
Seorang penata rias kini sibuk mendandani pengantin wanita. Sudah beberapa kali riasan itu dirapikan karena selalu berantakan tersapu air mata. Baru kali ini dia menyaksikan calon mempelai wanita yang terus-menerus menangis di hari bahagianya. Atau jangan-jangan ini malah jadi hari terburuknya? Itu sebabnya si pengantin terlihat sendu.
Ini sih bukan nangis bahagia, tapi kayak yang tertekan. Mungkin dia terpaksa menikah. Kasihan juga tapi kesel sih, kerjaanku jadi lebih banyak.
Si penata rias menggerutu sendiri. Tapi sebisa mungkin dia menyembunyikan itu karena takut menyinggung perasaan sang mempelai wanita.
"Ok, udah selesai. Nona cantik sekali apalagi kalo tersenyum."
Karena tak ada jawaban maka dia pun pergi dari ruangan itu. Aku harap dia gak nangis lagi dan merusak riasannya.
Calon pengantin wanita yang tak lain adalah Cantika, kini menatap cermin untuk mengamati wajahnya. Sebenarnya bukan muka yang jadi bahan pemikirannya. Penampilannya yang jelas menunjukkan bahwa sebentar lagi dia akan menikah dan menjadi istri seorang pria. Jika saja Anas masih ada dan kecelakaan itu tidak pernah terjadi, maka dia tidak perlu menyandang status sebagai istri Peter.
"Cantika, are you Ok? "
Wanita itu berbalik lalu menundukkan kepala. "Aku gak apa-apa." Jawabnya dingin begitu pelan.
"Kalo kamu gak suka dengan pernikahan ini, aku gak akan maksa. Pergi aja, aku akan batalin semuanya." Pria itu berkata lirih.
Cantika bungkam. Inginnya seperti itu, jika saja tidak merasa iba dan bersalah pada Peter maka dia tidak akan ada di sini.
"Kamu cantik banget, pasti banyak laki-laki di luar sana yang mau jadi suamimu. Pasti banyak dari mereka yang akan menerima anakmu juga. Pergilah, aku gak apa-apa. Aku udah siapin mental jika memang kehidupanku akan menyedihkan."
Peter sengaja menguras perasaan perempuan itu agar merasa iba padanya. Alasannya agar pernikahan itu tetap terlaksana.
"Peter, jangan takut. Aku gak akan batalin pernikahan kita. Tapi ada satu hal yang mau aku minta darimu. Nanti setelah kita nikah, aku mau kita tidur terpisah. Maaf, itu karena aku belum siap untuk bersama laki-laki lain selain Mas Anas."
Peter berusaha menyembunyikan kekesalannya. Dia sebenarnya murka karena nama viralnya disebut. Dengan senyum palsunya dia berbicara, "Aku ngerti, jika hanya itu yang kamu mau, aku bisa kabulkan." Yang penting nikah dulu, kalo udah gitu aku punya hak sepenuhnya untuk miliki kamu.
"Makasih atas pengertian kamu. Ternyata kamu makin kesini makin dewasa. Aku suka Peter yang sekarang."
Pria itu tersenyum sumringah melihat calon pengantinnya menyunggingkan bibir. Ini baru awalnya aja, nanti lama-lama kamu akan benar-benar jatuh cinta padaku lagi, jauh lebih besar daripada sebelumnya.
"Aku suka kamu baik yang dulu, sekarang atau nanti. Kalo gitu aku pergi dulu, sampai ketemu di pelaminan."
Peter pun meninggalkan ruangan tersebut. Tidak bisa diukur bagaimana bahagianya dia karena sebentar lagi impiannya akan terwujud. Dalam waktu beberapa jam lagi, dia akan resmi menjadi suami Cantika.
**
"Makanlah!" titah Fabian pada tahanan Bosnya.
"Bagaimana aku bisa makan dalam keadaan seperti ini?" marah dan sedih.
"Harus, kamu harus makan agar punya tenaga untuk bisa kabur dan menemui istrimu!"
Anas menatapnya heran, "Apa maksudmu? Jangan meledekku seperti itu!"
"Aku tidak meledek, aku berkata serius. Kamu makan dulu sebelum keluar dari tempat ini. Aku akan bantu agar kamu bisa temui istrimu dan menggagalkan pernikahan itu."
"Caranya? Apa kamu tidak sedang mengerjaiku?"
