TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)

TerLove (Cinta Setelah Pernikahan)
Terpuruk


__ADS_3

Pagi yang mendung seolah ikut berduka atas kepergian Anas. Hujan rintik-rintik kecil seakan langit ikut menangis. Banyak orang yang mengantar kepergian pria baik itu ke tempat pembaringan terakhir. Semuanya ikut merasa bersedih dan kehilangan sosoknya.


Anas memang dikenal sebagai pribadi yang baik dan ramah. Hampir semua tetangga dan orang terdekatnya pernah mendapatkan bantuannya. Baik dalam hal tenaga, moril maupun materi yang meskipun jumlahnya tidak besar namun keikhlasannya yang membekas di hati semua orang.


Cantika terus histeris menangisi kepergian suaminya. Dia bahkan beberapa kali pingsan hingga tak dapat ikut ke pemakaman. Bu Sofi dan Riri serta beberapa tetangga dekat sedang menemaninya di rumah.


"Mas...." itulah kata pertama yang keluar dari mulutnya ketika sadar.


"Nak, yang tabah!" Bu Sofi mengelus kepala anak sambungnya. Dia ikut tersakiti menyaksikan Cantika seperti itu. Dia tahu persis apa yang dirasakan perempuan itu karena pernah ada di posisi yang sama.


"Mana Mas Anas?" Cantika bangkit sambil celingukan.


Riri mengusap bahu kakak tirinya. "Kak, suami Kakak udah tenang sekarang di sana. Sebaiknya Kakak mengikhlaskannya."


Cantika menatap tajam pada gadis itu. "Lo bilang apa barusan? Lo harus tahu kalo suami gue masih hidup."


Ibu-ibu yang lain ikut menenangkan meski Cantika tidak mau mendengar.


"Yang sabar, sekarang Anas telah dibawa ke pemakaman. Rohnya pasti akan sedih jika melihatmu hancur seperti ini."


Cantika berlari sambil berteriak histeris. Tangisnya masih belum reda. "Mas Anas... Aku harus mencegah mereka menempatkanmu di sana!"


Semua orang ikut keluar rumah untuk mengejar perempuan yang kini kelakuannya mirip orang hilang akal. Cantika lari begitu kencang tanpa alas kaki. Menangis sepanjang jalan sampai akhirnya tiba di satu-satunya pemakaman umum yang ada di kampung itu, tepat di dekat danau yang pernah dia kunjungi bersama suaminya.


"Jangan kuburkan suamiku! Apa kalian sudah gila, mengubur orang yang masih hidup?"


Pikirannya memang belum stabil. Di lain sisi tidak percaya bahwa jenazah itu adalah Anas, tapi di lain sisi dia bersikap seolah itu memang benar-benar suaminya namun dalam keadaan masih bernyawa.


Semua orang menatapnya dengan berbagai macam perasaan. Beberapa ada yang ikut sedih, iba dan ada juga ada yang menatapnya dengan bergidik. Cantika sudah tidak waras, itulah pemikiran yang sama pada semua orang.


Pak Permana mencoba menenangkan. "Ika, suamimu sudah tiada. Ikhlaskan dia agar mendapat ketenangan di alam sana. Lihatlah, jika benar Anas masih hidup, maka pasti saat ini dia tidak akan membiarkanmu menangis."


Cantika menatap tubuh kaku yang terbaring di atas tanah. Dia sedikit mundur dari tepi lubang pekuburan.


"Papi benar, kuburkan saja jenazah itu asalkan jangan memakai nama suamiku. Mas Anas pasti masih hidup. Aku harus cari dia. Papi, suamiku pasti ada di suatu tempat."


Pak Permana menarik tangan putrinya yang hendak pergi lagi. "Nak, sadarlah. Anas sudah meninggal."


Cantika kembali berteriak-teriak sambil berontak memukuli dada ayahnya. "Papi jahat, suamiku belum pergi dari dunia ini. Mas Anas masih hidup. Aku akan cari sendiri kalo Papi gak percaya. Aku ak...." Tubuhnya limbung lagi dalam pelukan ayahnya.


Cantika dibawa kembali ke rumah Anas. Setelah dia sadar, Pak Permana berniat membawa putrinya ke rumah miliknya, tapi Cantika menolak. Perempuan itu bersikeras ingin menunggu suaminya di sana. Akhirnya Pak Permana beserta Bu Sofi dan Riri menginap di rumah itu untuk menemani Cantika.


**


Seminggu berlalu. Kini Cantika sudah tidak lagi berteriak histeris. Namun air mata itu masih setia menyusuri wajahnya meski dalam diam. Perlahan dirinya sadar jika memang benar suaminya telah pergi, meski hatinya belum bisa menerima.


Riri dan semua sahabatnya selalu setia menemani dan menghibur. Tapi semua itu sia-sia saja. Pikiran dan hatinya masih terpaut pada sosok pria yang telah menjadi separuh dari nyawanya.


