, dimana dia nyimpen bajunya ?"


Tanpa sengaja matanya melihat ke atas lemari kecil nan pendek itu. Mengambil sebuah dus berukuran sedang yang disimpan di sana. Dia begitu penasaran dengan isinya. Meski agak berat, dia berusaha mengambilnya.


"Apa ini baju punya si Om bewok ?"

__ADS_1


Tiba-tiba hatinya mencelos. Suaminya itu menyuruh agar dia menyimpan pakaiannya di dalam lemari, sementara baju Anas sendiri disimpan di dalam kardus. Tidak ! Cantika akan merasa sangat jahat jika membiarkannya.


Dia mengambil sebagian baju-bajunya dari lemari, memasukannya ke dalam koper. Lalu memindahkan pakaian Anas ke dalam lemari itu. Cantika menutup mata saat memegang kaos dan ****** ***** milik pria itu. Tidak, bukan memegang. Melainkan menyapit kain-kain itu dengan dua jarinya, karena merasa jijik dan geli.


"Iiihhh, kalo gak kasihan sama dia, nggak mau gue megang dalemannya...." bergidik. "Wait, kenapa gue gak nyuruh dia aja buat beresin baju-bajunya ke lemari ? Oon banget sih !"


Cantika menghentikan gerakan tangannya. Dia pergi menghampiri Anas. "Emmm, itu....beresin gih baju-baju lo ke lemari ! Masih ada tempat yang kosong kok, jangan lagi nyimpen di dalam dus !" tak berani menatap.


Anas mengernyitkan dahi, "Perasaan pakaianmu lumayan banyak, pasti lemari plastik itu sudah penuh. Biarkan baju-bajuku disimpan di dalam kardus. Tapi, kenapa kamu mempedulikannya ?"


"Duh, jangan banyak nanya ! Cepet beresin, gue mau tidur siang !"


Pria itu masuk ke dalam kamar lalu mengecek lemari. Beberapa bajunya sudah tersimpan di sana meski dalam keadaan tidak rapi. Bahkan pakaian dalamnya bertumpuk dengan berantakan. "Kalau tidak salah, baju punya Cantika lebih banyak daripada yang ada di lemari."


Anas membuka koper yang disimpan di sebelah lemari plastik itu. "Benar dugaanku, Cantika menyimpan sebagian bajunya di koper agar bajuku bisa disimpan di dalam lemari. Itu artinya dia mulai peduli padaku." Tersenyum manis.


Hatinya merekah berbunga-bunga. Ternyata istri sombongnya mulai perhatian.


OMG ! Senyum itu yang bikin gue gila.


Perempuan itu mengernyit, "Makasih buat apa ?"


"Terima kasih karena sudah mau berbagi tempat pakaian."


Ika agak melongo, "Gue pikir apaan...Mestinya gue yang bilang makasih. Lo bela-belain nyimpen baju di dalam kotak dus, biar gue bisa pake lemari itu. Thank's !" menunduk.


"Sama-sama."


"Gue mau bobo siang dulu." Buru-buru masuk ke dalam kamar untuk menghindari situasi tidak nyaman yang membuatnya gugup.

__ADS_1


Cantika telungkup di atas tempat tidur sambil membenamkan wajahnya di bantal. "Ihhhhh, kenapa gue grogi sih ? Gara-gara senyumnya itu tuhhh, terlalu manis ! Bikin gue meleleh. What ? Stop it, Cantika ! Lo jangan gila...!" Memukul-mukul kepalanya sendiri.


Di ruangan lain, Anas belum berhenti mesem-mesem. Dia begitu senang karena mendapat perhatian meski sekecil itu dari istrinya. Cantika mulai peduli padanya. Apa mungkin jika suatu hari nanti, perempuan itu juga akan memberikan hatinya ? Semoga saja !


***


Cantika bergulingan di atas kasur. Entah kenapa kini ia gusar. Kenapa dirinya selalu berdebar saat berdekatan dengan Anas ? Senyum manis pria itu begitu lekat di ingatannya.


Tanpa sadar dia menyunggingkan senyum. Ya, mungkin dia salah satu perempuan yang beruntung karena mempunyai suami seperti Anas. Pria itu jika diperhatikan, sexy juga. Selain itu, Anas juga baik. Om bewokan boleh juga.


Namun mendadak dia menepuk-nepuk jidatnya sendiri. Berharap pikiran anehnya menyingkir. Ini otak gue yang gak waras pasti. Masa gue suka sama cowok bewokan ! Tapi....emang gemesin juga sihhh. Ahhhh, apa jangan-jangan gue udah gila ?!


Dia berteriak dalam hati. Pikirannya kembali bergelut. Satu sisi mengagumi sosok Anas. Satu sisi lagi masih banyak ego. Gengsi jika harus mengakui bahwa suaminya itu adalah pria penuh pesona.


"Daripada gue makin gak waras, mending main game."


Akhirnya dia mengutak-atik ponsel. Membuka aplikasi bermain game hantu. Itu adalah salah satu permainan favoritnya.


"Hahaha, rasain lo hantu jelek !"


"Ya....dikit lagi gue pasti menang. Ahhh, payahhh !"


Kadang tertawa, kadang marah-marah kesal. Suaranya terdengar oleh suaminya yang sedang ada di ruang tengah. Cantika kenapa ? Dia sama sekali tidak mengira jika istrinya tengah asik bermain game yang kebanyakan dimainkan oleh anak-anak.


Lama-lama mata Cantika meredup, makin ngantuk. Dia pun terlelap dalam keadaan telungkup dan masih memegang ponsel.


Anas menajamkan pendengarannya. Tak ada lagi suara dari istrinya. Dia segera berdiri dan melangkah ke dalam kamar. Takut terjadi sesuatu yang buruk pada perempuan itu.


"Cantika...." menghampiri dan mengecek istrinya. Pria itu tersenyum, "Ternyata dia tidur, kenapa aku secemas ini ?" Anas mengambil ponsel yang dipegang Cantika. Alisnya bertautan, "Dia memainkan game hantu ini ? Seperti bocah saja." Senyumnya makin merekah.

__ADS_1


Anas mematikan ponsel itu dan menaruhnya di dekat Cantika. Setelah menyelimuti perempuan itu, dia kembali ke ruang tengah.


__ADS_2