"Kalau tidak percaya, terserah. Aku hanya ingin membantu. Dan untuk caranya, kamu tidak perlu tahu. Kamu tinggal ikuti saja permainannya."
__ADS_1
Anas memang tidak yakin sepenuhnya pada pria itu. Namun apa salahnya jika dia mencoba? Siapa tahu jika penjaga itu memang jujur. Segala kemungkinan patut dicoba.
"Baik, aku harap kamu tidak sedang bercanda." Anas segera melahap makanan itu hingga tak bersisa. Air sebotol besar pun dia tenggak hingga kosong.
Fabian menatap jam di pergelangan tangannya. "Sepertinya obat tidur itu sudah berreaksi. Anas, siap-siaplah! Saatnya kamu mendapat kebebasan."
Pria itu membuka kunci ruangan yang memisahkan Anas dari kehidupan luar. Tanpa tunggu lama, keduanya berjalan meninggalkan ruang bawah tanah itu. Menaiki anak tangga yang terhubung dengan sebuah kamar gelap. Mereka keluar dari balik lemari buku yang otomatis menutup.
"Sebentar, tunggu di sini!" Cegah Fabian sebelum mereka keluar dari ruangan itu. Matanya celingukan memperhatikan situasi.
"Ok, aman. Ayo...!" Fabian berjalan diikuti Anas.
Si pria bewok tercengang melihat dua orang penjaga tergeletak di atas lantai. Saat itu dia langsung tahu bahwa Fabian yang ada di balik itu semua. Namun itu tak jadi masalah, dia hanya fokus pada misi melarikan diri.
Mereka menuruni anak tangga lalu berjalan ke ruang tengah. Lagi-lagi beberapa orang tergeletak di atas lantai. Sepertinya nasib mereka sama seperti 2 penjaga yang di atas.
Fabian membuka pintu utama. Langkahnya yang baru satu kaki, tiba-tiba berhenti karena melihat 5 orang rekannya sedang berjaga.
"Tunggu, teman-temanku masih sadar. Kenapa mereka belum tidur? Aku yakin mereka semua meminum kopi itu sampai habis." Ucap Fabian.
"Lalu bagaimana? Apa perlu kita serang saja? Aku tidak takut menghadapi mereka semua." Ucap Anas menggebu-gebu.
"Aku tidak mau melawan teman-temanku. Bagaimanapun juga, kami pernah melewatkan suka duka bersama."
Tidak disangka, jika pria itu memang punya hati yang tulus. Pantas saja dia bersedia membantu Anas untuk melarikan diri.
Setelah menunggu beberapa menit, Fabian kembali melihat kelima rekannya.
Tanpa terduga, ada 2 orang pria yang menghampiri mereka saat melangkah sejauh 5 meter.
Astaga, kenapa mereka kemari? Harusnya mereka berjaga nanti malam. Gerutu Fabian dalam hati.
"Bian, kenapa tahanan itu bisa ada di sini?" tanya salah seorang pria.
"Jangan bilang jika kamu mau membantunya bebas." Seorang lagi menimpali.
"Bos menyuruhku memindahkan pria ini ke tempat lain. Jika tidak percaya, tanyakan saja pada Bos!" ucap Fabian.
Salah seorang mengutak-atik smartphone miliknya. Dalam 5 menit, benda itu disimpan kembali ke dalam saku celana.
"Bos tidak menjawab, pasti sedang sibuk."
"Aduh, Men. Aku kebelet mau ke kamar kecil." Salah seorang teman Fabian beranjak dari sana dengan terburu-buru. Dia masuk ke dalam villa tersebut tanpa mengindahkan kelima pria yang terkapar. Maklum saja, laki-laki yang satu itu memang agak lemot.
Pria yang tadi menelpon, kini menatap intens pada Fabian dan Anas. Rasanya ada kejanggalan yang dia tangkap.
"Kenapa tahanan itu tidak diikat tangannya?"
"Tenang saja, dia tidak akan kabur dari pengawasanku." Kilah Fabian.
Anas kini berdebar-debar. Perasaannya campur aduk. Gugup, takut dan ingin segera keluar dari tempat itu. Doa tak henti terucap di dalam benaknya. Semoga saja dia tidak terlambat untuk menghentikan pernikahan itu.