Cantika memang masih hidup, tapi hanya raganya saja. Jiwanya telah ikut pergi bersama sang suami tercinta. Wanita itu laksana patung yang bisa bernafas. Tak mau bicara pada siapapun.


"Cantika, sorry. Aku masih ada di London waktu denger kabar suamimu meninggal. Ada beberapa bisnis yang harus ku urus. Ini juga habis pulang dari sana, aku langsung kemari karena mencemaskan kamu." Ya, saat ini Peter muncul. Pria itu duduk di sebelah Cantika. Namun rupanya sapaan dan basa-basi itu sama sekali tak berpengaruh.


Riri segera masuk ke dalam kamar di sebelah ruang tamu. Dia merasa tidak nyaman melihat mantan tunangannya memberi perhatian pada kakak tirinya.


"Peter, Ika masih belum bisa diajak bicara. Dia kayaknya masih shock. Belum bisa nerima kalo suaminya udah gak ada." Ucap Rubi.

__ADS_1


"Gue ngerti." Tenang aja, gak lama lagi gue akan bikin Cantika kembali tersenyum.


Cantika mengusap air matanya sambil beranjak dari tempat duduknya. Tina dan Ariel menemaninya karena takut perempuan itu melakukan hal yang macam-macam.


Cantika duduk di sofa kamar atas sambil memeluk foto pernikahannya dengan Anas. "Mas, aku kangen...." Semua perkataan yang terlontar hanya tentang suaminya saja.


Kedua temannya memeluk Ika dan ikut menangis. Mereka tidak tega menyaksikannya terpuruk.


Sedangkan di lantai bawah, Peter bersama teman Cantika yang lain masih berbincang. Mereka membahas tentang kematian Anas dan juga mengenai sikap Cantika yang begitu memprihatinkan.


Good news. Akhirnya hari ini tiba juga. Gue bisa dapet peluang penuh buat miliki Cantika lagi. Peter tersenyum dalam hati.


"Kasihan Cantika, dia pasti saat ini sangat tersiksa." Pria itu memasang wajah sok bersedih.


"Peter, Lo kayaknya masih cinta sama Ika." Gladis berspekulasi.


"Sampai kapanpun, Cantika tetap jadi cewek paling spesial yang pernah gue miliki." Ucapnya mantap.


"Lo mau balikan lagi sama Ika?" Rubi ikut bertanya.


"Kalo ada jodoh, tentu aja gue mau."


Di dalam kamar, Riri yang memang dapat menangkap obrolan mereka, kini tengah terisak. Hatinya terkoyak saat mengetahui jika Peter masih mengharapkan Cantika. Itu artinya dia memang tidak pernah ada di dalam hati mantan tunangannya tersebut.


"Kenapa aku masih aja kayak gini? Aku mau lupain dia." Ucapnya pelan pada dirinya sendiri.


Setelah sejam berlalu, semua tamu itu telah pergi. Riri menemui kakak tirinya di lantai atas sambil membawa makanan.


"Kak, aku masuk ya?!"


"Kak, andai aku ada di posisi Kakak saat ini, mungkin aku juga akan tersiksa seperti Kakak. Kehilangan orang yang kita cintai adalah hal yang paling menyakitkan."


Sejurus kemudian, Cantika mengerjap. Dia menatap adik tirinya dalam-dalam.


"Ri, kamu nangis?"


Riri mengusap bulir bening dari pipinya. "Kak, aku cuma gak tega lihat Kakak kayak gini. Aku sayang sama Kak Cantika."


"Makasih. Kamu dan mama Sofi udah baik banget sama aku." Cantika memeluk gadis itu sementara tangannya masih memegang foto.


"Kak, makan dulu ya biar Kakak gak sakit. Aku suapi."


Cantika mengangguk pelan sambil tersenyum kelu. Dia memang merindukan momen itu. Tidak apa jika yang menyuapinya adalah adik tirinya.


"Makan yang banyak." Riri mulai menyuapi.


Perlahan mulut Cantika terbuka seiring air matanya yang lagi-lagi berderai. Dia teringat akan sosok suaminya. Satu suap saja begitu susah untuk dia kunyah. Dadanya makin sesak. Riri mengusap air mata itu.


"Kak, SEMANGAT. Mas Anas pasti sedih jika tahu Kakak kayak gini."


Cantika susah payah menelan makanan yang terasa hambar itu. Kerongkongannya bagai menelan banyak duri. Pada suapan kedua, mulutnya tak lagi mau terbuka.


"Ri, aku gak kuat. Aku gak sanggup kehilangan Mas Anas." Tangisnya makin parah.


Saat itu Bu Sofi dan suaminya muncul. Mereka ikut menenangkan Cantika.

__ADS_1


"Papi, aku kangen suamiku." Cantika sesenggukan di pelukan ayahnya.


Pria paruh baya itu ikut menangis. Dia berbicara sambil mengusap lembut kepala putrinya. "Cantika sayang, kamu harus kuat. Papi, Mama Sofi dan juga Riri serta banyak lagi teman-temanmu akan selalu ada. Kami tidak akan membiarkanmu melewati masa sulit ini sendirian."


Bu Sofi tidak kuat mengeluarkan suara, dadanya ikut sesak. Segala sikap Cantika membuatnya mundur ke masa lalu. Dia seolah melihat cerminan dirinya pada sosok putri sambungnya.


**


Esoknya Pak Permana memboyong putrinya untuk kembali tinggal di rumahnya. Hal itu dia lakukan agar Cantika tidak berlarut-larut dalam kesedihan.


Cantika saat ini tengah duduk di atas tempat tidur. Pikirannya selalu tertuju pada sosok suaminya. Dimanapun ia berada, hanya senyum Anaslah yang muncul di depan mukanya.


"Mas, kenapa kamu tega ninggalin aku? Aku sangat mencintaimu, aku kangen kamu Mas...."


Perempuan itu sesenggukan sambil memeluk lututnya sendiri. Matanya semakin bengkak karena tiap waktu dialiri air kesedihan.


Cantika bangkit menuju kamar mandi ketika perutnya terasa mual. Baru kali ini dia muntah-muntah. Hampir sepuluh menit dia mengeluarkan cairan menjijikan dari dalam perutnya.


Wanita itu bersandar di dinding sambil memegang perut. Tubuhnya semakin lemas. Kepalanya terasa sedikit berdenyut. Mungkinkah ini efek dari terus menangis dan juga tidak mau makan? Itulah yang ada dalam pikirannya.


Cantika perlahan berjalan keluar dari kamar mandi. Dia merebahkan tubuhnya di atas kasur lalu menyelimuti semua hingga yang terlihat hanyalah kepalanya saja. Tiba-tiba tubuh lemasnya kedinginan.


Bu Sofi masuk ke kamar itu lalu menghampirinya.


"Cantika, kamu menggigil. Apa kamu sakit?" menempelkan telapak tangan di dahi anak tirinya. Tak ada suara sahutan dari orang di balik selimut.


Bu Sofi pun berinisiatif untuk memanggil Dokter kandungan ke rumah. Selang setengah jam, Dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Cantika.


"Cantika demam biasa, tidak perlu cemas. Hanya saja kondisi tubuhnya sangat lemah. Anda harus selalu memberikan asupan makanan yang bergizi. Jangan sampai dia mengalami stress berlebih karena itu akan berpengaruh terhadap perkembangan janinnya."


"Janin?" tanya Cantika dengan suara gemetaran.


"Iya, kamu sedang hamil. Usia kandunganmu sudah memasuki 7 minggu."


Cantika meneteskan air mata. Perasaannya campur aduk antara bersyukur dan juga sedih mengingat bahwa calon anaknya sudah tidak punya sosok ayah.


Bu Sofi lupa untuk menyuruh Dokter itu agar merahasiakan kehamilan Cantika. Tapi semua sudah terlambat. Dia hanya bisa berharap jika anak tirinya itu dapat menghadapi semuanya dengan kuat.


"Selamat, Cantika. Saya doakan kamu dan janinmu selalu sehat. Jaga kesehatan dan jangan terlalu banyak pikiran."


Setelah selesai dengan urusannya, Dokter itu pun pulang. Bu Sofi duduk di tepi ranjang. Cantika mengusap perutnya sambil berurai air mata.


"Mama, aku bahagia dengan kehadiran anak ini. Tapi aku juga sedih, kasihan dia karena harus jadi anak yatim bahkan di saat tubuhnya belum terbentuk."


Bu Sofi memeluk dan mengusap kepala Cantika. "Cantika, bersyukurlah karena di dalam tubuhmu bersemayam buah cinta kalian. Kamu harus menjaganya. Sekarang makanlah lalu minum vitamin yang diberikan oleh Dokter tadi."


Bu Sofi mengambil makanan di dapur kemudian menyuapkannya pada anak tirinya. Cantika memaksakan diri untuk makan dan mengonsumsi vitamin demi calon buah hatinya. Dia harus menjaga darah daging Anas yang kini tumbuh di tubuhnya.


√Simak terus kelanjutannya ya... Maaf kalo ada yang kurang puas sama konflik yang author suguhkan kali ini. Sengaja saya bikin masalah yang berat agar ceritanya tidak monoton. Bukankah hidup itu gak asik kalo datar-datar aja? Nah novel apalagi, rasanya kurang rame kalo flat gak ada problem.


Selalu saya ucapkan terima kasih banyak pada kalian yang sudah mau melirik karya apalah ini😁 Semoga novel ini makin banyak peminatnya. Ayo para readers, tunjukkan jempolmu. Di Noveltoon yang like masih kalah dari pembaca di FB yang udah tembus hampir 500 dalam waktu singkat. Tapi gak apa-apa, semoga aja ke depannya jadi lebih banyak yang support.


Para pembaca Terlove adalah semangatku🤗🤗🤗 Sambil nunggu novel ini update, silahkan mampir ke novelku berjudul Seperti Sampah (buat yang belum baca)


See you all....

__ADS_1


__ADS_2