__ADS_1
"Bian, apa kamu pikir aku ini bodoh? Teman-teman kita tergeletak tak sadarkan diri. Aku tahu bahwa kamu sebenarnya ada di balik semuanya, kamu ingin membantu pria itu untuk kabur. Jika Bos tahu, maka tamatlah riwayatmu!"
Usai bicara, laki-laki itu meninju wajah Fabian. Untung saja bisa dihindari.
"Tadinya aku tidak mau duel dengan teman sendiri. Tapi apa boleh buat? Maaf..." Fabian memberi bogem mentah pada perut pria itu diselingi tendangan di bagian kaki.
"Kita tidak lagi berteman, Bian." Dia membalas memukul leher dan menendang dada hingga Fabian terjengkang.
Baku hantam pun terus berlanjut. Ketika itu si pria yang dari kamar kecil pun kembali. "Ada apa ini?"
Anas langsung menyerangnya. Memberi tinjuan pada wajah melongo pria itu. Dia terus menghadiahi laki-laki itu dengan tendangan dan pukulan bebas pada bagian yang bisa dia jangkau. Akhirnya pria itu pun kalah. Si Om Bewok kini menjelma bak pemain smack down profesional. Mungkin itu karena terpengaruh oleh amarahnya yang terpendam terlalu lama.
Sementara Fabian kini tengah terpojok. Dia terlentang lemah ketika teman duelnya bersiap menghunuskan benda kecil namun tajam ke arahnya.
"Bian, maaf. Kita memang teman tapi sudah tidak sejalan. Selamat tinggal!"
Anas segera menendang pria itu hingga terjatuh miring. Dia naik ke atas perutnya dan berusaha mengambil pisau itu.
"Sialan, beraninya kamu berbuat begini."
Anas berhasil merebut benda tersebut. Bukan untuk menyerang balik, melainkan mengamankan saja agar pria itu tidak menyerang lagi.
Fabian bangkit lalu mendekati mereka. Tanpa terduga, kakinya melayang tepat di atas wajah mantan rekannya tanpa ampun, hingga tak sadarkan diri.
"Maaf, aku bukan mau mencelakaimu. Aku terpaksa karena kamu mau menghalangi jalanku untuk berbuat baik."
Fabian dan Anas masuk ke dalam mobil. Kendaraan itu melaju kencang dalam kendali si penjaga baik hati. Mereka tidak boleh terlambat sampai ke hotel tempat pernikahan Peter digelar.
**
Cantika menyeret kakinya yang begitu berat. Wanita itu tidak dapat menyembunyikan kesedihannya. Sedangkan sang calon pengantin pria tengah duduk menunggunya dengan sedikit tidak sabar.
Pikiran Cantika berputar pada setahun lalu. Keadaannya sedikit sama saat akan menikah dengan Anas. Merasa terpaksa dan sedih. Bedanya adalah kali ini ekspresi wajahnya begitu sendu, sedangkan waktu itu sangat masam.
Maaf, Mas. Aku terpaksa nikah sama Peter. Tapi aku janji, gak akan ada yang bisa gantiin posisi kamu di hatiku.
Langkahnya terhenti, air mata itu kembali tumpah. Beberapa orang berbisik-bisik memperhatikan gerak-geriknya.
"Kak, yang sabar!" bisik Riri yang menggandengnya di sebelah kanan.
"Cantika, Mama juga tidak suka dengan pernikahan ini. Jika bisa, Mama akan bantu kamu membatalkannya." Bu Sofi menimpali.
Tanpa terduga, Nyonya Arata menghampiri dan menarik tangan calon menantunya. "Jika kamu tidak mau saya seret ke pelaminan, maka saya akan seret kamu ke dalam penjara." Tentu saja perkataan itu dikeluarkan secara pelan dengan ekspresi tersenyum.
Bu Sofi dan Riri menatapnya geram. Cantika menunduk sambil mengusap wajahnya. Akhirnya sang calon mempelai wanita pun dituntun oleh sang calon mertua.
Peter menatap wanita yang kini duduk di sebelahnya dengan kagum. Meskipun wajah Cantika agak sembab tapi tidak menutupi kecantikannya.
"Kamu yakin mau meneruskan ini?" tanya pria itu.
Cantika hanya menganggukkan kepalanya pelan. Peter tertawa dalam hati, akhirnya sebentar lagi tujuannya tercapai.
__ADS_1